Sabtu, 19 April 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 19 April 2014 | 09:13 WIB
Jalan Panjang Menjadi Jurnalis
Kamis, 23 Mei 2013 | 20:12 WIB
Dibaca:
|
Share:

Oleh Suhairi Rachmad*
Judul Buku  : Tidur Berbantal Koran : Kisah Inspiratif Seorang Penjual Koran Menjadi Wartawan
Penulis  : N. Mursidi
Penerbit  : PT Elex Media Komputindo
Cetakan : Pertama, 2013
Tebal  : xiv + 243 halaman
ISBN  : 978-602-02-0594-6

Karya sastra adalah hasil sebuah perenungan yang mendalam dari seorang pengarang dengan media bahasa. Pengarang menuangkan pikiran, perasaan, pengalaman, ide-ide, dan semangat keyakinan dan kepercayaannya yang diekspresikan ke dalam sebuah karya sastra. Karya sastra mampu memberikan kesadaran dan pengalaman batin bagi pembacanya.

Menurut Sumardjo dan Saini (1991:10), pengalaman manusia merupakan akumulasi yang utuh karena meliputi kegiatan pikiran, nalar, kegiatan perasaan, dan khayal. Kenyataan adalah sesuatu yang dapat merangsang atau menyentuh kesadaran manusia, baik yang ada dalam dirinya, maupun yang ada di luar dirinya.

Buku Tidur Berbantal Koran: Kisah Inspiratif Seorang Penjual Koran Menjadi Wartawan karya N. Mursidi ini merupakan kisah nyata penulis menjalani pahit-manisnya kehidupan. Berdasarkan judul buku tersebut, pembaca pasti dapat menyangka alur cerita dalam buku ini. Kisah seorang penjual koran yang mampu meraih profesi sebagai wartawan.

Keunggulan memoar ini bukan sekedar bagaimana tokoh aku dalam buku ini berjuang hingga menjadi seorang wartawan, tetapi bagaimana proses berliku yang harus dilalui hingga mencapai puncak karir. Seorang yang sukses bukan diukur berapa kali ia jatuh, tetapi seberapa banyak ia bangkit. Hal ini juga diamini N. Mursidi, sebagaimana termaktub dalam pernyataannya,”Tanpa dihimpit oleh cobaan, aku mungkin tidak akan pernah menjadi penulis.”

Mulanya, N. Mursidi diharapkan menjadi penerus kedua orang tuanya untuk berjualan kain di pasar tradisional. Sebagai seorang generasi yang memiliki alur pemikiran progresif, ia melanjutkan kuliah ke Yogyakarta. Ironi, ketika ia harus hidup sebagai anak jalanan setelah kondisi ekonomi orang tuanya tidak mampu menopang kehidupannya di kampus. Satu-satunya jalan yang harus ia tempuh adalah berjualan koran.

Mengapa tidak? Sebagai mahasiswa baru, ia tidak memiliki banyak bekal yang dibawa dari rumah. Hari ketiga setelah pelaksanaan masa orientasi mahasiswa baru, uang sakunya habis. Inilah cobaan pertama dirasakan setelah beberapa hari menjadi mahasiswa baru. Yang lebih menyakitkan, sebuah telepon dari kampung mengabarkan bahwa ayahnya sakit dan harus dibawa ke rumah sakit (hal. 40-42).

Inilah awal mula yang meneguhkan hatinya untuk mencari uang saku tanpa mengandalkan kiriman dari orang tua. Berkat tawaran Budi, tokoh aku mengamini pekerjaan menjadi loper koran. Sejak saat itulah ia mengenal kerasnya kehidupan di Yogyakarta. Ia mulai berkenalan dengan pengamen, penjual permen, pencopet, pemalak, dan sejenisnya.

Akibat sering bolos kuliah dan tidak mampu membayar SPP, ia memilih drop out dari kampus. Pilihan yang sangat menyakitkan. Sebagai seorang yang bijak, ia tidak akan berhenti belajar dari kehidupan dan kenyataan. Jalanan merupakan kampus kedua baginya yang mengajarkan arti kehidupan yang sesungguhnya.

Aktivitasnya sebagai loper koran membuatnya keranjingan membaca. Sejak saat itulah ia mulai berinisiatif menulis resensi buku, opini, dan cerpen. Maka, untuk menambah gizi bacaan, sehabis berjualan koran ia tidak langsung pulang ke kosan, melainkan ke perpustakaan daerah di Malioboro dan di daerah Tentara Rakyat Mataram. Di sanalah ia mengenal pengarang novel Ahmad Tohari, Arswendo, Romo Mangun, sampai pengarang dunia Anton Chekov (hal. 64-65).

Selama tiga bulan, berpuluh-puluh cerpen telah selesai ditulis. Berbagai media massa menjadi target pemuatannya seperti Jawa Pos, Suara Merdeka, Bernas, Solo Pos, Minggu Pagi, dan Kedaulatan Rakyat. Namun, tak satu cerpen pun yang menarik perhatian redaktur. Semua cerpen yang ia kirim hanya menjadi penghuni tong sampah.

Tokoh aku, yang memiliki semangat baja mulai berusaha menambah bekal pengetahuannya seputar dunia cerpen. Ia mendatangi Shopping Center (pusat buku murah di dekat Malioboro, Yogyakarta) untuk mencari Catatan Kecil Menulis Cerpen karya Jacob Sumardjo,  buku kumpulan puisi A. Mustafa Bisri, dan Emha Ainun Najib (hal. 92-93).

Merasa belum ada yang dilirik redaktur cerpen, ia berubah menjadi seorang fotografer. Kali ini ia sedikit bernasib baik. Bidikan kameranya berjudul ‘Menerobos Mara Bahaya’ dimuat di harian Kedaulatan Rakyat. Melihat hal itu, semangat kepenulisannya kembali membuncah. Kali ini, ia memiliki target agar cerpennya dimuat di media massa.

Tokoh aku yang melanjutkan studinya di IAIN ini kembali bergelut dengan dunia kampus. Bahkan, beasiswa dari kampus dibuat untuk membeli komputer. Kondisi ini membuatnya semakin produktif. Apalagi, sejak perkenalannya dengan beberapa peresensi, naskah resensi N. Mursidi semakin sering dijumpai di media massa seperti harian Republika, Majalah Forum Keadilan, Majalah Gemma, Majalah Tempo, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, The Jakarta Post, Jawa Pos, dan Kompas.

Lulus kuliah kembali membuatnya gelisah. Bergantung hidup kepada orang tua tidak mungkin.  Satu-satunya cara yang dilakukan adalah jualan buku sambil menulis di media massa. Sejumlah tulisannya dimuat di beberapa media. Bahkan, hal itulah yang membuatnya berpeluang untuk menjadi wartawan di Jakarta. Herry, temannya, menghubungi tokoh aku dan mengabari bahwa ada lowongan wartawan.

Impian untuk meraih profesi wartawan kini diambang pintu. Setelah bertemu dengan pimpinan redaksi dan menjalani beberapa proses, tokoh aku mulai bekerja menjadi seorang wartawan di Jakarta. Inilah buah manis yang patut dinikmati oleh seorang pejuang benama N.Mursidi. Sungguh inspiratif !

*Diresensi Suhairi Rachmad, Alumnus Universitas Jember. Kini bekerja sebagai guru di Madrasah Aliyah Mambaul Ulum Ganding Sumenep.

Editor :
Jodhi Yudono