Kamis, 17 April 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 17 April 2014 | 04:43 WIB
Integritas Sekolah bagi Kaum Miskin
Selasa, 21 Mei 2013 | 18:59 WIB
Dibaca:
|
Share:

Judul Buku : Sekolah untuk Kaum Miskin
Penulis : James Tooley
Penerbit : PT Pustaka Alvabet
Tahun Terbit : Februari, 2013
Tebal Buku : ix + 476 halaman
Harga : Rp. 69.900,00
Peresensi : Nursodik El Hadee

Pendidikan selama ini masih menyita perhatian belahan dunia.  Berita tentang ketimpangan akses pendidikan seakan merambah dunia pendidikan kita.  Pendidikan yang bermutu hanyalah milik kaum kaya, kaum miskin tidak memiliki hak sama dalam mengenyam pendidikan yang bermutu.
Laporan penelitian sang professor dari kota kumuh terbesar di Afrika menyatakan bahwa kaum miskin tidak harus menunggu anggaran biaya sedekah pendidikan dari negara. Perihal ketidakpuasan masyarakat terhadap situasi pendidikan yang mengalami kerancuan. Masyarakat yang begitu membutuhkan dunia pendidikan, terpaksa terkatung-katung dalam jebakan kapitalisme pendidikan. Jangankan mengakses pendidikan berkualitas, sekadar masuk ke sekolah regular negeri dengan standar minimal, rakyat harus berjuang dengan cucuran keringat.

Potret wajah pendidikan kaum miskin dibangkitkan dengan luar biasa oleh James Tooley. Dalam buku sekolah untuk Kaum miskin ini mendalam mengenai realitas kehidupan kaum dari titik nadir pendidikan berkembang  ke ranah pendidikan yang layak. Pandangan Tooley mengenai sekolah miskin bahwa porsi untuk kaum miskin adalah sekolah gratis, yang kurang layak. Kesadaran kaum miskin di beberapa negara menunjukkan arus gelombang dan kebangkitan orang miskin sangat tinggi untuk mencerdaskan anak-anak mereka tanpa bantuan negara.

Di mana James Tooley  mengungkapkan di berbagai negara bahwa Sekolah-sekolah tampil dengan penuh angkuh dan hidup dari kebohongan, dibangun di atas puing-puing keserakahan. Semangat kapitalisme terus menggejala untuk mengeruk banyak uang tanpa memperhatikan unsur substansi pendidikan. Sekolah negeri tidak memenuhi standar. Guru-guru tidak hadir, dan kalau pun hadir, mereka jarang mengajar  (hal 28-32).

Hasil ekspedisi Tooley mengungkapkan kebenaran yang belum pernah ditemukan; sekolah swasta untuk kaum miskin di daeerah kumuh Nigeria, dan beberapa daerah lain di India, Ghana, dan pelosok China. Penelitian tersebut menunjukkan kenyataan bahwa di kawasan kumuh perkotaan, dan di pedesaan sekitar kota-kota metropolitan, sekolah swasta lebih banyak dibandingkan sekolah negeri. Menjadi ironi ketika pendidikan murah tersebit justru dihambat oleh pemerintah dengan alasan eksploitasi kaum miskin. Padahal, motivasi mendirikan sekolah tidak berdasarkan kepentingan bisnis semata. Para pemilik sekolah swasta murah bekerja sosial menyediakan filantropi dengan semangat swasembada pendidikan. (hal. 121)

Semakin mahalnya biaya pendidikan, justru membuat rakyat putus asa untuk terjun menghilangkan kebodohan. Petualang menakjubkan yang dilakukan Tooley memperoleh kesimpulan bahwa mahalnya pendidikan di pelbagai penjuru dunia telah mempersempit kesempatan belajar bagi anak berlatar belakang keluarga berekonomi rendah. Meski mereka berprestasi, namun tidak berani mendaftar di sekolah (hlm 281-283).

Buku dari seorang Professor ini membawa kita pada pemikiran bahwa membangun sektor pendidikan tidak hanya bertumpu pada monopoli pemerintah atau sekolah-sekolah negeri. Semua pihak mempunyai peran dalam mamajukan sektor pendidikan. Peningkatan sumber daya manusia yang tinggi akan membuat negeri menjadi sejahtera, adil, dan berdaulat.

Membaca buku setebal 476 halaman ini, seakan membangunkan asa dan semangat pembelajaran sekolah kaum miskin, bahwa kaum miskin juga berhak mengenyam pendidikan sekolah yang bermutu. Tidak harus mahal dengan sekolah yang dibangun dengan integritas semangat pembelajaran sejati, dikalangan guru, siswa, dan orangtua murid akan mewujdkan reorientasi pendidikan untuk investasi masa depan. 

Editor :
Jodhi Yudono