Rabu, 23 April 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 April 2014 | 14:46 WIB
Puisi-puisi Nur Aida Maulidia
Selasa, 7 Mei 2013 | 02:12 WIB
Dibaca:
|
Share:

iitstudymaterial.blogspot.com
Ilustrasi

Keluarga Fai
/I/
Fai, aku mau sepatu yang kuning..
yang tinggal sebelah itu loh... tak apalah tinggal sebelah, itu tanda bahwa ia berani dengan langkahnya sendiri. bukan anti sosial, Fai..
Ia mandiri. Fai, beri aku sepatu kuningnya ya?, nanti aku gambari kumbang di sepatunya. biar bisa terbang, Fai.. ya, biar bisa terbang. nanti bolehlah kau ikut bersamaku dengan sepatu kuning itu. berselancar kemana pun yang kamu mau. Menemui Tuhan muangkin...
/II/
yaah.. kau ini bagaimana Fai... kau sendiri yang menyisakan sepatu kuning itu untukku. siap-siap ya,sebentar lagi kita akan membangunkan naga itu..
setelah itu aku akan menyusup pula dalam seratus sepatu kuningmu yang menyusupi rak di kepalamu. yaa...aku saling menyusupi. tak usah heran jika aku akan selalu berputar-putar memenuhi tubuhmu. perlu kau tau aku penyusup, Fai...
/III /
kalau aku tak sibuk, kata-kata tengah sibuk. maka kami harus menunggu waktu yg juga tak sibuk. dan nyatanya kata-kata pun tak mau aku seriusi. Ia lebih senang jadi mainanku. biarlah ia jadi mainan yang aku seriusi. ssstt...jangan bilang kata-kata ya kalau sebenarnya aku serius... sebab jika ia tau,ia tak akan mau lagi bermain denganku...
/IV/

jangan kejar aku,waktu. kau boleh ikuti aku tapi jangan kejar aku. sebab aku pun ingin mengejarmu.ayolah, beri aku kesempatan mengejarmu. apa kau tak ingin mencoba melewati satu per satu jalan yang bercabang itu ? seperti yang aku lakukan sekarang?
jangan kejar aku,waktu. biar aku yang mengejarmu.

M i n o r
/1/
Panggil saja minor, ya! Namanya minor. Wanita yang berpayungkan bianglala itu sedikit berbeda dari biasanya. Menjadi lebih apatis dan tidak peduli dengan lingkungannya. Minor seperti hidup dengan imajinya sendiri. Dengan segala teka-teki yang kemudian dipecahkannya sendiri. Ada kasak kusuk yang menyebutkan bahwa minor adalah seorang introvert. Dan minor tidak pernah peduli. Sebab lingkungannya pun juga begitu. Tidak ada yang tau minor adalah cucu nini anteh keturunan kerajaan bulan. Ya,nini anteh yang tinggal di bulan bersama kucing hitamnya. Dan tahukah kau? Pagi tadi nini anteh meninggal tertusuk.jarum saat tengah menyulam. Jenazah nini anteh terjebak di bulan. Dalam dimensi waktu yang berbeda,si hitam kucing nini anteh menelepon minor mengabari kabar duka yang tengah terjadi. Minor bingung,lalu menangis sekencang-kencangnya,dan seperti biasa,tak ada yang peduli. Minor masih menggenggam bianglalanya itu,ia berputar,terus berputar,terus berputar,Haaaaap! Ia sampai di bulan. Melihat nini anteh yang layu juga si hitam yang terus mengeong sedih. Minor pergi dari bumi. Tak yang tau,sebab tak ada yang peduli. Apatisatau apalah namanya. Setidaknya kali ini ia tidak lagi hidup berdua bersama imajinya,tetapi juga si hitam yang ia harap masih peduli padanya. Ya,minor,itulah minor,wanita yang berpayungkan bianglala       19 maret 2013
/2/
Dan minor tak pernah merasa dirangkul. Minor, minor, kasihan sekali kau. Untunglah sekarang kau menemukan kebangkitanmu yang baru. Biarkan saja mereka yang kerjanya ngomel tak karuan merasa paling benar,merasa sudah merangkul kau,tapi kau yg introvert. Biarkan saja minor, kau sudah dewasa,pilihan di tanganmu,dan apatis memang benar-benar perlu saat kau merasa ada benalu yang menempeli tubuhmu.

Dan minor pun tertawa sekencangnya, sebab ada seperdelapan sayap kupu-kupu yang menempeli tubuhnya. Minor membatin," hai kepompong, selamat tinggal. Maaf kita akan berbeda dimensi. Aku telah menemukan kebangkitanku, selamat tinggal kepompong,ya sebentar lagi aku akan meninggalkanmu, sebab kau pun tak peduli"
Fai, ini masih tentang minor. minor ingin ganti nama. dan ia meminta bantuanku untuk memilih nama yang tepat untuknya. kalau aku beri nama rahasita bagaimana? ya rahasita saja biar namanya mirip dengan kucing hitam nini anteh, rahasima.

Fai, gawat!! rahasima tak mau namanya sama dengan minor. rahasima dan rahasita bertengkar,Fai. dan sayang sekali,payung bianglala rahasita tertinggal di bumi. ya, payung ajaib itu tertinggal.
Fai, Rahasita mati!! ya Mati Fai. bagaimana ini? Rahasita terjebak di bulan. atau mungkin aku suruh rahasima mencakar buan hingga sobek dan melempar rahasita ke bumi? ahhh... kasian rahasita Fai. Ingat ini rahasia kita berdua fai tentang kematian rahasita. aku masih berpikir keras untuk mengeluarkan rahasita dari bulan.

-selesai-

Kebun Angka
/1/
dan ini benar-benar terjadi. ya terjadi. kemarin. iya, kemarin. saat quiz Kalkulus II, saat aku tengah bergelut dengan angka, yang benar-benar tak pasti nilainya. aku mencoba menerka, 5 jariku yang menari bersama sang pena. menerka ya walau tak pasti hasilnya. bilangan natural, tak hingga, L'Hopital, atau entah apalah itu namanya yang sepertinya juga tak peduli padaku.
Lalu aku karang semua hasilnya, dan tiba-tiba, kau tau? 3 jari kananku hilang, tinggal ibu jari dan telunjuk yang masih menari degan pena itu. aku bingung, 3 jariku masuk ke dalam lembar jawaban. bagaimana ini? aku tengok lembar jawaban untuk mengorek ketiga jariku. tapi yang terjadi malah kepalaku juga masuk ke dalam lembar jawaban. ahh, menyebalkan! kalau begini caranya, bagaimana aku bisa mengumpukan lembar jawaban ini?
lalu perlahan aku lenggokkan tubuhku di atas lembar jawaban untuk menarik kepala dan ketiga jari kananku, tapi... Ahh sial !! tubuhku juga tertarik ke dalam lembar jawaban. hanya kedua jari kanan dan penaku yang tetap menari.
dalam lembar jawaban aku terperangkap di kebun angka, angka yang aku karang tadi. dan ini lucu sekali. aku bertemu dengan makhluk setengah angka. yang berbadan manusia dan berkepala angka. ada ikan yang berekor tak hingga dan bebas berenang di udara. dan yang mengagetkan adalah aku bertemu rahasita. iya! yang sudah mati itu. dia berkepala payung bianglala, berkumis seperti rahasima dan bermotif angka. entah aku harus tertawa atau mungkin harus menangis sampai di kebun angka ini. rahasita berbahasa angka. aku tak mengerti. aku ingin kembali, untuk mengumpulkan lembar jawaban tadi,tak mungkin hanya 2 jariku yang mengumpulkannya. Ahh sial, aku terjebak !!
/2/
aku benci terjebak, sebab ada misi bersama kehidupan yang belum aku selesaikan. Kau ingin tau misinya? Maaf ini rahasia. Hidupku penuh kerahasiaan,aku tak mau ada yang tau biar aku,kehidupan,dan Pengintai saja yang tau. Begitu pun jawaban quiz kalkulus tadi, rahasia!! Aku masih di kebun angka. Ada pohon-pohon yang bisa mengintegralkan apa saja. Ya, apa saja. Aku juga bisa diintegralkan. Tapi aku tak mau, sebab aku masih ingin kembali ke duniaku. Sekali lagi aku tak suka terjebak.

Lalu aku duduk di pinggir sungai, yang didalamnya berenang macan bermotif kotak-kotak warna hijau berkepala koala, dan berkaki seperti angka dua. Lucu sekali, sedikit menyeramkan memang. Ia berbicara tak karuan,dan aku sedikit enggan mendengarkannya. Perlahan aku mendengar kata-kata yang semburat dari mulutnya. Hah? Ia bilang didalam darahku ada 4 integral dan 4 fungsi yang tersangkut ingin keluar. Lalu mengalir juga dengan deras kata-kata aneh yang macan itu sendiri tidak mengerti. Ia akan membantuku mengeluarkan integral itu. Macan itu pintar sekali.
Kami berkenalan. Ya, aku bersalaman dengan kakinya yang berangka dua itu. “namaku Aihara, Tsuya Faihara, aku dari tempat yang jauh sekali dan aku yakin kau tak tau tempatnya, rumahku berbahan kata-kata yang padat sekali beratap segi banyak dan pelana tanpa kuda-kuda. Ya, pelana tanpa kuda-kuda. Sebab kuda-kudanya lari entah kemana meninggalkan pelananya”,kataku. “namaku thedore, diferensial thedore. Rumahku di sungai ini. Dan asal kau tau, di sungai ini banyak kaki berbentuk angka, banyak kepala yang berenang. Sehingga aku bisa mengganti kaki dan kepala kapan pun aku mau,” katanya. Aku tertegun, ya, ia bisa berganti kepala dan kaki kapan pun ia mau. Lalu kenapa aku tidak bisa? Aku ingin berkepala kata-kata dan berkaki seperti tanda seru atau mungkin tanda Tanya. Bagaimana menurutmu, keadaan?

Biodata:
Nur Aida Maulidia, kelahiran Sampang 27 Agustus 1994.  menulis puisi sejak bangku Sekolah Dasar. Juara I Loba Cipta Puisi se Jatim – Universitas Islam Malang (2011). Bergiat di Rumah Tulis Baca “Na’ Bangsa” . Saat ini menjadi mahasiswa Teknologi Lingkungan  di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Alamat Rumah:  Jalan Dewi Sartika IX/12 Bumi Sumekar Asri – Sumenep 69417.

Editor :
Jodhi Yudono