Rabu, 22 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 22 Oktober 2014 | 06:59 WIB
Jaka Tarub Gaul: Pergolakan dan Konflik Budaya
Selasa, 7 Mei 2013 | 02:07 WIB
Dibaca:
|
Share:

Komunitas Sastra Ranngon
Pementasan Jaka Tarub

JAKARTA, KOMPAS.com--Jaka Tarub mengendap-endap di antara semak belukar untuk mengintip tujuh bidadari dari khayangan yang sedang mandi di sebuah telaga. Tanpa sepengetahuan mereka, pemburu dari Desa Tarub di lereng Gunung Keramat ini mengambil selembar selendang milik salah satu bidadari. Ketika acara berbasuh di telaga usai, satu persatu bidadari kembali ke khayangan. Tinggallah satu bidadari yang tersisa karena selendang miliknya tak ditemukan. Ia bingung ke mana harus mencari selendang yang membuatnya bisa kembali ke alamnya.

Jaka Tarub datang mengulurkan bantuan hingga akhirnya mereka menjadi sepasang suami isteri dengan seorang bayi sebagai buah cintanya. Segala kesaktian Nawang Wulan, bidadari naas yang kehilangan selendang itu, membuat Jaka Tarub makin cinta. Pantangan tidak  membuka penanak nasi ia langgar yang membuat Nawang Wulan harus menanak sejumput beras, bukan sebutir padi seperti saat kesaktian masih melekat pada dirinya.

Tapi, jangan bayangkan Jaka Tarub yang satu ini layaknya seorang pemburu dari desa yang terpencil. Jangan pula bayangkan Nawang Wulan berkebaya atau berjarik. Jaka Tarub dalam pementasan teater berjudul “Jaka Tarub” ini tak ubahnya anak punk zaman sekarang. Sepatu boot, kuping beranting, potongan rambut ala Mohawk dan ikat pinggang berantai adalah identitas terbaru Jaka Tarub dalam pementasan ini. Pun Nawang Wulan yang berdandan ala lady rocker masa kini dengan busana serba ketat.

Lakon Jaka Tarub Gaul ini dipentaskan berdasarkan naskah drama berjudul Jaka Tarub yang memenangi sayembara penulisan naskah drama versi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 1974. Kisah ini memang berbeda dibandingkan dengan kisah Jaka Tarub yang dituturkan dalam tradisi lisan masyarakat Jawa. “Kita memang berangkat dari naskah Akhudiat dengan pendekatan kekinian,” kata Musalam Firman, sutradara pentas Jaka Tarub yang dimainkan oleh Komunitas Sastra Ranggon. Lakon ini dimainkan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, 30 April 2013.

Sebagaimana naskah Akhudiat, banyak kekonyolan dalam lakon Jaka Tarub Gaul ini seperti Nawang Wulan memperkosa Jaka Tarub bersama enam bidadari yang lain. Di babak kedua, ada tokoh Macan yang mengenalkan Nawang Wulan dengan produser  film mata keranjang yang terpincut oleh kemolekan bodi Nawang Wulan. Dia sukses menjadi artis dengan film-film laris setelah tidur bersama sang produser. Sosoknya menjadi santapan empuk tayangan gosip infotainment soal keintimannya dengan sang produser.

Berbeda dengan pementasan Akhudiat, lakon yang dimainkan Komunitas Sastra Ranggon ini mengusung konsep terbaru yang memadukan teater dan multimedia. Sukses Nawang Wulan menjadi artis dan segala gosip yang membelitnya ditampilkan dalam tayangan slide di bagian belakang panggung. Kejaran para awak infotainment dalam wawancara dengan Nawang Wulan ditampilkan utuh layaknya tayangan gosip di televisi masa kini. Nawang Wulan pun menjelma dari seorang bidadari khayangan menjadi bidadari industri hiburan.

Namun, pementasan ini tetap berpegang pada pakem yang ditulis Akhudiat yakni dengan menggunakan dalang sebagai pemandu alur cerita. Dalang yang membangunkan Jaka Tarub dan Nawang Wulan dari museum tetap memegang kendali pementasan dari awal hingga lakon ini berakhir. Di sinilah konflik dan benturan budaya yang harus dipertahankan oleh sang Dalang dengan budaya baru yang ngepop yang menjadi gaya hidup Jaka Tarub dan Nawang Wulan di masa kini.

Firman Musalam, sutradara Jaka Tarub cukup lihai meramu perpaduan antara permainan teater murni dan multimedia. Begitu juga dengan Jaka Tarub (Restu) dan Nawang Wulang (Irma) yang cukup menghayati peran sebagai artis masa kini. Pementasan ini diadakan untuk memperingatai ulang tahun keempat Komunitas Sastra Ranggon yang digerakkan oleh para mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indraprasta PGRI Jakarta.  Pementasan teater ini melibatkan 35 orang pemain dengan rata-rata usia 20-an tahun. Sebuah potensi besar di dunia teater Indonesia telah lahir. *)

Editor :
Jodhi Yudono