Rabu, 22 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 22 Oktober 2014 | 19:11 WIB
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP
Jumat, 3 Mei 2013 | 00:54 WIB
Dibaca:
|
Share:

stuffpoint.com

DI STASIUN BOGOR KITA BERTEMU
-         Sulas Awa

di stasiun bogor kita bertemu meretas rindu, berlapis-lapis janji penuh debu
selalu saja kita saling tengkar, dalam amarah engkau ke luar stasiun
enyah entah ke mana sepertinya tak mau lagi bertemu; bangku peron bergetar
ke stasiun kota aku, dalam commuter line sepasang kekasih berpeluk di hadapanku
amat keterlaluan, tak tahu retas hatiku
aku mabuk dan terlelap

aku jadi penumpang turun paling akhir, tubuhku seringan kapas
nyangkut di angkot lalu terlunta di itc mangga dua, naik eskalator ke lantai tujuh
aku menyantap sop buntut dan iga bakar, teh-botol juga gado-gado
aku bernafas lagi, segar dan dari lantai tujuh aku menuruni tangga demi tangga
mengikuti suara hati kuseret langkahku; benarkah masih ada cinta sejati?

aku tersasar ke bawah monas, stasiun gambir, tanah abang, blok m, bahkan sampai
ke tanjung priok; tapi setelah perutku benar-benar lapar dan larut malam
terjungkal aku di stasiun kota, sudah tak ada lagi commuter
aku terbujur di lapak kaki-lima yang kotor, hingga pagi antara tidur dan tidak

seorang gelandangan yang bermalam di lapak lain tidak berapa jauh dariku
menendang kakiku seolah membangunkan dan mengusirku, aku tersintak
jakarta sudah mulai menggeliat, bau pesing dan bau got mengepungku
aku berdiri di depan loket, dan akulah orang pertama yang membeli karcis
commuter kota-bogor, dan aku jugalah orang pertama yang naik, tapi bukan
ternyata bukan aku orang pertama, seseorang yang kusebut ‘engkau’ sudah
berada dalam commuter, kita; aku dan ‘engkau’ sama membuang muka
sejumlah orang mulai berdatangan juga, kian ramai, ketika commuter jalan
kulihat ‘engkau’ terhuyung pindah ke gerbong lain, aku mabuk dan terlelap

seorang petugas berseragam biru menendang kakiku, membangunkan dan
mengusirku, aku turun dari commuter; aku ke luar stasiun hendak enyah
entah ke mana, menyeret langkah mengikuti suara hati
benarkah masih ada kehidupan yang sejati? seperti yang pernah dikatakan
almarhum ayahku:
“menanam kebaikan memetik kebaikan, menanam keburukan menuai keburukan”
tapi belum begitu jauh kutinggalkan stasiun, seseorang yang kusebut ‘engkau’
meringkus-menyeretku ke dalam sebuah rumah-tua-rusak yang kosong
dari semak-belukar yang tumbuh di belakang rumah tua itu, seseorang
berjubah kuning-keemasan bersorot-mata kemilau muncul; dan menghardik
:“hai, tuan! menyerahlah di kedalaman cintanya, ia-lah perempuan jelmaan

dari telaga dewi asal tumbuh edelweis yang kausimpan dalam hati dan jiwamu!”

aku tergeragap; seseorang berjubah itu menghilang; seseorang yang kusebut ‘engkau’
menubrukku, memelukku begitu erat!
hatiku hancur, aku jadi teringat pesan ibuku sebelum kutinggalkan ranah minang
berpuluh tahun lalu: “muliakanlah perempuan yang mencintamu, selamanya!”

aku pun memeluknya sangat erat, kuharap hatinya tak lebur.

Bogor, 18 Maret 2013.

SI PENYAIR MALIN

bocah itu berguling di pasir laut, lidah ombak menelannya
ia terus berguling, ibunya menjerit cemas, menariknya ke pasir pantai
“malin cepatlah besar, ranah rantau menantimu”

si malin lajang merantau juga akhirnya; terbang dari bandara minangkabau
di tanah jawa malin tidaklah berdagang, tapi bertualang, menggelandang
memburu kata-kata di seluruh kawasan kumuh jakarta dan ngamen
dari stasiun ke stasiun dari terminal ke terminal, dari pagi hingga malam

pagi hingga malam sang ibu mendoakan malin;
“sukseslah dan cepatlah pulang, anakku!”

bertahun-tahun kemudian pulang juga akhirnya malin; mengeluarkan ribuan
cabikan kertas dari koper besar di hadapan sang ibu yang kian renta
dipeluknya malin oleh ibunya, berderai airmata keduanya
“kertas-kertas apa yang kaubawa ini, malin?” tanya ibunya menyeka airmata
dengan lantang malin menjawab;
“bunda, ini hasil banting-tulangku: beribu-ribu puisi!”

bercucuran air-mata bunda malin!

Bogor, 13 Maret 2013.

TENGGELAM AKU DI HATINYA

aku tak mungkin menantang matahari mataku akan rabun
atau mungkin juga buta, maka aku menekur, dan nyanyi tekukur
dari atas pohon mahoni meningkahi langkah lari-kecilku yang telanjang
menuruni lembah, di tikungan paling akhir
menjelang sampai di sisi danau, seorang perempuan membuang daun-resahnya
resahnya itu berserak bertumpang-tindih dengan dedaunan mahoni yang mengering
beberapa saat kita bersitatap; kaukah perempuan yang menghabiskan hari-hari
di sisi danau dan pernah menjalin puisi surealis denganku?
kau mematung, padahal aku tidak menghendaki lahirnya monolog basi
atau mari kita terjun saja lagi ke dalam danau ini
perempuan itu menggeleng, membuka mulutnya

“aku memang penjaga danau ini, tapi barangkali bukan perempuan yang kauhendaki,”

matanya menyala kian menyala

dengan seribu debar  aku tinggalkan perempuan itu

“sabar tuan penyair, ada hal penting yang mungkin perlu kita bicarakan”
reflek aku menoleh; “kau tak paham sejarah cintaku begitu penuh debu dan sembilu,”
matanya meredup kian meredup
“tak usahlah terjuni danau, selami dan berenanglah dalam hatiku, tuan penyair,”
dengan penuh rasa curiga aku pun terjun dan berenang dalam hatinya
: aku terbentur bebatuan licin-runcing, angin mengentalkan kabut
hatinya ternyata penuh ranjau, di sana sini duri dan miang
air danau mengeruh kian keruh, segalanya menakutkan
aku tak bisa melihat dan menemukan jalan ke luar
tenggelam aku di hatinya.

Bogor, 12 Maret 2013

TUBUHMU MELAYANG KE ATAS LANGIT SUREALIS

rembang petang perjalanan segera dihentikan
aku melihat tubuhmu melayang ke atas langit surealis
dalam zikir aku begitu kecil dan tak berguna
aku seperti lebih kecil dari sebutir debu
yang terkapar

sekali waktu boleh aku mengenalimu dengan kacamata batinku?
mungkin tubuhmu adalah mahacahaya dan rambutmu bergerai sewangi melati
suaramu tak terdengar namun kata-katamu merasuk ke dalam darahku
elusan tanganmu tak terasa tapi menidurkanku dari resah menyala
lebih setengah mati aku merindukan pertemuan denganmu

sekali waktu izinkan aku berlama-lama bercengkerama denganmu
seraya membolak-balik seluruh halaman puisi yang mentah
dengan hidangan kue tar dan minuman air dari sungai yang mengalir
di bawah rumahmu; sangatlah takjub seandainya aku benar bertemu denganmu
sekali waktu aku ingin juga bersetubuh denganmu!

Bogor, 12 Maret 2013

SAYAP KUPU-KUPU DI MEJA TAMU

kutemukan beberapa lembar sayap kupu-kupu di meja tamu
“ini hari minggu, kenapa tidak bepergian?” entah suara siapa
selembar sayap kupu-kupu menjelma sungai kenangan
: bening lembah anai mengalirkan ribuan air-cahaya
kita mandi-mandi, berselonjor di batu-batu yang licin
di perdu dan belantara kita dendangkan ratap
setelah itu hangatkan tubuh dengan kopi-susu

: telaga dewi di sekitarnya tumbuh edelweis
kita perebutkan, beberapa kali nafasmu tersengal
“jangan kauremas jadi puisi ini edelweis!” pintamu
aku mengangguk tapi edelweis kukunyah-kunyah juga
aku telan dan sungguh aku mual; aku muntah puisi
: jenjang empat puluh empat kita turuni
nasi kapau dan keripik sanjai di tangan 

dari pasar bawah kita melihat jam gadang
sudah pukul enam, segera ke padang
bergumul dengan berita dan tajuk rencana

sungai kenangan terus saja mengalir
entah ke mana-mana, hingga sampai juga
kulihat lagi beberapa lembar sayap kupu-kupu
di meja tamu; perlahan menyatu menyerupai wajahmu.

Bogor, 10 Maret 2013

PERTENGKARAN DENGAN SUNYI
-Sulastri)

sepagi ini di ruang lobby
pertengkaran dengan sunyi memaksaku
beranjak ke kamar
ternyata lebih nikmat bercakap dengan cooling body spray
dengan citra lasting white, gatsby water gloss soft, caladine powder
analgesic balm counterpain, inspiring lychee lemon mizone, danone aqua
atau bahkan dengan selembar puisi yang sangat lusuh

(engkau pernah bertemu dengan seseorang yang matanya buta
mencari kekasih yang ingkar janji?
berjalan seraya terus menggumamkan sebuah nama)

aku jadi sangat ingat seseorang bermata sayu
perempuan yang menyulam perih di sisi sebuah danau
seraya bergumam apa saja tentang mantan kekasihnya yang ingkar janji
dan di penghujung senja selalu saja ia berteriak kepadaku

“tuan penyair, abadikan seluruh puisimu dalam hati dan jiwaku yang retak!”
aku selalu saja terkesima dibuatnya
perempuan yang hari-harinya dihabiskan di sisi sebuah danau
selalu saja mengulurkan sekuntum mawar ungu dari balik punggungnya     
sebelum ia melompat dan terjun ke dalam danau

“ternyata danau telah benar-benar meranumkan kesakithatianku, tuan penyair”
selalu saja aku melambaikan tanganku setelah ia puas mandi dan menyelam
“terjunlah, tuan penyair! kita mandi dan berselam, air danau ini penuh inspirasi!”
sungguh aku lebih terkesima
air danau penuh inspirasi

aku pun terjun ke dalam danau
aku dan ia lama saling tatap tapi diam
aku dan ia berpelukan, dalam diam
aku dan ia sama menyelam, aih, percintaan yang surealis
aku dan ia menjalin sebuah puisi
puisi yang kekal bercahaya

Bogor, 10 Maret 2013

TRAGEDI APEL DAN RUANG TAMU

di ruang tamu
mestinya tak kausuapkan buah apel ke mulutku
iris demi iris apel telah memabukkanku

"ini apel bukan buah kuldi," bisikmu
kauguncang-guncang tubuhku
tubuh yang perlahan beku

ruhku melompat ke luar

beberapa saat berdiri di halaman
rumput-rumput menghampar kering
semua kembang layu

ruhku melesat ke laut
bergulingan di runcing-runcing karang

mendaki bukit memeluk kabut
menuruni lembah mengais-ngais angin basah
melayang pergi-pulang cilacap-padang

aku telah benar-benar mabuk
aku mau apelmu lagi

kuketuk pintu ruang tamu

"masuklah," sambutmu, "kusuapkan lagi iris demi iris apelku..."

di ruang tamu
sebilah pisau terus mengiris apel demi apel
kausuapkan ke mulutku
tubuhku yang beku perlahan meleleh
menjelma gumpal-gumpal sajak berlumuran darah.

Bogor, 9 Maret 2013

MENGHAPUS AIRMATARINDUMU

ini siang ke berapa?
kerikil di sepanjang jalan berbukit ini memecah telapak kaki-sunyiku

kau masih ingat tentang sebuah stupa
bercahaya sepanjang lorong
jiwaku dan jiwamu?
stupa yang kita cipta dengan idiom bahasa dan isyarat dan sekuntum edelweis
stupa yang bergetar bila senja basah berkabut

betapa dulu kau pernah memelukku begitu erat
di sepanjang jalan berkerikil tajam di bukit ini
kita sama mengecup kening senja, senja yang basah berkabut

airmatarindumu jatuh dalam gerimis kian melebat

“kota ini serupa sebuah lembah batu berlumut rindu,” ujarmu di telingaku

kepergian yang berhari-hari melahirkan kerinduan
pada sebuah stupa cahaya
sepanjang lorong jiwaku dan jiwamu
“kita tinggalkan saja kota ini, kembali ke teluk nusakambangan
kita peluk runcing karang, kita nikmati debur dan alun gelombang”
gerimis membasahi senja 
aku pun segera pulang
menghapus airmatarindumu.

Bogor, 7 Maret 2013.

Eddy Pranata PNP, sekarang bermukim di sebuah kampung sunyi di balik ketinggian bukit, 40 km barat kota Purwokerto, Jawa Tengah. Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatra Barat, Indonesia. Sehari-hari beraktifitas di  Pelabuhan Tanjung Intan, Cilacap, Jawa Tengah. Mulai menulis puisi tahun 1983. Karya puisinya terkumpul dalam sejumlah antologi bersama, seperti: Rantak 8 (1991), Sahayun (1994), Kebangkitan Nusantara II (1995), Batin (1996), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Hawa (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Antologi Puisi Sumatra (1998), Antologi Puisi Sumatra Barat (1999), Diverse (from 120 indonesian poets) Shell Jagat Tempurung, Padang, 2012, Pinangan (35 penulis Dapur Sastra) Teras Budaya Jakarta, 2012, Flow into the Sink into the Gutter, Shell Jagat Tempurung, Padang, 2012 dll. Buku kumpulan puisi tunggal yang sudah terbit : Improvisasi Sunyi, (Jalur Sastra, Padang, 1997) dan Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (Shell Jagat Tempurung, Padang, 2012). Tahun 1996; mengikuti Mimbar Penyair Abad 21 di Jakarta. Tahun 1997: Pertemuan Sastrawan Nusantara di Kayutanam Sumbar. Tahun 1999: Pertemuan Sastrawan Nusantara di Johor Bahru, Malaysia. Pernah menetap di kota Padang, 1981-2004. Sekarang masih menulis puisi, walau jarang dipublikasikan. Email: penyaircilacap@yahoo.co.id.
 

 

Editor :
Jodhi Yudono