Sabtu, 26 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Juli 2014 | 18:09 WIB
Novel Nayeri tentang Gadis Kembar yang Tertinggal di Iran
Kamis, 2 Mei 2013 | 20:48 WIB
Dibaca:
|
Share:

TOKYO, KOMPAS.com--Misteri membayang dalam novel berjudul "Sesendok Teh Bumi dan Laut" yang berkisah tentang seorang gadis yang dibesarkan di sebuah desa, sesudah masa revolusi Iran yang memimpikan kembarannya dan hidup bahagia yang mungkin dinikmatinya di Amerika Serikat -- bila ia masih hidup.

Barisan keamanan yang padat di bandara Teheran, teriakan dan seorang gadis mengejar kembarannya yang digandeng seorang perempuan berjubah panjang. Itulah kenangan yang terus membelenggu Saba Hafezi, setelah ibu dan saudari kembarnya lenyap -- ingatan yang sering menghantuinya.

Itulah gambaran novel baru Dina Nayeri perempuan asal Iran yang menjadi penulis fiksi di Amerika Serikat.

Nayeri meninggalkan Iran saat berusia sepuluh tahun menuju Amerika Serikat. Ia tumbuh di Oklahoma dan bekerja sebagai bankir sebelum berhenti dan menjadi penulis fiksi.

Pada mulanya ia menulis bersama saudara laki-lakinya untuk buku-buku remaja dewasa dan novel ini adalah karya pertama dalam bentuk cerita dewasa.

Nayeri yang mengatakan bahwa bukunya itu dipicu oleh perjalanannya ke Yunani yang membangkitkan banyak kenangannya, menceritakan perjalanan hidupnya kepada Reuters, sebagai penulis, hidup di pengasingan dan pengaruhnya pada cerita-ceritanya.

Tanya (T): Mengapa tentang anak kembar dan mengapa memilih sudut pandang pada anak yang ditinggalkan?

Jawab (J):Mula-mula ketika memikirkan gagasan, saya sedikit terobsesi dengan pikiran, akan menjadi apa jika saya tetap tinggal di Iran? lalu saya mulai berpikir tentang dua perempuan bersaudara yang seorang tinggal di Iran dan seorang lainnya tinggal di AS, menjalankan hidup secara bersamaan, menjalani hidup sesungguhnya dalam cara yang berbeda.

Saya menginginkan ada kenyataan yang ajaib ketika semua kehidupan yang sejajar dijalani dengan keajaiban saudara kembar, tetapi setelah beberapa rancangan dan beberapa tahun mengerjakannya, saya menyadari bahwa cerita akan lebih kuat apabila bercerita tentang salah seorang saudara yang merindukan kehidupan yang lain --untuk memasukkan bagian kehilangan dan kerinduan.

Lalu saya mulai memikirkan cerita tentang apa yang ingin saya ceritakan, yaitu tentang saudari yang tertinggal di Iran.

T: Orang sering berkata bahwa jika berada jauh dari tempatnya, kita bisa menulis lebih jelas, apakah dengan meninggalkan Iran Anda bisa merasakan bagian tersebut?

T: Bagian mana yang paling sulit untuk ditulis, mana yang paling mudah dan bagian mana yang menyenangkan?
T: setiap keluarga mempunyai cerita, bagaimana secara umum kisah mereka mempengaruhi cerita?
J: Sebenarnya cerita adalah hal yang paling manusiasi dan universal, namun dalam keluarga saya, ada pencerita yang melebihi semua itu. Apa yang terjadi adalah beberapa cerita itu menjadi mitos.(ANTARA/Reuters)

Editor :
Jodhi Yudono