Sabtu, 30 Agustus 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 30 Agustus 2014 | 21:26 WIB
Martin Alaida, Haul Pram dan Indonesia Modern
Rabu, 1 Mei 2013 | 20:14 WIB
Dibaca:
|
Share:

alineakata.wordpress.com
Pramudya Ananta Toer

Oleh Sabiq Carebesth*

30 April 2013, dunia sosial media yang kian mudah, ramai dan banyak penggunanya, dengan cepat hari itu silang informasi haul alm. Pram menyebar di mana-mana. Salah satunya di Twitter @radiobuku pimpinan Muhidin M Dahlan, yang sempat di sisi Pram pada masa kritis sampai meninggalnya. Radio buku merilis dalam informasi pendek-pendek via twitter saat-saat terakhir Pram. Memori publik pun seketika seperti diungkit lagi melalui #HaulPram, sebagian kecil masyarakat juga kembali merasa sangat mendalam dan kehilangan. Tak terkecuali saya. Maka sigap saya menulis di Twitter saya @sabiqcarebesth:

“Pada Pram kita belajar mencintai bangsa dan tanah air Indonesia sekalipun kadang pahit rasanya.”
Saya menerka-nerka sendiri logika yang tengah saya bangun atas kalimat pendek yang saya tulis di twitter dan susah payah mencoba menziarahi belukar ingatan pada Pram lewat buku-buku yang saya baca. Saya lalu teringat Multatuli. Pram yang lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 dan meninggal di Jakarta, 30 April 2006 pada umur 81 tahun--terus bicara Multatuli selagi masih sehatnya, dalam fiksi mau pun dalam dunia kesehariannya jika ada yang mengajaknya bicara tentang Indonesia modern. Saya meneruskan bertanya kepada diri sendiri dan makin meruncing pada dua hal: kesadaran kebangsaan dan impian pada indonesia modern. Bagi saya itulah pokok utama pikiran dan kerja alm. Pram.

Rasanya saya perlu membagi permenungan saya yang hanya lugu usia dan tak seberapa mendalam membaca Pram, perasaan cinta dan bangga lah kepada Pram yang telah begitu seluruh pada bangsanya yang membuat saya merasa seperti Pram adalah seorang kakek yang hebat dan kian rapuh sementara saya adalah anak sempat yang baru lahir kemarin sore. Atas rasa cinta dan bangga pada Pram saya menulis di Facebook yang bisa memuat lebih banyak kata-kata: “di bulan April, setidaknya 2 nama sastrawan yang menghadirkan modernitas Indonesia wafat; Chairil dan Pram. Sekarang pun lahir beratus bahkan beribu sastrawan, sebagian mereka telah menjadi besar dipanggungnya dan kita masih menunggu modernitas yang mungkin dihadirkannya; atau banyak lalu jadi peristiwa saja yang segera berlalu beku. Kita juga memiliki 3 hari yang berbeda yang diperebutkan sebagai hari sastra. hari lahir Abdoel Moeis dan Pram jadi salah satu versi penetapan hari sastra dg alasan dan keyakinan yg masing-masing berbeda. Tapi saya lalu jd ingat, Pram pernah bertanya kepada Sukarno (saya lupa ttg apa): "Kenapa tidak Multatuli?" alasan Pram selalu spt stiap alasan kehidupannya: karena inspirasi yg turut menyusun dan melahirkan kebangsaan yg kelak akn disebut: INDONESIA modern. #saya mengenang haulnya alm. Pram hari ini, dan meresapi impiannya, dg sastra (atau jalan lainnya) utk mendorong kebangsaan Indonesia yg modern dan terhormat dalam pergaulan antar bangsa-bangsa lainnya didunia.” (Facebook sabiq carebesth, 30/04/13)

Beberapa saat kemudian saya seperti merasa kaget yang tiba-tiba mendebarkan dada, jemari kanan saya rasanya kaku sementara jemari kiri saya setengah bergetar. Saya membaca sebuah komentar atas status yang saya tulis:
“Pram takkan diterima. Bangsa terkutuk takkan memilih orang yang mereka kutuk. Saya kira Taufiq Ismail pasti disetujui, karena air matanya.”
Komentar yang menjurus lurus ke inti, tak meleset se inci dari maksud, tentu dilempar seorang yang talah begitu matang dalam melempar anak panah, seorang yang memahami pusat, jarak dan bangunan sekeliling dari wacana tentang sastra, Pram, dan Indonesaia. Komentar dari empunya “Liontin Dewangga”, Martin Alaida.

Saya kikuk, mengingat sosok Martin adalah senior dalam sastra yang saya gandrungi dan seorang manusia yang mungkin penuh tato luka sebagai anak bangsa atas suatu kurun sejarah terutama terkait korban kemanusian yang tumbang pada 1965. Hal itu tampak bagi saya bukan lagi sekedar wacana bagi Matin Alaida, melainkan telah menjadi mistik yang mengaliri darah dan menyusupi daging kesadarannya bahwa bangsa ini pernah berada dalam tiangkat kekejian dan dehumanisasi paling rawan dimana jutaan orang dibumikuburkan bersama sejarah kemanusiaan yang tak mungkin ditemukan kembali. Saya gugup tapi saya memberanikan diri merespon Martin, toh keprihatinan itu sama bagi kami sebagai anak bangsa Indonesia:
“turut prihatin bang. dan hal itu mungkin akan terus jadi penanda sampai mana bangsa indonesia mencerahkan sendiri sejarahnya dan menjadi bangsa yg modern. mungkin indonesia masih akan berumur panjang untuk menjdi bangsa modern. saya hanya mempercayai bhwa memang tdk banyak, atau trllu sedikit anak bangsa yg dg karya fiksinya bisa menghadirkan refleksi dr cakrawala yg menghadirkan imajinasi paling mendalam sklgus jauh dr kebangsaan Indonesia melebihi alm. Pram.”
Saya menghela nafas selalu lebih dalam setiap kali ingin membalas komentar Martin. Entah sebab apa, saya tiba-tiba merasa dekat dan ingin menemuinya di TIM Cikini (Taman Ismail Marzuki) seperti sore waktu itu; dan mendengarnya bercerita. Tak seberapa lama Martin kembali membalas komentar saya di Facebook:
“Pram menulis tentang kebangkitan bangsanya, dia ikut berjuang untuk mendirikan republik dan dengan setara menghasilkan karya dengan latar perang kemerdekaan. Namun dia dianiaya bangsanya sendiri. Saya tanya anda, dengan korban 65 yang melebihi korban di tahun 2O-an dan 1945, mana ada karya sastra, film, musik, tari yang besar dengan latar peristiwa itu? Tunjukkan! Ada yang salah dalam diri kita. Kita miskin sekalipun dalam menghayal. Duafa dalam imajinasi!”
“Kita miskin sekalipun dalam menghayal. Duafa dalam imajinasi!” saya tertohok, saya masih muda, seangkatan saya muda-mudi masih banyak, tapi bukan dari mereka saya mendengar hal yang jujur dan berani semacam itu. Martin membawa saya sebentar kepada jalan panjang patriotik suatu angkatan dalam mencitai bangsanya, pada sebuah ingatan, memori sekaligus mimpi tentang “Indonesia modern?”. Apa yang kita imajinasikan sekarang?

Saya katakan kepada Martin bahwa saya (kami yang muda usia) membaca dan akan mencatat hal itu sebagai pesan sebuah angkatan yang harus dibawakan kepada realitas kebangsaan sekarang. Bagaimana hendak menjadi modern, kalau dalam menghayal saja kita miskin dan pada soal imajinasi kita begitu dhuafa?

Saya tertunduk, merenung, diam. Meminjam istilah beken anak sekarang, saya mengalami galau—kegalauan. Rasanya seperti ada yang menyentak saya dan mungkin akan terus mendampingi mimpi saya sebagai bagian dari angkatan suatu zaman dari perjalanan panjang Indonesia raya.
Dalam keadaan masih setengah galau, saya kembali menilik twitter @radiobuku, dan sekali lagi meniyimak timeline mereka, tercatat di layar komputer saya: @radiobuku: Pembacaan yasiinan bergemuruh di malam minggu yg mirip pasarmalam ini. Tak ada internationale di malam di rumah. #Pram meninggal dg tenang. Hanya dikelilingi keluarga & anakmuda terdekat yg menjagainya. Tanpa pers. Sepi. 30 April 2006.

Kami mengenangmu Pram. Kataku dalam hati, seperti sebuah genta yang bergema dalam diri saya sendiri, ingatan pada frasa dalam buku Pram membunyikan kata-kata: Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang, seperti dunia dalam pasar malam.  "Detik demi detik lenyap ditelan malam. Dan dengan tiada terasa umur manusia pun lenyap sedetik demi sedetik ditelan malam dan siang. Tapi masalah-masalah manusia tetap muda seperti waktu. Dimanapun juga dia menampakkan dirinya.  Dimanapun juga dia menyerbu kedalam kepala dan dada manusia, dan kadang-kadang ia pergi lagi dan ditinggalkannya kepala dan dada itu kosong seperti langit" #PramoedyaAnantaToer (Bukan Pasar Malam)

Malam tiba-tiba larut, saya pergi menjenguk seorang kawan yang istrinya baru saja melahirkan. Bangsa Indonesia melahirkan anak lagi. Bayi mungil yang akan segera mengerti ia adaah anak manusia, seperti yang lainnya juga di bumi manusia.

Malam tiba-tiba menjelang pagi, saya membaca berita, tak menonton sendiri karena tak ada TV dikamar, Real Madrid menang 2-0 atas Borussia Dortmund, tapi tetap tak cukup untuk pergi ke laga Final di stadion Wembley Inggris. Saya kian tambah mengantuk dan merasa capek tiba-tiba, pergi tertidur dan setengah lelap sebelum subuh.

Dan pagi ini dikantor saya membuka laptop dan mendapati berita; semalam Martin Alaida mengalami kecelekaan sewaktu turun dari angkot sepulang dari acara Haul Pram ke 7 di UIN Ciputat. Di tengah demo ribuan buruh di Istana Kepresidenan, ia kini terbaring sakit di RS. Fatmawati Jakarta untuk perawatan luka yang kabarnya sedikit parah.  Aku merindukannmu dan ingin menjenguk sakitmu.
Ah mencintai saudara, keluarga, mencintai tanah air, bangsa memang bukan perkara mudah. Seperti kata-kata Pramudya Ananta Toer, “Cinta itu tidak mungkin terbentuk tiba-tiba, sebab ia adalah anak kebudayaan..!”

*Pecinta Buku dan Kesenian,
Bidara Cina, Jakarta, 1 Mei 2013

Editor :
Jodhi Yudono