A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: file_get_contents(http://xml.kompas.com/data/banner_on_keyword/on_keyword.php) [function.file-get-contents]: failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found

Filename: controllers/read.php

Line Number: 346

Merah Hitam Pelangi - KOMPAS.com
Sabtu, 19 April 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 19 April 2014 | 21:51 WIB
Merah Hitam Pelangi
Sabtu, 27 April 2013 | 22:32 WIB
Dibaca:
|
Share:

djdesignerlab.com
Ilustrasi

Cerpen Nihayatul Wafiroh

Aku berdiri mematung, menatap kilatan warna yang semburat keluar dari mata itu. Badannya disandarkan pada tiang listrik. Tingginya 160, rambutnya pendek setengkuk, kaca mata hitam bertengger di kepalanya, celana blue jeans longgar, tas ransel hitam di punggung, sementara tangannya masuk ke sweater hitam. 

Bagaimana bisa dia sudah di sini? Baru dua jam lalu dia bilang masih di kamarnya.

Ah… dari dulu aku paling tidak bisa lepas ataupun lari dari matanya. Sepasang mata pelangi yang menyimpan keberanian dan kekuatan seorang perempuan perkasa. Mata berbalut eye shadow yang selalu memperangkapkaku akan kehangatan, kecerdasan dan kerinduan yang memuncak.

Kali ini entah sorot warna pelangi apa yang ingin dia pancarkan dari matanya. Belum sempat aku menerka isi hatinya lewat sinyal warna dari matanya, dia sudah buru-buru memakai kacamatanya lagi.

Ayolah buka kaca mata hitammu itu, biar aku bisa membaca situasi hatimu.

“Aku pikir tadi kamu bohong, kalau mau datang,”  ucapku ketika sudah berjarak kurang dari satu meter di depannya.

Kau tarik tas ransel di belakang punggungmu. Mengambil sesuatu dari dalamnya.

“Aku hanya ingin memberikan ini,” sambil kau ulurkan bungkusan persegi empat kecil yang tertutup kertas koran  ke arahku.

“Apa ini?”

Hanya senyum yang aku terima sebagai jawaban.

Ahh…memang perempuan yang umurnya terpaut hanya beberapa bulan di bawahku ini selalu tidak pernah lepas memberiku kejutan sejak pertama aku mengenalnya.

“Ayolah duduk dulu,” ajakku sambil menarik tangannya. “Ada cheese cake factory lho di dalam.”

Mendengar kata cheese cake kakimu yang dari tadi seperti terpaku mulai bergerak mengikuti tarikan tanganku.

Untuk  kesukaanmu ini aku tahu banget. Mampir di  Cheese Cake factory  di pinggiran pantai Waikiki selalu menjadi acara penutup jalan-jalan kita setelah menikmati sunset di Waikiki.

Kamu belum juga membuka kaca mata yang nangkring di hidung mancungmu, walaupun kita sudah memasuki factory.

“Mbak, minta Oreo cheese cake dua potong, dan dua cappucino“ tanpa  perlu meminta persetujuannya, aku sudah memesan menu favorite kami.

“Kita duduk di luar saja ya, biar kamu bisa ngeluarin kotak ajaibmu itu?” aku kedipkan mataku sebelah, menggodanya.

“Kita di dalam saja, aku sudah berhenti merokok.”

What???

Entah kejutan apalagi yang akan diberikan pelangi hari ini. Bagaimana bisa dia melepaskan –kotak ajaib–nya yang sudah menemaninya sejak umur 17 tahun. Kotak itu terbuat dari kayu dan warisan dari kakeknya. Kamu menyimpan rokok kegemaranmu dalam kotak itu. Aku bisa pastikan di mana ada kamu, di situ ada si kotak ajaib. Kamu pernah bilang, “Ada kekuatan mistis kalau aku bawa kotak ini. Aku bisa kehabisan kekuatan menulis dan hilang kepercayaan diriku kalau tanpa kotak ajaib ini. Dan tentu bukan hanya kotaknya aja dong yang ajaib, isinya juga ajaib hahahah.” Kamu selalu bilang bisa berpisah dengan siapa pun, asal tidak dengan kotak ajaib dan batangan rokokmu. Tapi sekarang???

“Bagaimana kabarmu?” aku memilih menanyakan hal yang datar saja ketika kulihat kamu terus memalingkan wajah dariku.

“Baik.” Singkat dan terkesan ketus.

Ayolah pelangiku, kenapa jadi kaku begini? Baru dua bulan kita tidak ketemu setelah kepergianku ke Jerman lalu, kamu sudah sangat berubah.

Tak ada obrolan dalam beberapa menit, hingga pesanan kami datang.

“Tuh si cantik oreo cheesemu sudah melambai-lambai minta disentuh,” godaku sambil menyentuh singkat punggung tanganmu yang dari tadi sibuk mengetuk-ngetuk meja.

“Kangen Hawaii ya, yuk akhir tahun main ke Hawaii. Kebetulan rekan kerjaku dari LA minta meetingnya di pindah ke Hawaii. Kan bisa sekalian liburan.”

Belum juga kamu bereaksi. Bagaimana bisa kamu tidak tertarik membicarakan tentang Hawaii?? Di Hawaii kita pertama bertemu. Setiap lekuk pulau Oahu seperti mematrikan kenangan kita. Aku berani potong jari kelingkingku kalau kamu sudah melupakan kenangan kita di North Shore, kita berdua menghabiskan dua malam di pinggiran pantai dan membuat tenda di sana. Ayolah, jangan pernah bohongi hatimu pelangiku.

 Setahun lalu, saat pimpinan kantorku mengutusku berdialog dengan investor baru dari Amerika. Aku harus pergi ke Hawai. Aku belum pernah pergi ke Hawai sebelumnya. Seperti kebiasaanku setiap kali mengunjungi daerah baru, aku tidak akan melewatkan untuk mengunjungi museum. Jauh-jauh hari aku mulai search di internet tentang informasi  tempat-tempat yang bisa aku kunjungi.

Pencarian ini mengantarkanku pada sebuah blog milik seorang perempuan yang dalam foto profilnya hanya menampakkan dua mata, sementara sebagian wajahnya tertutup cangkir besar, selanjutnya aku tahu gelas itu berisi cappucino. Matanya menyorotkan ketajaman yang luar biasa. “Aku Pelangi,” hanya itu yang dia tuliskan sebagai identitas namanya.

Pelangi cantik ini mengupas banyak hal menarik di blognya. Blog yang dihiasi warna pelangi melengkung di langit. Terkadang dia menulis tentang politik yang sedang berkecambuk di Indonesia, atau tentang kecengengan khas manusia yang terbentur dengan permasalahan hati. Tidak sedikit juga dia menceritakan sudut-sudut  di Hawaii dan kota-kota lainnya di  Amerika yang dia kunjungi dengan detil. Benar-benar petualang sejati. Yang paling menarik untuk terus membaca setiap postingannya adalah kepekaan sosial yang menonjol dari setiap tulisannya. Luar Biasa…

Hari-hari berikutnya setiap kali aku membuka internet di kantor, hal pertama yang aku buka adalah web dengan address http://myrainbow.blogspot.com. Ada aja tulisan menarik tiap harinya. Sepertinya aku sudah sangat terbius dengan blog ini. Aku mulai punya ikatan emosi dengan blog ini. Lewat tulisan-tulisannya aku bisa mengerti apa yang sedang bergejolak dalam diri penulisnya. Ikatan itu semakin kuat. Saat dia sedang gembira, aku seperti merasakan kegembiraan yang sama. Saat dia menuliskan tentang kemarahannya, dadaku pun ikut membara. Sebuah ikatan yang aneh, karena hingga dua bulan berikutnya aku tidak berkomunikasi dengan pemilik blog ini, bahkan chatbox yang biasa untuk meninggalkan pesan tidak pernah aku hampiri. Bisa saja aku memberi comment dalam blognya, tapi entahlah aku merasa sudah sangat dekat dengan penulisnya, hingga tak perlu pendekatan lewat sapaan. 

Hingga suatu hari aku menemukan di postingan terahirnya sebuah puisi yang luar biasa. Tentang kegundahan hati akan kerinduan yang tak terperi. Pilihan kata-katanya sangat menyayat hati. Aku sangat tersentuh. Ini yang mendorongku untuk meninggalkan comment dan alamat emailku.

Via chatting dan email akhirnya aku tahu siapa sang pelangi. Dia wartawan Koran dan sedang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan study di University of Hawaii at Manoa di jurusan History. Kecintaanya pada sejarah membuatku rela berlama-lama di kantor (dengan alasan lembur) agar bisa tetap ngobrol dengan sang pelangi, walaupun hanya via chatting di media social.

"Do you love me?" Tiba-tiba kamu menanyakan sesuatu yang janggal.
"Why do you ask it after long time of our togetherness?”
"Hemmmm, my friend told me, sometime a woman is so stupid. She just wants to get a clear answer."

Aku diam sejenak, "So, don't be a stupid woman then."

Ahh… aku paling tidak suka mendapat pertanyaan seperti ini. Kamu juga sangat tahu kalau aku –lebih tepatnya kita– berusaha menghindari obrolan dengan topik seperti ini. Lalu kenapa sekarang kamu menanyakan hal ini?? ahhhh

Kamu condongkan badanmu ke depan, mendekati posisi dudukku. Aku tahu kamu sangat serius kali ini.

"For this case, please forgive me. I just want to be stupid. Please for the last time, do you love me?"

Setelah menarik nafas dalam untuk mengusir semua ketidaknyamanan ini, akhirnya aku menjawab.

"For my last time, you know the answer very well."

Dari balik kaca mata hitam yang tak juga kamu lepaskan, aku  tahu pandanganmu tajam ke arahku. Aku bisa merasakannya pelangi. Tapi aku masih tak juga berhasil menerka warna pelangi apa yang tersirat dari matamu yang indah.

“Listen, inilah yang tidak pernah aku sukai. Aku, kamu, kita tidak pernah berani mendiskripsikan kata love. Itu penting buatku, buat mama dan papaku,” nada suaramu tinggi.

“Pelangi, sejak kapan kamu mempedulikan orang lain? Kamu perempuan independen. Your life is in your hand, baby.” Suaraku dalam, mencoba memberi tekanan.

Sekali lagi kamu membuang muka. Memandang orang-orang yang berlarian menghindari rintik hujan yang mulai turun di luar.

Kamu berdiri, menarik ransel yang kamu letakkan di kursi sampingmu.

“Hidupku sudah berubah, dan memang harus berubah. It is about my parents’ life, not only about myself.” Menusuk kata-katamu

Oh Tuhan, kamu pergi dengan menyisakan siratan pancaran warna merah tajam dari matamu yang sepertinya sengaja kamu tinggalkan ketika sesaat kamu lepas kacamata sebelum beranjak dari kursi. Warna merah matamu tidak seperti siratan yang biasa aku kenal  saat kamu marah atau cemburu padaku. Merahmu kali ini gelap, seperti bercampur tanah hitam. Lagi-lagi kali ini aku pun gagal mengartikan siratan matamu. Aku tak bisa mencegahmu pergi meninggalkanku sendiri dengan  setumpuk tanda tanya yang tak terjawab.

***
Aku duduk kembali di ruang kantorku. Menatap hujan yang semakin lebat di luar. Tanganku masih memegang undangan pernikahan berwarna putih dengan gambar lengkungan pelangi. Ternyata bungkusan dari kertas koran yang kamu berikan tadi adalah undangan ini. Nama mempelai perempuanya sangat aku kenal, Neta Zehans. Dia pelangiku.

Inilah jawaban dari warna merah hitam matamu tadi pelangiku. Kamu memilih mengikat janji dalam pernikahan. Perjanjian dua orang yang selama ini kamu bilang stupid agreement. Masih tergiang di telingaku kamu berkata, “Aku tidak akan menikah. Pernikahan itu hanya untuk orang-orang bodoh yang mau mengikatkan dirinya seumur hidup pada satu orang. Dan listen, hanya perempuan tidak mandiri yang mau diatur-atur laki-laki.” Saat itu aku tertawa lebar. Itulah pendapat khas  para aktivis feminist seperti dirimu. “Dan aku tidak akan menjatuhkan diriku pada laki-laki. Never.” Sekali lagi kau menegaskan posisimu.

Lalu undangan pernikahan ini apa?

“Mama, aku jemput kamu di kantor ya. Mobilnya biar dibawa sopir pulang. Malam ini aku ingin mengajak mama makan malam di restoran langganan kita. Kita akan merayakan ulang tahun pernikahan kita sayang.”

Aku  baca sekali lagi pesan di Blackberry Messanger dari laki-laki yang sudah meletakkan spermanya dalam rahimku, dan menjadikan aku seorang Ibu dari dua anak perempuan.

Aku simpan surat undangan putih itu ke dalam laci meja. Aku hapus air mata yang dari tadi meleleh, membasai pipiku. Aku perbaiki rok dan riasan wajah, lalu siap-siap turun ke lobby, menunggu suamiku menjemput.

Jogja, 21 Januari 2013.

 

Editor :
Jodhi Yudono