Kamis, 23 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 23 Oktober 2014 | 04:40 WIB
Membahas Sejarah "Misteri Gajah Mada Islam"
Kamis, 25 April 2013 | 00:26 WIB
Dibaca:
|
Share:

Viddy meneliti struktur wajah arca dwarapala alias Satpam Kerajaan, ternyata berwajah Arya, bukan berwajah pribumi.

Oleh Sufyan al Jawi, Arkeolog-Numismatis Indonesia

Minat orang untuk membaca buku-buku sejarah sangatlah rendah, mungkin karena terasa menjenuhkan, tidak kreatif, kaku, dan monoton sehingga membosankan. Padahal, membaca sejarah bangsa merupakan kebutuhan akan jati diri kita sebagai penerus generasi bangsa yang besar dalam memotivasi bangkitnya semangat kebangsaan.

Lain halnya bila tokoh pendekar silat, seperti Pendekar Sendang Drajat (PSD) yang mengajak pembacanya untuk membicarakan sejenak kisah sejarah tanpa proses menggurui. Menariknya, Sang Pendekar justru mengungkap cuplikan sejarah Gajah Mada apa adanya, yaitu sejarah yang hingga kini masih diselubungi oleh berbagai misteri atau tanda tanya besar. Jujur saja, karena selama ini tak satu pun sejarawan dapat mengungkap siapa sebenarnya Gajah Mada itu. Mulai dari asal usul, hari tua (masa pensiun), hingga proses kematian Gajah Mada yang misterius. Sungguh ironis! Mengingat peran besar dan kepopuleran nama Gajah Mada yang mempersatukan Nusantara kita.

Dalam beberapa novel tentang Gajah Mada, sebagai seorang arkeolog, saya prihatin tentang kerusakan sejarah yang ditimbulkan oleh para novelis selama ini. Hingga muncul rasa antipati saya terhadap novel-novel berlatar belakang sejarah karena para novelis justru mengacak aduk sejarah dengan fantasi fiksi secara berlebihan, tanpa menghiraukan bahwa hal yang mereka lakukan tersebut justru merusak sejarah yang sedang dibahas dalam novelnya itu. Tragis!

Namun, hal ini yang berbeda dengan penuturan Pendekar Sendang Drajat dalam buku novel keempat berjudul "Misteri Gajah Mada Islam" setebal 215 halaman yang diterbitkan oleh Grafindo Book Media, Jakarta, Februari 2013. Saya sebut saja teknik bertutur ini adalah "Neo Cerita Berbingkai". Teknik yang dipakai mengingatkan pada genre "Cerita Berbingkai" yang dalam khazanah sastra klasik banyak kita baca dalam "Hikayat 1001 Malam". Sang Pendekar yang sedang melacak jejak-jejak sejarah Mahapatih Gajah Mada cukup dapat dikatakan obyektif dalam menceritakan fakta sejarah. Sebab, ketika ada sekelompok "keturunan Gajah Mada" yang mengklaim bahwa Gajah Mada menganut agama Islam dan pernah berguru di Pesantren Gondang, tak serta-merta klaim itu diiyakan. Tetapi, Sang Pendekar justru menelitinya langsung dari mana sumber informasi tersebut berasal. Meskipun juga dikisahkan bahwa Pondok Pesantren Gondang itu merupakan basis pelarian mantan prajurit Tartar-Mongol yang beragama Islam ketika perang besar pembalasan dendam Kubilai Khan terhadap Kerajaan Jawa: Singasari-Kediri.

Pendekar Sendang Drajat kreasi Viddy Ad Daery tidak bercerita mengenai sejarah secara mutlak, hanya berdasarkan klaim-klaim sepihak saja, karena Viddy melalui novel PSD-nya menulis kronologi-kronologi sejarah berdasarkan hasil observasi terbaru yang disandingkan dengan fakta-fakta yang didapat oleh sejarawan pada umumnya. Metode blusukan ala Viddy—juga saya pernah mendampingi—justru mengungkap dan menemukan fakta-fakta baru yang selama ini belum terungkap oleh antropolog, arkeolog, dan filolog dalam menyusun historiografi Nusantara.

Kecaman dan cibiran terhadap karya tulis Viddy tak menyurutkan langkahnya untuk terus menelusuri jejak-jejak sejarah masa silam. Sang Pendekar terus melanglang buana, hingga suatu hari, Nasir Abbas pun (mantan teroris asal Malaysia, sahabat Dr Ashari dan Noordin M Top yang sempat populer) dibuat terkagum-kagum dengan kisah yang dituturkan tentang asal usul nenek moyang Amrozi bersaudara (Trio Trenggulun, pelaku Bom Bali 2002 yang menggemparkan dunia), yang masih Trah Majapahit, dari Trah Bhayangkara-Trenggulun. Itulah kenapa Amrozi menjadi sungguh nekat dan berani menentang adidaya AS dan sekutunya.

Begitu pula ketika buku Pendekar Sendang Drajat sempat menjadi buku pameran di Forum Dialog Borobudur bertema "Maritim Majapahit" yang diselenggarakan oleh Samana Foundation di Hotel Batavia baru-baru ini, yang membuat Romo Muji Sutrisno, Prof Agus Aris Munadar, dan banyak sejarawan serta penulis buku terkagum-kagum ingin segera memiliki buku keempat PSD: Misteri Gajah Mada Islam. Namun sayangnya, buku yang dipamerkan tersebut hanya satu-satunya, itu pun milik Viddy Ad Daery sendiri.

Konon, menurut Viddy—menyitir kabar dari penerbitnya, buku heboh itu sekarang sudah beredar dan saya telah membaca tuntas isinya. Dan, sebagai arkeolog dan pemerhati sejarah dan budaya, saya memberinya rating "bintang sembilan".

Editor :
Jodhi Yudono