Sabtu, 25 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 25 Oktober 2014 | 23:44 WIB
Puisi-puisi Putu Gede Pradipta
Selasa, 23 April 2013 | 00:36 WIB
Dibaca:
|
Share:

c1nq.com
Ilustrasi

Memahami Sendiri
 
Ke tepi-tepi. Meledakkan diri. Dan tak menjadi.

(2013)

Di Kafe

Di kafe yang selalu buka bila malam
akan kau jumpai dua meja di dalam.

Di meja pertama ada kau duduk sendiri
kau menunggu dengan begitu anggun.

Matamu terpejam dalam dengan bibir
mengucap doa-doa yang panjang.

Dan malam telah sepenuhnya tenggelam
kau membuka mata. Melihat arah jendela.

Seorang pelayan datang menyuguhkan
menu-menu yang kau pesan di masa lalu.

Sepotong  rasa sakit yang pernah hilang
secangkir kenangan yang mengambang.

Sedangkan di meja kedua yang letaknya
agak berjauhan dari jangkauan matamu

diam-diam ada yang tak sabar menunggu.

Yaitu bayang lelaki telah sejam membisu
mengaku datang untuk bertemu dirimu.

(2012)

Lelaki

Selalu muda. Merasa
serba bisa. Demikian
ia lelaki. Petapa sepi.
Bunga api dalam diri.

Selalu merasa buruk.
Begitulah aku. Capai
sunyi ini. Lelaki laku
api di jantung sendiri.

(2013)

Anomali

Kakiku mencari tubuhmu. Kaki
yang diasah dari langit. Kaki
yang mengerti langkah mana mesti
dipilih dan dipilah. Dan kini kaki
memilah aku. Memilih tubuhmu.
Memisah aku. Melukis hujan
pada tubuhmu. Dalam dadamu
berdebar itu. Dada yang hidup.
Menampung seluruh luka dunia.
Dan aku lelaki bertapa di sana.
Untuk kemudian menuju rahim
merajah hijauku. Berupa matahari.
Kehangatan yang tambah meninggi.
Dalam setapak jejak-jejak kaki.
Dan meninggalkan air matamu
menggigil sendiri menjadi jendela;
tempat aku meloloskan diri dari
jebakan berpintu-pintu puisi.

(2013)

Berbahasa Air

Dalam bahasa aku bermain air.
Basah tiada terkira mengenang
engkau. Berlama-lama aku
bayangkan diri engkau yang
timbul tenggelam dalam badan.

(2013)

Bahasa Pagi

Pagi ini yang mana awan-awannya
demikian gelap. Alangkah abu.
Jatuh dan menjatah puing api
ke jantung pohonan.

Di kedalaman itu, ada aku
dalam larut sunyi semadi
jadi semacam ular yang memencar
melingkari matahari
menarik lalu mengulur
berulang-ulang mempermainkan
udara.

Demikian. Cahaya paripurna
puisi sempurna. Dan bunga-bunga
dari dalam dada mengalir
mewarnai langit.

(2013)

Biodata

Putu Gede Pradipta lahir 18 Desember. Tinggal di Denpasar. Kini mahasiswa Program Studi bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Dwijendra. Tergabung dalam kelompok menulis.

Editor :
Jodhi Yudono