A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: file_get_contents(http://xml.kompas.com/data/banner_on_keyword/on_keyword.php) [function.file-get-contents]: failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found

Filename: controllers/read.php

Line Number: 346

"Tampan Tailor", Selingan Antara Horor dan Komedi Seks - KOMPAS.com
Minggu, 26 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 26 Oktober 2014 | 05:03 WIB
"Tampan Tailor", Selingan Antara Horor dan Komedi Seks
Rabu, 3 April 2013 | 10:52 WIB
Dibaca:
|
Share:

istimewa

Film bertema drama dewasa relatif masih  sedikit   yang menggarap. Menjadi ‘kejutan’ ketika yang menggarap justru rumah produksi yang rajin menggarap horor atau komedi berbumbu seks.
 
"Tampan Tailor" adalah sebuah film yang secara teknis, maupun tema yang diangkat dapat dikatakan sebagai film yang baik. Kerjasama departemen penulisan cerita, penerjemahan dalam bentuk gambar hingga akting setiap pemain berpadu dengan baik. Berhasil menyentuh hati penonton dengan kedekatan hubungan ayah dan anak lelaki, penggambaran naik turun kehidupan mereka dalam mengarungi hidup namun juga membuat tersenyum lantaran bumbu komedi yang pas. Dengan caranya sendiri, Tampan Tailor berhasil ‘menghibur’ penonton.

Tampan Tailor disutradarai oleh Guntur Soeharjanto, cerita ditulis oleh Alim Sudio dan Cassandra Massadhie, diperankan oleh Vino bastian, Marsha Timothy dan Jeffan nathanio. dan diproduksi oleh Maxima pictures.

Maxima Pictures, sebagai rumah produksi menjadi catatan penting karena jika kita menengok websitenya, maka tampaklah Tampan tailor adalah film yang ‘lain’. Untuk membandingkan, beberapa film yang dibuat maxima antara lain Tiren(mati Kemaren) Tiran(mati di Ranjang) suster keramas 1 dan 2, Air Terjun Pangantin  1 dan 2, Hantu Tanah Kusir dengan bintang film dewasa asal Jepang Maria Ozawa atau Miyabi. Memang ada satu judul yang mengangkat tema anak-anak, yaitu Berandal Ciliwung. Sepertinya tanda-tanda untuk membuat film yang ‘berbeda’ memang sudah kelihatan sejak munculnya film tersebut.

Keputusan  Maxima untuk sesekali mengambil langkah berbeda dari kebanyakan film yang telah diproduksi sebelumnya, bukanlah tidak ada risiko. Ketika memproduksi film-film bertemakan horor maupun komedi dengan bumsbu seks yang secukupnya,-kadang berlebihan,-telah membuat penghasilan Maxima relative terjamin. Setidaknya 400ribu-500ribu penonton berhasil diraupnya. Beberapa judul, bahkan bisa meraih lebih dari itu.

Sedangkan memproduksi film yang mengisahkan perjuangan ayah-anak lelaki dalam melewati kesulitan hidup dengan kegembiraan belum ada kepastian. Pengalaman maxima adalah memproduksi film-film yang relative tidak terlalu mementingkan cerita, apalagi pesan moral. Namun seberapa ada artis cantik terlibat dan keberanianya dalam membagi ke-seksi-an pada penonton, itu  yang menjadi penting. Dalam film Tampan Tailor, walau juga dimainkan oleh artis cantik, Marsha Timothy, namun selain sama sekali tidak memperlihatkan aurat, karakter yang dimainkan malah wanita judes pada lelaki lantaran pernah ditinggal ayahnya ketika masih kecil.

Satu sisi, bisa jadi memproduksi Tampan Tailor seperti sebuah pertaruhan buat Maxima dan industry film Indonesia. Karena jika film ini berhasil menangguk keuntungan, maka Maxima tidak akan kapok dalam memproduksi film sejenis. Industri film Indonesia juga diuntungkan dengan ‘insyafnya’ Maxima dalam memproduksi film-film yang sebut saja kurang bermutu. Dan masyarakat pecinta film juga mendapatkan pasokan film yang baik.

Namun sebaliknya. Jika kemudian perolehan penghasilan dari film Tampan Tailor tidak menggembirakan. Maka siap-soap saja Maxima yang diharapkan insyaf malah kapok memproduksi film serupa Tampan tailor. Maxima kembali memutar haluan kearah semula. Industri film indonesia, masyarakat film indonesia, bersiaplah dengan hadirnya suter keramas 3, Tiran…Tiren.

Mambangun iklim industry film yang baik tentu saja Maxima tidak bisa sendirian. Media, pemerintah pengamat hingga kaum akademisis perlu juga ‘blusukan’ menyentuh langsung masyarakat untuk mengedukasi dan meningkatkan apresiasi masyarakat kebanyakan.Karena tersedianya tontonan yang baik, todak serta merta diterima masyarakat dengan baik juga. Perlu ada partisipasi banyak pihak yang menjembatani setiap pemangku kepentingan dalam industry film indonesia.

Walaupun demikian, seperti narasi penutup dalam film tampan Tailor, Hidup diatas atau di bawah tidak lagi menjadi penting. Namun bagaimana kita menjalaninya dengan cinta’. Ngkapan senada juga pas buatMaxima, bisa kah memproduksi film dengan dan untuk cinta, tanpa harus terpengaruh laku atau tidak lakunya film tersebut? (Iwan Setiawan)

Editor :
Jodhi Yudono