Kamis, 24 April 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 April 2014 | 17:58 WIB
Petani Gelar Ritual Mapag Sri
Senin, 1 April 2013 | 13:15 WIB
Dibaca:
|
Share:
Kompas/Winanrto Heru Sansono Ilustrasi

INDRAMAYU, KOMPAS.com—Sejumlah petani di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menggelar ritual Mapag Sri sebagai ungkapan rasa syukur mereka dalam menyambut tibanya saat panen raya.

Misbakun, salah seorang petani di Kecamatan Juntiyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kepada wartawan di Indramayu, Minggu, mengatakan, sudah tradisi bagi sejumlah petani di Indramayu untuk menggelar ritual Mapag Sri sambut panen raya padi.

Upacara Mapag Sri merupakan ritual lokal cukup unik, kata dia, tujuannya untuk mengungkapkan rasa kebahagiaan setelah petani berhasil panen raya padi.

Keunikan dalam ritual Mapag Sri yakni petani setempat mengarak pengantin padi keliling desa mereka sambil diakhiri doa bersama dengan menikmati berbagai hidangan khas daerah Pantura.

Sementara Roh, aparat Desa Juntiyuat, mengaku, ritual Mapag Sri rutin dilakukan oleh para petani di Indramayu untuk menyambut panen raya.

Ritual tersebut sudah berlangsung ratusan tahun, kata dia, maknanya mencari berkah dari hasil panen padi yang melimpah, selain itu mereka berharap musim tanam berikutnya terhindar dari serangan hama pengganggu.

Ia menambahkan, budaya lokal, yakni Mapag Sri masih tetap lestari di daerah Pantura, Kabupaten Indramayu. Mereka yakin ritual tersebut membawa berkah dan keselamatan bagi petani.

Upacara ini dilaksanakan setiap menjelang panen raya, kata dia, biasanya dalam satu tahun dua kali, karena lahan pertanian di daerah Pantura tadah hujan.

Kusno, sesepuh Indramayu menuturkan, ritual Mapag Sri merupakan pernyataan rasa syukur atas keberhasilan menanam padi, selain juga ungkapan rasa syukur kepada sang pencipta.

Masyarakat Indramayu yang didominasi oleh petani, kata dia, dalam ritual Mapag Sri mengarak simbol Dewi Sri mengelilingi kampung, dengan diiringi berbagai atraksi kesenian lokal.

Selanjutnya, kata Kusno, petani menggelar Wayang Kulit Purwa dengan lakon Sulanjana (cerita mengenai asal-usul padi).

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono