Minggu, 20 April 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 20 April 2014 | 13:14 WIB
Ritual Betara Turun Kabeh Pura Besakih
Rabu, 27 Maret 2013 | 01:35 WIB
Dibaca:
|
Share:
KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT Pura Besakih

Oleh I Ketut Sutika

Dentingan suara genta, semerbak wangi bunga dan dupa menyebar dalam kawasan Pura Besakih, tempat suci umat Hindu terbesar di Bali serangkaian pelaksanaan kegiatan ritual berskala besar yang disebut Betara Terun Kabeh (BTK).

Puja-pujian sang pendeta maupun Jero Mangku yang memimpin kegiatan ritual itu diiringi alunan instrumen musik tradisional Bali (gamelan) serta tembang-tembang kekidung dan warga sari yang berlangsung secara khidmat.

Rangkaian kegiatan itu diawali dengan  "Nedunang Ida Betara", menyusul "Melasti" yakni prosesi penyucian pratime dan benda-benda yang disakralkan ke sumber air  Tegal Suci Yeh Sah Desa Rendang, sekitar empat kilometer selatan tempat suci Pura Besakih.

Kegiatan penyucian pratime itu telah dilakukan Minggu (24/3) dengan melibatkan ribuan umat Hindu yang datang dari berbagai pelosok pedesaan di delapan kabupaten dan satu kota di Bali, tutur Bendesa Adat Besakih, I Wayan Gunastra yang juga Ketua Panitia kegiatan ritual tersebut.

Puncak kegiatan ritual BTK dilakukan pada hari purnama kedasa (Selasa, 26/3) bertepatan dengan Hari Penampahan Galungan, sehari menjelang Hari Raya Galungan, hari kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (Keburukan).

Umat yang mengenakan busana adat Bali, nominasi warna putih itu sebelumnya menyucikan benda-benda sakral itu dengan berjalan kaki diiringi alunan intrumen musik tradisional Bali "Gong Blaganjur" yang bertalu- talu menuju tempat permandian suci (beji) yang berjarak sekitar empat kilometer ke arah selatan.

Kegiatan itu dilanjutkan dengan ritual Mepepada yakni menyucikan binatang korban yang dijadikan kelengkapan ritual BTK pada hari Senin (25/3) dan kegiatan itu berlangsung selama sebelas hari hingga 5 April 2013.

Pura Besakih selalu menebar kedamaian bagi rakyat Pulau Bali. Umat Hindu Bali meyakini  pura agung itulah para dewa-dewi bertahta dan turun ke mayapada (bumi) membebaskan manusia dari musibah dan bencana.

Oleh sebab itu, kesucian dan kesakralan pura terbesar dan termegah di Pulau Dewata, senantiasa terjaga hingga sekarang.

Pura yang terletak di kaki Gunung Agung itu selalu menjadi pusat kegiatan ritual umat Hindu, termasuk upacara "Betara Turun Kabeh" (dewata turun semua) yang digelar secara berkesinambungan pada  bulan purnama ke sepuluh setiap tahunnya.

Kharisma Besakih, tidak hanya dikagumi umat Hindu di Bali, namun juga wisatawan nusantara dan mancanegara. Mereka selalu menyempatkan untuk bertandang ke Besakih, jika berlibur di Bali.

Pura Besakih, yang terdiri atas beberapa kompleks bangunan suci yang menjadi satu-kesatuan tak terpisah, pondasinya konon dibangun oleh Rsi Markandeya dari India pada zaman pemerintahan Raja Sri Udayana Warmadewa (1007 Masehi).

Keselamatan dan kedamaian

I Wayan Gunastra yang juga tokoh masyarakat sekitar kawasan suci itu menjelaskan, kegiatan ritual BTK yang diwarisi secara turun temurun bermakna untuk memohon kehadapan Tuhan Yang Maha Esa agar dianugrahi keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan umat manusia serta terhindar dari musibah dan bencana alam.

Pura Besakih adalah tempat suci umat Hindu terbesar di Bali yang mempunyai arti penting bagi kehidupan keagamaan umat Hindu, yakni tempat beristananya para Dewa.

Pura Besakih di lereng kaki Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali itu tercatat dalam prasasti Purana dan lontar sebagai tempat beristananya para  dewa, sehingga  mempunyai fungsi paling penting diantara pura-pura lainnya.

Peran dan fungsi yang sangat istimewa, antara lain sebagai Pura "Rwa Bhineda", "Sad Kahyangan", "Padma Bhuana" dan pusat dari segala kegiatan upacara keagamaan.

Pemerintahan Raja Sri Udayana Warmadewa (tahun 1007), hingga pemerintahan Raja-raja keturunan Sri Kresna Kepakisan (tahun 1444 dan 1454 Masehi) sangat menghormati keberadaan Pura Besakih.

Demikian pula penjajah Belanda yang pernah menguasai Nusantara juga menaruh perhatian besar dengan merestorasi secara besar-besaran terhadap beberapa kompleks bangunan suci yang rusak akibat bencana alam.

Setelah merdeka, pemerintah Indonesia juga melakukan perbaikan terhadap beberapa bangunan fisik yang rusak, sekaligus mengintensifkan pelaksanaan upacara keagamaan.

Pemerintah Provinsi Bali sejak tahun 1967 menyerahkan pengawasan dan pemeliharaan Pura Besakih kepada Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), majelis tertinggi umat Hindu yang kemudian dimandatkan pada "Prawartaka" Pura Besakih.

Hingga kini, Pemerintah Provinsi Bali bersama delapan Pemkab dan satu Pemkot disamping swadaya umat secara bergotong royong mengalokasikan dana untuk memperbaiki bangunan yang rusak maupun mendukung pelaksanaan upacara keagamaan.

Kawasan suci Pura Besakih yang berada di wilayah Kabupaten Karangasem itu sehari-harinya adalah objek wisata yang banyak dikunjungi pelancong. Namun mereka dilarang memasuki tempat-tempat yang khusus untuk persembahyangan umat.

Rakyat Bali sangat menjaga kesucian Besakih, karena mereka  ingin para dewa tetap melindungi dan menebar damai di bumi Bali.

Pada ritual Betara Turun Kabeh kali ini, kembali umat memohon kepada Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa agar Bali terbebas dari musibah dan bencana, sekaligus dianugrahi kesejahteraan dan kedamaian.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono