Kamis, 31 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 31 Juli 2014 | 21:49 WIB
Jokowi dalam Pusaran Krisis Pemimpin
Kamis, 31 Januari 2013 | 00:17 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
Kurnia Sari Aziza Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo meninjau keadaan warga korban banjir Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (26/1/2013). Disana, Jokowi tak hanya meninjau keadaan pengungsi banjir, tapi juga memberikan bantuan kepada warga.

Oleh Hanni Sofia

JAKARTA, KOMPAS.com--Jokowi tidak pernah membayangkan hidupnya akan menjadi milik publik sepenuhnya, meski kini kesehariannya tidak pernah terlepas dari sorot kamera dan kilatan  blitz.

Sejak dilantik menjadi Gubernur DKI pada akhir 2012, mantan Wali Kota Solo itu semakin menjadi pusat perhatian publik.

Sepak terjangnya tampak demikian aneh bagi masyarakat ibu kota yang sebagian besar telah menjadi hedonis, bahkan sebagian yang lain menilai apa yang dilakukan mantan juragan kayu itu sebagai pencitraan.

Jokowi tidak segan melakukan "blusukan" ke perkampungan kumuh warga yang tinggal di bantaran sungai, masuk ke got untuk memastikan sendiri mengapa saluran pembuangan air tidak bisa berfungsi optimal, hingga menghabiskan waktu berhari-hari di pengungsian bersama korban banjir.

Namun hal yang dilakukan pria kelahiran 1961 itu pada dasarnya menerjemahkan arti pemimpin yang membumi dalam definisi yang sebenarnya.

Staf Pengajar  FISIP UNTIRTA Serang yang juga Peneliti di The Community Development Institute (CDI) Dr Agus Sjafari mengatakan, dalam beberapa kesempatan, Jokowi berani menabrak aturan birokrasi ketika mengambil keputusan yang bertujuan untuk menyelesaikan  masalah publik dengan cara yang cepat dan antisipatif.

"Aturan birokrasi yang sangat formalistik dan protokoler merupakan salah satu momok tersendiri di dunia birokrasi kita saat ini sehingga seringkali tujuan pembangunan justru tidak tercapai," katanya.

Ia menambahkan, Jokowi menjadi berbeda lantaran hadir di tengah pusaran politik yang sedang mengalami krisis pemimpin yang membumi yang dirindukan oleh masyarakat.

Masyarakat tidak ingin satria piningit yang sakti mandraguna sebab mereka hanya rindu keluh kesahnya didengarkan oleh sang pemimpin, dipermudah aksesnya terhadap kebutuhan pokoknya, hingga didukung kehidupannya menuju pada titik kesejahteraan.

Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI) Hamdi Moeloek menilai masyarakat kini sangat membutuhkan figur-figur baru sehingga mereka bukan lagi melihat partai politik melainkan tokoh yang diusung.

"Jokowi bisa memenuhi apa yang diinginkan warga karena ia menang atas kedaulatan masyarakat," katanya.

Jokowi juga dinilai menggunakan hatinya untuk memimpin sehingga merasa selalu perlu untuk bisa berdekatan langsung dengan masyarakat dan mewujudkan keinginan mereka.

Alumnus Fakultas Kehutanan UGM itu dalam kesederhanaannya menjadi pemimpin yang lebih dirindukan alih-alih tuduhan pencitraan yang dilemparkan para lawan politiknya.

Raja Bijak

Sejarah mencatat, pemimpin yang bijak adalah raja yang menyamar dan berinteraksi langsung dengan rakyatnya.

Bahkan dalam dongeng kuno di negeri manapun, raja lalim digambarkan sebagai seseorang yang enggan menemui rakyatnya dan lebih suka berpesta pora di dalam istana.

Untuk menyelesaikan masalah kerajaan, ia memanggil punggawa istana dan meminta pendapat dari mereka.

Selanjutnya, ia akan memerintahkan bawahannya untuk menyelesaikan persoalan itu lalu melanjutkan pesta pora di istananya.

Jika dianalogikan dengan situasi saat ini, sudah sangat sedikit sosok pemimpin yang mampu merefleksikan sosok raja bijak yang dirindukan rakyatnya itu.

Tidak salah bila, Indonesia tidak hanya mengalami krisis di satu dimensi sekaligus krisis berat dalam dimensi pemimpin yang merakyat.

Ketika muncul sosok pemimpin dengan kriteria penguasa bijak yang dekat dengan rakyatnya, ia justru menjadi sosok yang aneh sehingga perlu dicurigai.

Sosok itu menjadi pribadi baru yang aneh sekaligus dirindukan.

C.N. Cooley dalam bukunya menulis bahwa pemimpin adalah titik pusat dari suatu kecenderungan, dan pada kesempatan lain, semua gerakan sosial kalau diamati secara cermat akan ditemukan kecenderungan yang memiliki titik pusat.

Pada dasarnya semua orang bisa menjadi seorang pemimpin, namun pada kenyataannya tidak semua orang berani menjadi seorang pemimpin.

Yang paling dibutuhkan oleh seorang pemimpin adalah berani mengambil sebuah keputusan dan bertanggungjawab atas apa yang ia putuskan tersebut.

Dan yang terjadi di Indonesia saat ini adalah krisis kepercayaan terhadap sosok seorang pemimpin.

Itu tak lepas dari kinerja pemimpin yang ada selama ini dianggap tidak sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan rakyat.

Lalu sosok pemimpin ideal bagaimanakah yang diinginkan rakyat Indonesia saat ini?

Mengapa Populer

Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama) Dr H Usman Yatim, MPd MSc, menganalisis pertanyaan mengapa Jokowi mencuat dan begitu populer?

"Semua bilang, dia punya karakter pemimpin ideal. Jokowi orang yang sederhana, tulus, tampil apa adanya, tidak muluk-muluk. Jokowi menjadi tokoh harapan karena dia mengedepankan hati nurani, sesuatu yang sangat langka di negeri ini," katanya.

Poin utamanya, Jokowi memiliki moralitas yang cukup layak dipercaya dengan menimbang rekam jejaknya selama tujuh tahun memimpin kota Solo.

Seperti diketahui, Jokowi mampu membawa perubahan terhadap kota yang sarat dengan unsur budaya keraton tersebut. Selain mengembangkan pasar tradisional dengan memanfaatkan petugas Satpol PP perempuan, Jokowi juga mampu mendorong Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk memproduksi mobil sendiri.

Bahkan, mobil karya SMK itu menjadi mobil dinasnya sebagai pengakuan terhadap karya rakyatnya sendiri.

Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ahmad Amin, berpendapat, pemimpin ideal adalah pemimpin yang mampu mengatur pemerintahannya dengan baik dan mendapatkan hati di masyarakat.

Ia menilai, Jokowi mampu meraih simpati karena sikapnya yang santun, merakyat, dan sederhana.

Bahkan Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute, Gun Gun Heryanto, mengatakan, Jokowi dengan segala kriterianya justru layak menjadi calon pemimpin bangsa.

Di sisi lain banyak yang kemudian khawatir gaya kepemimpinan Jokowi akan melahirkan lebih banyak pemimpin yang munafik.

Kehadiran Jokowi dengan segala sepak terjangnya mendorong para gubernur, bupati dan wali kota itu, saat ini mau tidak mau, suka tidak suka akan "meniru" gaya kepemimpinannya.

Mereka yang sedang menjabat akan mulai lebih banyak terjun ke lapangan bertemu dengan rakyat, berikut berpura-pura mencintai warganya.

Mengingat ini adalah masa ketika Indonesia mengalami krisis pemimpin yang benar-benar membumi.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono