Kamis, 2 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 2 Oktober 2014 | 05:19 WIB
Bangun Pagi
Rabu, 9 Januari 2013 | 11:09 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

google.com

Cerpen Alex R. Nainggolan

Bangun pagi. Sinar matahari. Dingin. Hari-hari berlalu seperti biasa. Hidup yang rutin. Orang-orang bergegas, menggapai mimpi. Suara kendaraan. Orang-orang berjejalan di jalan-jalan.

“Sudah pagi, bangun dong, sayang. Katanya, mau pergi ke kantor pagi-pagi.”
“Sudah pagi?”
“Tuh,” perempuan dengan mata indah itu menudingkan telunjuk ke arah jendela. Dahulu, saat masih remaja ia gemar berlama-lama di tepi jendela. Mengharapkan lelaki. Menunggu seorang pangeran datang menjemput. Memberi ciuman di mulut, setiap pagi. Membuatnya terbang ke atas kabut. Sambil membangunkan laki-laki itu, kemudian menyeduhkan segelas kopi, membawa sepotong handuk, menyuruh lelaki itu segera ke kamar mandi.
Kini, lelaki itu memang telah di sisinya, tidur satu ranjang dengannya. Memeluk tubuhnya saat hujan deras merambatkan dinginnya ke dalam kamar.
“Ayo, dong bangun. Sudah pagi, nanti telat lagi, loh!”
Lelaki itu melirik manja. Minta sesuatu.
“Bangun pagi??”
“Iya, wake up, mister!”
“Don’t you give me a little kiss..?”
Muah.
“Just like that?”
“It doesn’t enough”
“What about big kiss?”
“Ehm..big kiss. Like this..”
“Yeah…”
Mmmmuuuuaaaahhh…
Ada yang bangun, di pagi ini. Di bawah pusar lelaki.
“Ayo dong, bangun. Sudah pagi. Nanti terjebak macet lagi. Kan nggak enak hamper tiap hari kau terlambat.”
“Ini udah bangun.”
“Belum, kau bohong!”
“Sudah. Tidak percaya?”
”Mana?”
“Di sini,” sembari menudingkan jari telunjuk ke arah bawah pusar.
“Ih, nakal. Mulai bandel, ya…”
“Siapa yang ngajarin?”
“Kamu.”
“Nakal.”
“Sama kayak kamu.”
Mereka berciuman lagi. Pagi memang masih dingin.
“Udah, ah…nanti aja kalau pas kamu pulang kerja.”
“Bangunnya sekarang,”
“Kamu yang minta bangunin,”
“O, ya?”
“Iya, tadi malam. Katanya, Ma, besok bangunin pagi-pagi, ya. Gitu loh.”
“O, ya,” si lelaki meraih pundak istrinya. Mereka larut. Dalam kembaranya lelaki itu sempat bertanya dalam hati: sudah seberapa lama aku benar-benar mengenal dirinya? Apakah aku betul-betul telah memahami apa isi hatinya? Yang pernah tersirat dari balik mata beningnya yang demikian indah. Adalah dirinya yang memaksanya bertahan untuk tetap berdiam di atas ranjang.
“Ayo, dong. Bangun! Udah pagi, nih…”
“Sebentar lagi, nanggung nih. Abis kau bangunin yang lain sih,”
Hari sudah terang. Tak kedengaran lagi kokok ayam jantan. Cuma riuh suara percakapan, menembus halaman rumah.
“Aku akan buatkan yang special today. Tapi bangun dulu dong,”
“Kesini,” si lelaki menarik lengannya kembali.
“Nggak mau, ah. Kamu mulai nakal sekarang.”
“Emangnya nakal sama kamu nggak boleh?”
“Jangan banyak-banyak dong.”

Cahaya pagi menetes rendah di sela-sela ruangan. Si perempuan kembali beranjak. Mengingat-ingat, betapa bahagia ia memunyai suami yang teramat menyayanginya. Tak ada yang berubah. Lelaki yang selalu membuatnya selalu merasa remaja.
“Kamu juga ngantor, Ma?”

Ia mengangguk. Ia masih merasa jika lelaki itu masih terasa tampan, masih selalu memenuhi semua sudut dalam rongga hatinya. Lelaki yang selalu ia tunggu, dahulu, di muka jendela. Lelaki yang sampai sekarang masih sering membuatnya hatinya berdegup, saat mendengar kata: sayang dari selusup bibirnya.

“Ya, udah, kita mandi bareng. Abis sudah bangun sih,”
Si perempuan tertawa geli.
“Kenapa tertawa.”
“Yang dibangunin itu, bukan yang anu. Tetapi kamu keseluruhannya.”
“Ini sudah bangun,” lelaki itu telanjang. Berdiri menuju kamar mandi, sambil menyambar handuk yang digantungkan oleh si perempuan di pinggir ranjang.
“Bener nih, nggak mau mandi bareng.”

Si lelaki masuk ke kamar mandi. Bersiul-siul sesuai irama lagu Bangun Tidur: bangun tidur kuterus mandi/tidak lupa menggosok gigi/abis mandi/…

Pasangan itu kembali terlontar ke masa kecil. Masa yang penuh dengan kenangan manis. Masa yang selalu menancapkan jejak kuat dalam tungkai ingatan mereka. Kemudian remaja, menamatkan sekolah, mendapatkan gelar, mencari pekerjaan, menikah, memunyai anak (ups, tunggu dulu. Ini mereka belum punya. Tepatnya belum diberikan kepercayaan Tuhan. Meskipun mereka berdua telah memeriksakan kepada ahli kelamin dan kandungan bila sebenarnya mereka bisa memiliki keturunan. Mungkin, belum digariskan oleh Tuhan), lalu tua. Sesuai dengan trilogi hidup yang paling enak: kecil disuka, muda terkenal, tua kaya-raya, mati masuk sorga. Si perempuan melamun, baru-baru ini ia membaca sebuah artikel di koran, tulisan yang terlampau ngejelimet, berbau filsafat, mirip dengan judul lagu: Jika sorga & neraka tak pernah ada *. Ia kembali termenung.

Suara air di kamar mandi. Pagi masih membelah, turun di sebuah kota. Cahaya matahari dengan lembut melemparkan jejaringnya ke seluruh sudut. Suara siulan si lelaki, siulan yang tak begitu merdu, namun mampu membuat si perempuan tersenyum.

Si lelaki keluar dari kamar mandi. Dengan tubuh yang tak sepenuhnya kering. Dengan sepotong handuk yang dililitkan dari pinggang sampai ke arah paha. Perempuan itu bergumam, “Duh, seksinya lelakiku!”
“Udah mandinya. Udah bangunnya.”
“Kamu, sih yang bangunin.”
Lelaki itu mengenakan pakaian. Bersiap-siap untuk sarapan. Ia melirik kea rah istrinya yang menuju ke kamar mandi, “Kamu bangun juga nggak, Ma?”
“Apanya?”
Si lelaki mengikuti ke dalam kamar mandi.
“Nanti basah, telat ke kantor, dimarahin sama atasan. Nanti aku juga yang kena kesalahan. Nanti aja pas pulang kantor. Aku juga mau berangkat, kita bareng jalannya.”
“Biarin. Abis…”si lelaki mengunci bibir perempuan itu dengan telunjuk kanannya. Kemudian merengkuhnya.

Dalam napas yang terengah-engah, suara air kamar mandi yang mengalir. Suara kendaraan yang menembus kebisingan ruangan si pereempuan berujar, “Apa?”
“Terlanjur bangun pagi.”
Pagi sudah terbangun di kota itu.

Jakarta, Minggu, 5 Februari 2005

Catatan:
* sebuah judul lagu yang dinyanyikan Chrisye & Dhani Ahmad

Tentang Alex R. Nainggolan

Dilahirkan di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku sempat nyasar di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Sabili, Annida, Matabaca, Surabaya News, Lampung Post, Sriwijaya Post, Riau Pos, Suara Karya, Bangka Pos, NOVA, On/Off, dll.
Pernah dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi di LPM PILAR FE Unila.
Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi Ini Sirkus Senyum...(Bumi Manusia, 2002), Elegi Gerimis Pagi (KSI, 2002), Grafitti Imaji (YMS, 2002), Puisi Tak Pernah Pergi (KOMPAS, 2003), Muli (DKL, 2003), Dari Zefir Sampai Puncak Fujiyama (CWI, Depdiknas, 2004), La Runduma (CWI & Menpora RI, 2005), 5,9 Skala Ritcher (KSI & Bentang Pustaka, 2006).
Beberapa kali memenangkan lomba penulisan artikel, sajak, cerpen, karya ilmiah terakhir di Radar Lampung  (Juara III, 2003), Majalah Sagang-Riau (Juara I, 2003), Juara III Lomba Penulisan cerpen se-SumbagSel yang digelar ROIS FE Unila (2004), nominasi Festival Kreativitas Pemuda yang digelar CWI Jakarta(2004 & 2005).

Editor :
Jodhi Yudono