A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: file_get_contents(http://xml.kompas.com/data/banner_on_keyword/on_keyword.php) [function.file-get-contents]: failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found

Filename: controllers/read.php

Line Number: 346

Natal "Mendarat" di Merapi - KOMPAS.com
Rabu, 23 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Juli 2014 | 20:56 WIB
Natal "Mendarat" di Merapi
Jumat, 21 Desember 2012 | 20:07 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Gunung Merapi.

Oleh M. Hari Atmoko

Hujan deras mengguyur kawasan barat daya Gunung Merapi, ketika puluhan orang melantunkan tembang-tembang Jawa dengan iringan gamelan pelog di gedung terbuka "Gubug Selo Merapi", Dusun Grogol, Desa Mangunsoko, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Salah satu tembang Jawa yang mereka lantunkan dengan dirigen Wahyuni itu, berjudul "Dina Iki" (Hari Ini, red.), sedangkan pemimpin para penabuh gamelan yang juga bermain di kendang adalah Sutar.

"Dina iki Sang Penebus, Gusti Sang Kristus uwis miyos ing kuthaning Dawud. Ngidunga kidung anyar, kabeh bangsa ngluhurna Asma Dalem jagad raya’," begitu penggalan tembang itu yang maksudnya kira-kira bahwa Natal telah tiba sehingga umat manusia bersorak gembira meluhurkan nama Allah.

Sejumlah tembang Jawa lainnya yang dilantunkan mereka dalam latihan sore itu antara lain "Santri Ratri" dan "Betlem Sang Timur". Tembang-tembang tersebut mengambil dari buku umat "Kidung Adi". Setelah tembang "Dina Iki" selesai dilantunkan, sang dirigen segera memberikan koreksi atas kekurangannya.

"’Kecepeten’ (Terlalu cepat, red.)," kata Wahyuni sambil wajahnya berpaling kepada pengendang. Maksud perempuan itu, menyampaikan koreksi kepada para penabuh gamelan bahwa tempo iringannya terlalu cepat.

Mereka memang sedang berlatih untuk tugas koor untuk misa malam Natal umat Katolik lereng Gunung Merapi di Wilayah Grogol pada Senin (24/12) malam. Secara keseluruhan, latihan itu dipimpin prodiakon setempat, Andreas Istiyanto, sedangkan ketua wilayah AM Sutarto bersama sejumlah pengurus inti lainnya turut menunggui kegiatan tersebut. Hingga sore itu sebagai latihan terakhir, mereka telah berlatih koor delapan kali, sedangkan iringan gamelan tiga kali.

Umat Katolik setempat yang tinggal di kawasan tiga sungai yakni Senowo, Pabelan, dan Tringsing dengan aliran airnya berhulu di Gunung Merapi berjumlah 585 jiwa. Mereka tersebar di delapan lingkungan yakni Grogol, Kajangkoso, Semen, Dadapan, Krinjing, Sewukan, Jombong, dan Ngampel. Wilayah setempat, bagian dari Gereja Paroki Santa Maria Lourdes yang pusatnya di Desa Sumber, Kecamatan Dukun.

"Misa malam Natal akan kami kemas juga dengan pesta rakyat dan pentas kesenian," kata Sutarto. Setiap lingkungan umat, akan membawa berbagai menu makanan tradisional pedesaan setempat ke "Gubug Selo Merapi" (GSPi) untuk santap malam bersama, usai misa, sedangkan beberapa kesenian yang akan digelar umat antara lain "Soreng", "Warokan", "Remong", "Bajing Loncat", "Yapong", dan "Eksplorasi Anak".

Latihan terakhir untuk mereka yang akan bertugas dalam misa itu bukan hanya menyangkut koor dan pengiring gamelannya, tetapi juga mereka yang bertugas seperti misdinar, pembaca kitab suci dan doa umat, penembang mazmur, serta prosesi umat yang menceritakan bayi Yesus dibawa Maria dan Yesus menuju ke gua natal, sedangkan sejumlah pemuda lainnya mengecek kesiapan tata suara dan tata lampu.

"Gua natal mulai kami kerjakan besok (21/12) sampai Senin (24/12) pagi," kata Ketua Seksi Komunikasi Sosial Wilayah Grogol Susanto.

Gua Natal

Mereka merencanakan pembuatan gua natal di luar pakem gereja pada umumnya. Mereka akan menata sekitar 500 bibit pohon penghijauan di samping kanan altar, menjadi instalasi gua natal sebagai simbol cinta terhadap lingkungan alam setempat.

Berbagai bibit pohon itu, antara lain petai, sirsak, mahoni, dan suren, sedangkan umat akan mempersembahkan aneka bibit dan benih pertanian khususnya hortikultura sebagai persembahan yang akan diberkati romo saat misa malam natal. Bibit dan benih pohon pertanian itu, antara lain lombok, tomat, kubis, padi, jagung, kacang, dan buncis.

"Tidak ada patung bayi Yesus dalam gua natal kami nanti. Kami ganti dengan bibit pohon," katanya.

Aneka bibit pertanian itu, akan diberkati romo pada misa malam natal di tempat tersebut untuk selanjutnya ditanam di lahar pertanian masing-masing umat di kawasan Merapi.

Pemimpin umat Katolik Gereja Paroki Santa Maria Lourdes Sumber, Romo Yoseph Nugroho Tri Sumartono, mengatakan umat setempat mengemas misa malam natal dengan tema "Thukule Wiji Kang Pinilih" (Benih terpilih yang tumbuh, red).

Tema itu sesuai dengan alam kehidupan sehari-hari umat kawasan Gunung Merapi dengan lingkungan pertaniannya. Hal itu agaknya diwujudkan umat dengan pembuatan gua natal menggunakan berbagai bibit pohon.

Mereka memaknai Yesus yang lahir dan dirayakan sebagai Hari Natal itu sebagai bibit pertanian yang ditanam Allah untuk tumbuh serta memberikan harapan kehidupan bahagia manusia."Kedatangan Putra Allah (Yesus Kristus, red), ibarat Allah menanam benih pengharapan dalam iman umat yang petani di Merapi ini. Betapa Allah Bapa mencintai umat-Nya. Dia mengutus Putranya turun dari surga, tertanam dalam hati umat di bumi, untuk menebus dosa-dosa manusia," kata Romo Nugroho dalam bahasa Jawa.

Umat Katolik di kawasan timur Gunung Merapi di Gereja Paroki Kebonarum, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, juga menyiapkan perayaan Natal berbasis ekologinya.

Mereka akan merayakan hari kelahiran Yesus melalui misa kudus pada 25 Desember 2012 di tempat yang dinamai "Griya Budaya Merapi Timur", Dusun Tangkil Deles, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten.

Saat ini, umat setempat juga sedang menyiapkan gua natal yang berbeda dengan kelaziman nya. Mereka membuat gua natal antara lain dari rajutan  bambu dengan berbagai instalasi dari dedaunan seperti  "klaras" (daun pisang), "blarak" (kelapa), dan "klobot" (jagung). Selain itu, instalasi dari ratusan kendi, kurungan ayam, dan alat-alat pertanian.

Setelah misa natal, mereka akan santap bersama dan menggelar pementasan berbagai kesenian seperti jatilan dan monolog natal.

Pada ibadat Natal tahun ini, mereka fokus untuk refleksi terhadap kedalaman makna air hujan, sehingga tema yang diangkat adalah "Ngajeni Banyu Udan" (Menghargai air hujan, red.) Tak hanya dalam masa Natal 2012 kawasan setempat diguyur hujan, namun setiap Desember memang telah masuk musim hujan.

"Untuk tahun ini, umat merintis perayaan Natal dengan menggunakan air hujan yang makna edukasinya untuk mengangkat kearifan lokal Merapi Timur, karena sehari-hari masyarakat setempat menggunakan air hujan," kata Kepala Gereja Paroki Kebonarum, Romo Vincentius Kirjito.

Masyarakat kawasan setempat memanfaatkan air hujan untuk berbagai keperluan antara lain peternakan, peternakan, dan rumah tangga.

Hari-hari menjelang puncak Natal ini, kata Kirjito yang juga budayawan di kawasan Merapi timur itu, umat di rumah masing-masing "menuai" air hujan secara langsung, yang jatuh dari langit (bukan dari genting dan talang), dengan menggunakan kendi.

Romo yang memimpin misa natal, akan memberkati air hujan yang telah ditampung dalam kendi-kendi, setelah dikirab oleh umat dengan iringan tembang dan tabuhan gamelan serta terbangan.

Kirab tersebut mengelilingi dusun setempat yang mengitari "Griya Budaya Merapi Timur". Prosesi yang mereka namai "Kirab Gejug Udan" dengan melibatkan 75 anak itu dengan kurator seniman setempat Agus Bima.

"’Kuwi apa kuwi. E kembange pandan. Ayo dha memuji, ngundhuh banyu udan. Nganggo banyu udan, iku kanugrahan. Gunung Merapi, gagah luhur, sumber penguripan. Kuwi apa kuwi, e kembang e melati. Sing tak puja-puji, aja dha korupsi. Merga yen korupsi, rakyate dha rugi. Piye ta kuwi, ya ngono, ngono-ngono kuwi’," demikian tembang berbahasa Jawa yang akan menjadi pengiring prosesi tersebut.

Kira-kira syair tembang Jawa itu maksudnya sebagai pujian kepada Tuhan atas anugerah air hujan yang turun di kawasan Gunung Merapi dan harapan mereka agar negeri ini bersih dari praktik korupsi.

"Ini ungkapan syukur atas air hujan yang diberikan Allah. Pemaknaanya bahwa Yesus hadir di bumi yang 70 persennya air. Yesus menjadi ’sahabat air’, termasuk air hujan" kata Kirjito.

Umat Katolik di kawasan Gunung Merapi, sepertinya mendaratkan pemaknaan Natal yang tak lepas dari lingkungan kehidupan alam dan kearifan lokalnya.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono