Rabu, 26 November 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 26 November 2014 | 03:27 WIB
Mencari Saudara Lewat Saman
Minggu, 16 Desember 2012 | 23:46 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Penari Saman dari Sanggar Pesona PTPN 1 Langsa, Aceh, membawakan Tari Pukat dalam pembukaan Saman Summit di Plaza Museum Fatahillah, Jakarta Pusat, Jumat (14/12/2012). Selain untuk merayakan pengakuan UNESCO terhadap Tari Saman sebagai warisan dunia tak benda, kegiatan tersebut juga menjadi media silaturahmi para seniman Tari Saman dari berbagai daerah.

Oleh: Budi Suwarna

Saman Summit 2012 mementaskan Saman Gayo dan ”saman baru” dalam sebuah perjamuan yang indah di pelataran Museum Fatahillah, Jakarta.

Mari berseni aha aha

Mari berseni aha aha

Menghibur hati aha aha

Menghibur hati aha aha

Syair itu dilantunkan 15 laki-laki penari saman secara bersamaan sambil meliukkan badan ke depan dan ke belakang. Lantas, mereka menepuk-nepuk tangan, paha, dan dada berkali-kali sambil menggerakkan kepala. Makin lama gerakan mereka makin cepat, makin cepat, dan makin cepat. Seorang penonton berseloroh, ”Apa tangan mereka tidak tertukar?”

Pada satu titik, mereka berhenti bergerak. Lantas bergerak lagi dengan ritme lebih lambat seperti gelombang pasang yang berhenti bergelegak.

Itulah secuplik keindahan Saman Gayo yang dibawakan grup Saman Kampung Kuning, Kutacane, Aceh Tenggara, pada pembukaan Saman Summit, Jumat (14/12) malam di Museum Fatahillah, Jakarta. Penampilan Saman Kampung Kuning mendapat sambutan hangat penonton berupa tepuk tangan dan decak kagum.

Selain Saman Kampung Kuning, malam itu tampil pula Saman SDN Blangkejeren dan Saman Tangke Limo. Ketiganya dianggap mewakili Saman Gayo yang otentik. Di luar itu, Saman Summit yang berlangsung hingga Sabtu (15/12) menampilkan tarian lain bernapas saman seperti Tarek Pukat yang dibawakan 18 penari perempuan dari Sanggar Pesona PPT 1, Langsa, Aceh Timur. Sebagian gerak tari itu seperti saman tetapi menggunakan tali.

Dari Banyuwangi tampil kesenian Rudat Si’Iran yang kental dengan nuansa Islam dan gandrung. Musik Rudat Si’Iran berupa kuntulan dengan syair berupa salawat yang dilantunkan dalam langgam gandrung. Tariannya sendiri campuran antara unsur gerak gandrung dan janger.

Tarian bernapas saman lainnya yang juga ditampilkan di Saman Summit antara lain Tari Indang Pariaman (Minangkabau), Rudat Terengan (Lombok), Rudat Genjring Kuda Kecil (Cirebon), dan Rapai Saman (Jakarta).

Hasnan Singadimayan, budayawan Banyuwangi, mengatakan, kesenian yang tampil dalam Saman Summit memiliki benang merah sama, yakni salawat, hadrat, dan tarian yang dibawakan bersama.

”Pengaruhnya sama-sama dari Islam, tapi ketika salawat dan hadrah sampai ke Gayo, bentuknya jadi saman. Ketika kawin dengan kesenian Banyuwangi, dia jadi kuntulan,” ujar Hasnan.

Indonesia ”basaman”

Seiring dengan deklarasi Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang menyatakan saman sebagai warisan budaya bukan benda pada November 2011, muncul pula pertanyaan tentang ”keaslian” dan ”kepemilikan” saman. Mengapa persoalan itu muncul?

Rajab Bahry, pemain saman dan dosen Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, mengatakan, sejak era 1980-an dan awal 1990-an, saman dipelajari dan dipertunjukkan banyak orang. Sayangnya, pola tari dan penarinya banyak berubah. Saman yang seharusnya ditarikan laki-laki malah ditarikan perempuan. ”Kalau penarinya perempuan meski duduk bersimpuh, sudah pasti tidak bisa disebut saman,” ujar Rajab.

Jika kekeliruan itu tidak diluruskan, Rajab khawatir saman akan kehilangan jati dirinya. Kemudian, dia akan hilang dan kembali tidak dikenal masyarakat.

Kurator Saman Summit, Endo Suanda, memahami kegelisahan masyarakat Gayo perihal ”keaslian” saman. Pasalnya, saman bukan sekadar pertunjukan, melainkan identitas dan instrumen adat masyarakat Gayo untuk membangun ikatan sosial. Saman, misalnya, berperan besar dalam upacara adat utama bejamu besaman—suatu kampung mengundang warga laki-laki dari kampung lain untuk bertanding saman. Dari acara itu, orang yang tidak saling kenal menjadi kenal. ”Mereka membangun kekerabatan baru dan bersaudara setelah bersaman bersama. Itu bukan omong kosong,” ujar Endo.

Itu sebabnya, ujar Endo, hampir semua orang Gayo dari bocah sampai orang dewasa bisa bersaman. Kesenian itu dipraktikkan di hampir semua acara mulai perkawinan, Lebaran, hingga pembukaan kantor bank. ”Pokoknya kapan saja bisa bersaman. Lagi sedih bersaman, gelisah bersaman, senang juga bersaman,” ujar Endo.

Endo mengatakan, Saman Summit tidak dimaksudkan untuk menyelesaikan kontroversi soal ”keaslian” dan ”kepemilikan” saman. Acara ini justru digelar sebagai perjamuan Saman Gayo dan kesenian lain yang bernapas saman. ”Lewat acara ini, kami ingin mengajak semua orang untuk melihat sesuatu yang berbeda. Yang tadinya tidak kenal jadi kenal, bahkan bersaudara seperti jiwa bejamu besaman orang Gayo. Ini (Saman Summit) bejamu besaman-nya Indonesia,” kata Endo.

Saman beserta varian-variannya seperti Rudat dan Rapai sebenarnya mengandung sinkretisme yang pekat antara agama dan kebudayaan lokal. Selain berfungsi untuk menggalang persaudaraan, seni juga kemudian dimanfaatkan sebagai medium syiar agama.

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono