Selasa, 23 September 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 23 September 2014 | 23:22 WIB
Puisi-puisi Nezar Patria
Minggu, 16 Desember 2012 | 23:40 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

google.com

Malin Kundang

Bahkan saat dikutuk menjadi kepompong batu, engkau kalahkan suntuk panjang itu dengan menggambar kembali dirimu. Titik demi titik, lalu garis, dan sebuah bentuk. ”Ini bukan metamorfosis yang sulit,” katamu. Mereka tak tahu. Sebelum menjadi batu, jiwamu adalah kupu-kupu.

2012

Kutaraja 1874

Di Kuala, ada lagu serdadu kumpeni
”Jayalah Willem, sebelum pagi.”

Pada laras senapan yang ria
Ayat-ayat sembunyi
di arus kali,
Lidah naga menari.

Dari Kuala, ya dari Kuala
Kapal-kapal bergerak,
Dari mulut kanon
bau mesiu merambat.

Di Kutaraja, ada doa bergema
”Tuwanku, kami bersiap mati.
Jiwa merdeka, berkalung kenanga.”

Langit gelap
dalam mimpi yang kedap.

Bulan runcing,
berlari di ujung lembing
Pedang kelewang bersijingkat,
dalam khianat.

Siapa menukar sangkur
dengan dusta sungai anggur?

Di jantung Kutaraja
pada subuh hitam itu,
Kumpeni ria bernyanyi
”Jayalah Willem, sebelum pagi.”

2010

Cinta dalam Setengah Blues

Cinta, katamu, adalah tangga nada
dan kau pun mulai menyusun not buta

Kudengar piano itu berdenting, garing
Ada suara saksofon, monoton

Mungkin kau tak mengerti
Cinta bukan partitur biasa

Tak bisa dimainkan dari la
Lalu berhenti sebelum si

2012

Nezar Patria lahir di Sigli, 5 Oktober 1970. Ia bekerja sebagai wartawan, dan berkumpul di Komunitas Tikar Pandan, Banda Aceh.

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono