A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: file_get_contents(http://xml.kompas.com/data/banner_on_keyword/on_keyword.php) [function.file-get-contents]: failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found

Filename: controllers/read.php

Line Number: 346

Kecantikan Perempuan Turki Tak Diragukan Lagi - KOMPAS.com
Jumat, 31 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 31 Oktober 2014 | 17:33 WIB
Kecantikan Perempuan Turki Tak Diragukan Lagi
Kamis, 13 Desember 2012 | 18:35 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

mewso.org
Ilustrasi

TERKAIT:

bukit berjajar
mega berarak
laut dan pelabuhan
rumah-rumah di gigir gunung, di bibir pantai
jalan-jalan
sungai-sungai
bersusun-susun, melingkar mengular
membingkai sejarah bangsa Turk yang berserak di utara, tengah dan barat Eurasia
lalu lahirlah Kazakhs, Uzbeks, Kyrgyz, Uyghur, Azerbaijan, dan Turkmen
sebelum menjelma kekuatan dan kekuasaan yang melahirkan Xiongnu, Kipchaks, Avar Eurasia, Bulgar, Hun, Seljuk, Khazar, Ottoman dan Timurid
di Pegunungan Altai semua bermula

turki, aku datang menjengukmu
ingin kusaksikan lukisanmu yang masih tersisa
tentang perjalananmu yang purba

(di atas istanbul, JY)

Kantuk mulai menyerang sesampainya di ruang tunggu untuk transit di Bandara Ataturk Istanbul. Perjalanan sepanjang 14 jam lebih baru saja saya lalui dengan Turkish Airlines. Tak ada yang menarik di sepanjang perjalanan kecuali kecantikan para pramugarinya. Selebihnya, menu makanan dan minuman nyaris sama dengan menu yang disajikan oleh penerbangan internasional lainnya.

Soal kecantikan perempuan Turki memang tak diragukan lagi. Banyak kawan-kawan saya, tentu saja yang berkelamin jantan, memuji secara berlebihan kecantikan perempuan Turki. Mereka bilang, jika ada lima perempuan Turki, maka yang cantik adalah delapan. Busyet bener deh!

Terus ada lagi yang bilang, "Di Turki hanya ada dua jenis wanita. Yang pertama adalah jenis wanita cantik, dan yang kedua adalah wanita yang cantik sekali.." Wedew....

"Gak ono sing elek blas!" ujar Mas Hes, lelaki berkumis dari Jogja yang jadi teman seperjalanan saya, yang mengatakan dalam bahasa Jawa, bahwa pramugarinya nggak ada yang jelek.
"Mau Mas?"
"Ogah... ogah nolak."

"Bisa untuk memperbaiki keturunan," kata saya.

"Bisa didaftarin jadi pemain sinetron," sahut Mas Hes.
"Ok, akan saya carikan buat anda. Gimana?" tanya saya.
"Ah... jangan... Mahal ongkosnya," jawab Mas Hes seraya tertawa.

Kami pun terbahak, kantuk sedikit terusir. Sebelum kantuk benar-benar datang, kami pun beranjak ke bagian imigrasi untuk mengurus administrasi. Saya membayar 25 dolar USD di bagian imigrasi, sebelum diizinkan melenggang ke ruang tunggu penerbangan domestik.

Pukul 08.30 waktu setempat, pesawat Turkish Airlines membawa saya menuju Ankara. Lantaran telah berganti pesawat yang lebih kecil, pemandangan di dalam pesawat pun telah berubah pula. Para pramugari yang mengawal penerbangan kali ini jenisnya "cantik" saja, tidak "cantik sekali" seperti penerbangan Jakarta-Istanbul. Kali ini, malah ada seorang pramugari yang tidak menjaga berat tubuhnya. Hmmm... ketertarikan saya untuk menikmati karunia Ilahi pada keindahan rupa wanita sudah berkurang kali ini. Kantuk dan capek barangkali yang jadi penyebabnya. Maka, saya pun hanya tersenyum datar saat pramugari memberi saya ransum makan pagi berupa sandwich dan asinan buah zaitun yang sangat asin rasanya.

Setelah makan sekenanya, saya pun langsung memejamkan mata seraya sebelumnya membayangkan kota yang hendak saya tuju: Ankara.

Ankara, masih sejam lagi saya sampai di sana. Kota yang dikukuhkan sebagai ibu kota Turki sejak tahun 1923, ini menggantikan Konstantinopel atau Istanbul. Kota berhawa sejuk lantaran terletak di ketinggian 938 meter di atas permukaan laut itu sama seperti kota bersejarah lainnya, mempunyai banyak nama. Pada abad ke 12 sebelum masehi, kota ini bernama Ankuwash. Kemudian pada jaman Romawi kota ini diberi nama Ancyra. Dan pada zaman kekuasaan Byzantium kota ini dikenal dengan nama Ankyra yang artinya Jankar dalam bahasa Yunani. Orang-orang Eropa menyebutnya Angora sampai pada masa kerajaan Seljuk yang dimulai pada tahun 1073 masehi dan berlanjut secara internasional. Akhirnya Mustafa Kemal Ataturk secara resmi memberi nama Ankara pada tahun 1930 sampai sekarang.

Sensus penduduk pada tahun 2007 menunjukkan, kota terbesar kedua di Turki ini dihuni oleh 4.455.453 jiwa dan sangat penting dilihat dari sisi ekonomi dan industri. Sebagai pusat pemerintahan Turki, di Ankara terletak seluruh kedutaan besar negara-negara lain. Kota ini terletak di daerah terkering di Turki dan dikelilingi daerah stepa dengan berbagai situs arkeologi dari masa Ottoman, Byzantium, dan Romawi.

Oh sejarah... o.... Ankara, sungai-sungaimu mungkin pernah berdarah-darah oleh pertarungan sengit antar bangsa untuk memperebutkan kekuasaan. Benteng-benteng didirikan, peralatan perang dibuat, kuda-kuda yang perkasa dipacu sekuat tenaga untuk memburu lawan, untuk meraih kekuasaan. O... Ankara...

Syahdan, dahulu kota Ankara adalah daerah yang tertinggal, sebelum akhirnya dipilih menjadi Ibu Kota negara. Tapi Mustafa Kemal Ataturk, pendiri negara Turki yang beraliran sekuler rupanya mempunyai pemikiran dan strategi kenapa harus memilih Ankara sebagai ibu kota. Pemikiran tersebut antara lain dengan memperhatikan kondisi geografisnya yang berada pada posisi strategis di tengah-tengah negara Turki tepatnya di daerah Anatolia. Mustafa Kemal Ataturk telah berhasil membawa Ankara yang tadinya merupakan daerah tertinggal dengan jumlah penduduk sekitar 30.000 menjadi daerah yang maju dan moderen saat ini.

Kota Ankara memiliki empart musim karena berada pada posisi daerah sub tropis. Pada musim dingin kota ini beriklim sejuk dan bersalju karena berada pada dataran tinggi. Sedangkan pada musim panas iklimnya terasa panas dan kering. Hujan biasanya turun selama musin semi dan musim gugur. Karena posisinya berada pada dataran tinggi, maka ketika malam hari di musim dingin dan musim panas hawanya terasa sangat dingin.

Saat mata saya terbuka, pesawat yang saya tumpangi ternyata sedang terbang rendah di antara bukit-bukit tandus. Baru kali itu saya merasai terbang rendah seraya meliuk-liuk di antara bukit dan lembah. Pemandangan yang menakjubkan, membuat hati saya tak kecut. Saya justru seperti merasai pengalaman baru dalam penerbangan.

Tepat pukul 11.00, pesawat pun mendarat di Bandara Internasional Esenboga yang terletak di sebelah utara kota Ankara. Saat keluar dari pesawat, suhu udara lebih dingin dibanding saat di Istanbul. Saya kira, sudah mendekati angka 5 derajat celcius siang itu. Setelah urusan bagasi selesai, seorang staf Kedutaan Besar Republik Indonesia bernama Pak Irawan pun menjemput kami.

Menumpang mobil mini bus warna hitam yang disopiri oleh lelaki asli Turki bernama Burhan, kami bersebelas orang menuju pusat kota Ankara.

Ankara seperti Jakarta, di beberapa titik ada juga kemacetan. Tapi tentu, tak separah Jakarta yang kerap macet luar biasa. Konon, saat Ataturk menentukan kota ini sebagai ibu kota negara, bapak bangsa Turki itu memilih kota Ulus yang terletak di pucuk bukit sebagai pusat kota. Kini, Ulus menjadi kota tua yang dipenuhi aneka toko cinderamata, bank, dan institusi bisnis lainnya. Sementara pusat kota dan pemerintahan berpindah lebih ke lembah.

Di dalam mobil kami tak merasai dingin. Alat pemanas di mobil membuat kami merasa hangat. Kondisi ini sangat kontras saat setengah jam kemudian kami sampai di Park Hotel yang terletak di Simon Bolivar Cd No 32 Yildiz Ankara. Hawa dingin langsung menyambar kami saat pintu mobil dibuka. Saya pun langsung bergegas menuju lobi hotel.

Badan terasa makin penat, ranjang di kamar Park Hotel pun menyambut saya yang belum sempat mandi sepanjang 24 jam. Saya memang penat dan ngantuk, tapi tak boleh tidur. Sebab jam dua siang ini, Dubes RI untuk Turki telah menunggu kami di kantornya. Oaaaahemmmmm...... (jy)

Editor :
Jodhi Yudono