Jumat, 29 Agustus 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 29 Agustus 2014 | 10:29 WIB
Banowati dan Ironi Perempuan
Penulis: Lusiana Indriasari | Rabu, 5 Desember 2012 | 11:12 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
Kompas/Lusiana Indriasari Pentas langendriyan (menari dan menembang) berjudul Banowati Jalingan Golek karya koreografer Elly D Luthan di Gedung Kesenian Jakarta, pekan lalu.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kita berangkat dari titik yang sama. Di Simpangampat kita berpisah. Kita berangkat dari titik yang berbeda. Di Simpangampat kita bertemu. Tapi bisa jadi di Simpangampat kita menuju arah yang sama. Meski kaki kita berangkat dari titik yang berbeda.

Penggalan puisi karya Yanusa Nugroho itu dinyanyikan tokoh Banowati, perempuan Astina yang hendak dinikahkan dengan Prabu Suyudana. Ia mencintai Arjuna, namun ia harus menikah secara politik demi kejayaan Astina. Banowati menggeliat di atas panggung. Hatinya resah. Ia ingin orangtuanya mencintai ia apa adanya, tanpa paksaan pernikahan demi kekuasaan. Hidupnya merana.

Suyudana tidak sepenuhnya mencintainya, sementara Arjuna ternyata juga menjalin kasih dengan perempuan lain. Banowati memberontak. Jiwanya yang kosong mempertanyakan, apakah kisah hidup yang dijalaninya itu merupakan kodrat yang digariskan secara sepihak oleh pencipta alam, ataukah kodrat itu sebenarnya adalah pilihan yang telah ia ciptakan sendiri?

Kisah hidup Banowati dalam cerita fiksi Mahabharata itu menggugah kreatifitas penari Elly D. Luthan. Melalui pentas berjudul Banowati Jalingan Golek di Gedung Kesenian Jakarta akhir pekan lalu, Elly menghidupkan beragam emosi tokoh dalam jalinan cerita. Keresahan Banowati, kemurkaan Suyudana atau kegalauan Arjuna dimunculkan Elly melalui gerak tari.

Ia menampilkan satu sosok penari untuk merepresentasikan satu emosi yang ingin diungkap. "Saya harus jujur. Penari itu bukan aktor yang bisa menyampaikan sesuatu dengan kata-kata," kata Elly sesuai pentas yang didukung komunitas Budayaku.

Untuk mengungkap emosi memang ada keterbatasan tubuh sebagai media pesan. Oleh karena itu, Elly membutuhkan lebih dari satu penari untuk mewakili setiap emosi yang ingin ditampilkan. Ia juga ingin membuka realita bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali tidak hanya tampil sebagai satu orang. Elly sendiri tidak mau mengungkap perasaan apa saja yang ingin ia sampaikan melalui tokoh Banowati.

"Interpretasinya saya serahkan kepada penonton," ujarnya. Elly menggabungkan tarian, tembang serta puisi karya Yanusa Nugroho (Simpangampat) dan Gunawan Maryanto (Banowati) sebagai bentuk dialog. Elly yang kelahiran Makassar menggabungkan berbagai gerak tari, mulai dari tari Jawa, Pakarena, hingga sentuhan balet. Gaya balet terlihat dalam adegan percintaan Banowati dan Arjuna. Sedangkan penata gending, Joko Porong, menggabungkan gamelan Jawa, kendang Makassar dan alat musik modern seperti saksofon dan flute.

Pergulatan batin Pentas Banowati adalah bentuk pergulatan batin Elly sebagai perempuan. Seringkali, perempuan tersudutkan oleh konstruksi sosial bernama kodrat dan takdir. Pergulatannya terhadap sosok Banowati sudah ada sejak empat tahun lalu. "Saya bertanya-tanya, kenapa sih ada Banowati yang digambarkan tidak setia dan suka selingkuh. Apa yang hendak disampaikan leluhur kita pada generasi sekarang?" Ungkap Elly.

Ia kemudian mendalami riset tentang Banowati selama dua tahun. Dalam karya-karyanya, Elly dikenal selalu mengangkat sosok perempuan, terutama dari dunia pewayangan. Banowati adalah cermin persoalan yang dihadapi banyak perempuan. Dalam lingkup sosial, perempuan sering mendapat stigma buruk, yang biasanya dikonstruksikan oleh laki-laki.

Melalui puisi Simpangampat, Elly ingin menggambarkan perjalanan hidup manusia. Di setiap persimpangan, hidup seseorang bertemu dengan kehidupan orang lain. Di Simpangampat itu pula, seseorang bisa memutuskan untuk sekedar melintas, menyapa, atau kemudian ikut berjalan bersama orang yang ditemuinya sampai ia menemukan persimpangan berikutnya.

Editor :
Rusdi Amral