Minggu, 21 September 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 21 September 2014 | 02:59 WIB
Festival Seni, Melestarikan Tradisi
Penulis: Lusiana Indriasari | Kamis, 22 November 2012 | 15:36 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

JAKARTA, KOMPAS.com--Keberadaan seni tradisional di Indonesia semakin terkikis  seiring perkembangan zaman. Berbagai jenis hiburan berbasis teknologi membuat seni tradisi tidak lagi dilirik orang.

Sementara itu, cara hidup  masyarakat agraris dan pantai yang menjadi habitat tumbuhnya beragam seni tradisi tersebut juga sudah mulai bergeser. Mereka yang dulunya hidup menjadi petani dan nelayan kini menjadi tukang ojek, buruh pabrik, pegawai kantoran, dan lain-lain sehingga seni tradisi yang lekat dengan ritual kehidupan mereka mulai ditinggalkan.

Salah satu upaya pelestarian seni tradisi adalah dengan mengangkat beragam bentuk kesenian tradisional tersebut ke dalam bentuk festival. Untuk mengenalkan kembali berbagai macam kesenian tradisional,  Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Taman Budaya Provinsi Jawa Tengah mengadakan Festival Seni Pertunjukan Tradisional Indonesia.

Festival tersebut akan dilaksanakan 24-27 November di Pendhapa Ageng Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Jalan Ir. Sutami No. 57, Kentingan, Jebres, Surakarta.

"Melalui Festival Seni Pertunjukan Tradisional Indonesia inilah diharapkan kesenian atau warisan budaya Indonesia tetap terjaga kelestariannya," kata Sulistyo Tirtokusumo, Direktur Pembinaan Kesenian dan Perfilman, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kamis (22/11) di Jakarta.

Ia menambahkan. meski Indonesia memiliki banyak warisan budaya berupa seni pertunjukan tradisional yang lahir, hidup, tumbuh, dan berkembang seiring dengan pertumbuhan masyarakat pencipta dan pendukungnya, namun seni tersebut  kurang berkembang dengan baik. Hal ini disebabkan karena minat anak muda terhadap seni tradisi semakin merosot. Seni tradisi dianggap kuno, tidak sesuai perkembangan zaman, dan tidak relevan dengan kekinian.
"Padahal  seni pertunjukan tradisional mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang sarat dengan nilai dan norma yang bisa menjadi  inspirasi untuk membangun jatidiri dan karakter bangsa," lanjut Sulistyo. Seni tradisi juga  dapat menjadi perekat masyarakat Indonesia yang multikultural.

Berbagai kegiatan yang digelar selama festival antara lain, Pergelaran Seni Pertunjukan Tradisional yang akan menampilkan kelompok seni tari Pakarena (Makassar), Tari Saman (Aceh), Lenong (Jakarta),  Jemblung (Banyuwangi), Srandul (Prambanan), Ketoprak Langen Mondro (Yogyakarta), Wayang Beber (Pacitan), gamelan Slonding (Bali), Tarian Semangat Rindu (Kaltim), Armen Lagkodura (Papua), dan lain-lain.

Festival juga diisi acara  Sarasehan Seni Pertunjukan Tradisional yang akan mengangkat tema“Tradisi Menjaga Harmoni". Selain itu ada juga workshop seni membuat Tatah Sungging, Topeng, dan Batik.

Selain memberikan ruang ekspresi bagi para seniman, tujuan diadakannya festival tersebut adalah untuk mendorong peran aktif seniman dalam upaya pelestarian (melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan) kesenian di masyarakat. Seniman diharapkan mampu mempresentasikan keragaman warisan budaya bangsa serta menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap seni pertunjukan tradisi.

Jadwal Kegiatan:

-Pergelaran Seni Pertunjukan Tradisional 24-27 November
-Pameran Seni Rupa Tradisional  24-27 November 2012 di Galeri Besar dan Galeri Kecil Taman Budaya Jawa Tengah
-Sarasehan Seni Pertunjukan Tradisional  25 November 2012, pukul 08.30 WIB s/d 13.00 WIB berlokasi di Pendhapa Wisma Seni TBJT.
-Workshop Tatah Sungging, Topeng dan Batik
25-27 November 2012 di Ruang Belajar Wisma Seni TBJT.
- Bazaar Seni 24-27 November menggelar berbagai bentuk kerajinan seni tradisi dan cinderamata, diikuti sejumlah home industri dan sedikitnya 15 kelompok pengrajin di wilayah Jawa Tengah.

Editor :
Jodhi Yudono