Jumat, 25 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Juli 2014 | 22:56 WIB
Puisi-puisi Joko Pinurbo
Senin, 19 November 2012 | 07:16 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

michelkeck.com
Ilustrasi


Joko Pinurbo

Biarkan hujan yang haus itu
melahap airmata
yang mendidih
di cangkirmu.

(2012)

Joko Pinurbo

Ibu membekaliku sebuah sungai
yang jernih dan berkecipak-kecipak airnya.
Sungai itu ditanam di telapak tanganku,
mimpi ibu terbawa dalam arusnya.

Bila aku tidur, sungaiku berkelana
menyusuri garis-garis nasibku.
Gemercik di tengah hutan.
Gemuruh di malam jauh.

Bila rindu meluap dan aku banjir,
jari-jari tanganku mengucurkan air.

(2012)

Joko Pinurbo

Perempuan itu membuat keranjang
dari benang-benang hujan
dan menggantungnya di beranda.

Di dalam keranjang ia tidurkan bayinya,
bayi yang lahir dari rahim senja.

Bila malam haus cahaya,
bayi mungil itu menyala
dan keranjang dirubung sepi di beranda.

(2012)

joko Pinurbo

Menjelang subuh lelaki tua itu
keluar dari tidurnya, kemudian masuk
ke dalam batu besar di depan rumahnya.

Di dalam batu ia temukan
bongkahan bening dan biru:
hati hujan yang matang diperam waktu.

(2012)

Joko Pinurbo

Petir yang pecicilan itu
terkapar dihajar sepi
yang sedang mabuk
di atas sajakku.

(2012)

Joko Pinurbo

Tuhan yang merdu,
terimalah kicau burung
dalam kepalaku.

(2012)

Joko Pinurbo

Tiap hari ayah memasukkan
butiran keringatnya ke dalam botol
dan menyimpannya di kulkas.

Bila saya dilanda demam yang ganas,
ayah menuang keringat dinginnya
ke dalam gelas, saya minum hingga tandas.

Ceguk. Ceguk. Asunya amblas.

(2012)

Joko Pinurbo

Pulang dari sekolah, saya main ke sungai.
Saya torehkan kata asu dan tanda seru
pada punggung batu besar dan hitam
dengan pisau pemberian ayah.

Itu sajak pertama saya. Saya menulisnya
untuk menggenapkan pesan terakhir ayah:
“Hidup ini memang asu, anakku.
Kau harus sekeras dan sedingin batu.”

Sekian tahun kemudian saya mengunjungi
batu hitam besar itu dan saya bertemu
dengan seekor anjing yang manis dan ramah.

Saya terperangah, kata asu yang gagah itu
sudah malih menjadi aku tanpa tanda seru.
Tanda serunya mungkin diambil ayah.

(2012)

Joko Pinurbo lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962; tinggal di Yogyakarta. Buku puisi terbarunya: Tahilalat (2012). Kumpulan tweet-nya akan terbit dalam waktu dekat.

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono