Selasa, 2 September 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 2 September 2014 | 10:33 WIB
Uwuh Nasirun, Seni Nasirun
Minggu, 11 November 2012 | 23:35 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Kompas/Th Pudjo Widijanto
Nasirun

Nasirun menghadirkan lebih dari 1.000 karyanya di Galeri Salihara dalam pameran Uwuh Seni. Uwuh dalam bahasa Jawa yang berarti sampah dan ”sampah” yang dihadirkan Nasirun adalah beribu kartu undangan pameran seni rupa yang diobrak-abrik sapuan kuasnya.

Ketika rupa mampu tereproduksi menjadi karya rupa yang baru, itulah yang dihadirkan Nasirun dalam pameran tunggalnya Uwuh Seni.

Di tengah ruangan galeri, sebelas rangka persegi besi bercat putih membingkai kabel-kabel baja yang menguntai ratusan pigura kaca dua arah yang tertata apik. Aneka warna dan nuansa bercuatan dari kertas undangan pameran seni rupa dan peluncuran buku yang telah bersalin wujud menjadi media lukisan Nasirun.

Heri Pemad, sang penata pameran, membuat ide cemerlang untuk menghadirkan ke-apaadanya seorang Nasirun berikut ribuan lukisannya di atas kartu undangan pameran. Heri meletakkan kartu-kartu yang dilukisi Nasirun di bingkai berkaca yang bisa dilihat dari dua arah.

Satu sisi menghadirkan respons Nasirun atas segala rupa di dalam kartu undangan itu. Sisi sebaliknya menampilkan asal- usul kartu yang jadi media lukis Nasirun.

Pilihan itu membuka asal-usul kartu yang menjadi medium karya Nasirun. Salah satu kartu itu, misalnya, kartu undangan pameran Singapore Art Museum yang memuat pesan pribadi direktur museum itu kepada Oei Hong Djien, seorang kolektor lukisan asal Magelang, Jawa Tengah.

Ya, kartu berwarna dasar abu-abu, yang sisi dalamnya telah dilukisi Nasirun dengan sesosok tubuh bersayap di ruang tak berbentuk itu, adalah undangan pameran yang sebenarnya ditujukan kepada Oei Hong Djien.

Entah kapan Nasirun ”memulung” kartu itu dari rumah ”Pak Dokter”, begitu Oei Hong Djien terkadang disapa. Yang jelas, Nasirun mengolah kartu undangan pameran itu menjadi media melukis pada 2012. Begitu utuhnya kehadiran lukisan Nasirun hingga tak berjejak lagi karya asli yang tercetak dalam undangan museum seni rupa ternama di Singapura itu.

Dinding melingkar ruang galeri pun penuh ratusan pigura lain berisi karya-karya Nasirun di atas kartu undangan aneka ukuran yang tersaji padat sekaligus lega. Cara Heri Pemad menata ribuan kartu lukisan Nasirun layak disebut sebagai karya tersendiri, sebuah instalasi dinding dan ruang berbahan karya Nasirun.

Merupa yang ada

Satu yang jelas disuguhkan Nasirun adalah keberanian dan rasa bebasnya menakluk rupa yang telah ada. Imbuhan ”sederhana” yang menampilkan rupa asli kartu undangan ataupun ”menimpa total” rupa kartu undangan membuat kartu-kartu itu hadir kembali dalam napas karya Nasirun yang selalu jenaka, nakal, tak bisa diam, seperti sosok sang perupa asal Dusun Doplang, Kecamatan Adipala, Cilacap, yang selalu banyak tawa itu.

Sebuah undangan lelang karya maestro di Singapura, yang menampilkan lukisan para penari bedhaya karya Srihadi Soedarsono, direspons Nasirun dengan cat merah yang banyak tampil dalam lukisan Srihadi, juga warna emas yang kerap terlihat dalam kanvas Srihadi. Tiga sosok penari bedhaya sepertinya serupa dengan karya aslinya, tubuh-tubuh penari yang condong ke depan seperti bergerak dalam keheningan. Namun, jelas itu bukan keheningan seorang Srihadi.

Kadang Nasirun ”memperjelas” atau ”mengekstremkan”, kadang ”menghancurkan”. Intervensinya hampir pasti menghadirkan kekhasan Nasirun. Sebuah kartu undangan pameran Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia Tahun 2012, yang menghadirkan lukisan potret Raden Saleh muda yang realis, direspons Nasirun dan bersalin wujud menjadi siluet wajah bergaya ekspresionis.

Terkadang Nasirun menyisakan sedikit wujud asli kartu yang diresponsnya, seperti tampak dalam undangan pameran ilustrasi cerpen Kompas tahun 2004.

Salah satu kurator pameran, Nirwan Dewanto, menyatakan, ribuan kartu bekas undangan itu lebih kuat hadir sebagai kesatuan karya, bukan sebagai karya-karya tunggal.

”Yang dramatis memang jumlahnya yang ribuan itu. Sejak awal merancang pameran itu, sudah terbayang bahwa jumlah ribuan dan bagaimana kartu itu ditata akan menjadi kekuatan pameran itu. Nasirun melukisi kartu itu sebagaimana ia melukisi kanvas-kanvasnya,” ujar Nirwan.

Rentang waktu yang lama, baik dalam pengumpulan kartu undangan maupun dalam merespons tampilan dan isi kartu undangan, membuat nuansa beribu kartu undangan itu kaya ragam. Kejutan yang dihadirkan Nasirun atas kartu-kartu undangan itu juga nuansa yang dibangun lewat instalasi dinding dan ruang Heri Pemad dapat dinikmati publik pada 3-25 November, di Galeri Salihara, Jakarta Selatan. (ROW)

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono