Senin, 24 November 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 24 November 2014 | 21:53 WIB
Amba: Enigma Batin Manusia dan Kekonyolan Ideologi
Minggu, 11 November 2012 | 23:28 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Bambang Sugiharto 

Di pulau Buru, laut seperti seorang ibu: dalam dan menunggu. ...Tapi, sesekali, sesuatu bisa terjadi di pulau ini—sesuatu yang begitu khas dan sulit diabaikan—dan orang hanya bisa membicarakannya sambil berbisik, seperti angin di atas batu yang terus-menerus membalun dan menghilang melalui makam orang-orang tak dikenal....”

Begitulah novel Amba dibuka penulisnya, Laksmi Pamuntjak, penyair dan salah seorang penulis esai paling andal negeri ini. Novel ini adalah cerita tentang seorang perempuan bernama Amba yang mencari Bhisma, kekasihnya, setelah 40 tahun berpisah akibat ditahannya Bhisma sebagai tahanan politik di Pulau Buru. Dan, di Pulau Buru itu, Bhisma ditemukan telah meninggal.

Kendati alur utama ceritanya sederhana, novel setebal hampir 500 halaman ini dibentuk dan ditata sedemikian rupa sehingga menawarkan berlapis-lapis kemungkinan makna yang sangat kaya, berkaitan dengan signifikansi kemelut politik tahun 1965, transisi Indonesia pada awal modernitasnya, aneka ironi dan absurditas ideologi, misteri dan kerumitan cinta, hingga kepiawaian memainkan bahasa Indonesia.

Tradisi, ideologi, dan individu

Berjajaran, dan kadang bertabrakan, dengan kisah tentang Amba-Bhisma-Salwa versi Mahabharata, tokoh-tokoh utama dalam novel ini diberi nama serupa, tetapi dengan alur kisah yang konteksnya berbeda: Indonesia seputar 1965.

Amba, Bhisma, dan Salwa pada novel ini adalah orang-orang yang dibesarkan ketika Indonesia dicabik-cabik aneka pertentangan penuh paranoia, ketidakpastian, dan kekerasan antarkelompok (BTI, Pemuda Rakyat, Lekra, Pemuda Marhaenis, kelompok-kelompok agama, dan sebagainya).

Sebagai anak cerdas yang tumbuh dalam aneka benturan itu, Amba hidup dengan aspirasi berbeda dari ayahnya, seorang kepala sekolah yang senantiasa mengandalkan kearifan ala Serat Centhini, Wedhatama, dan bermacam puisi Jawa. Amba belajar Sastra Inggris di UGM dan menjadi pribadi yang berbeda, pribadi yang ”menata pikiran dan dunianya dalam bahasa lain, bukan bahasa bapaknya”.

Sementara tunangannya, Salwa, adalah seseorang yang meniti karier sebagai tenaga pengajar bidang pendidikan di UGM juga. Kendati ayahnya orang Muhammadiyah dan ibunya keturunan NU, Salwa sendiri tak mengikatkan diri secara khusus pada agama ataupun politik. Ia membangun dirinya sendiri sebagai seorang terpelajar yang mengabdi pada dunia pendidikan.

Namun, akhirnya, ternyata Amba mengalami cinta yang sesungguhnya bukan kepada Salwa, melainkan Bhisma, dokter muda lulusan Universitas Karl Marx, Leipzig, Jerman Timur, yang saat itu bekerja di sebuah rumah sakit di Kediri. Sebenarnya Bhisma adalah ”anak Menteng”, tetapi pengalaman di Eropa membuatnya bersimpati pada gerakan kiri, gerakan kaum tertindas. Sayang, pada 1965, ia ditangkap di Yogyakarta, lantas dibuang ke Pulau Buru. Dan, di pulau itu, ia hidup sebagai ”Resi”, penyembuh di antara penduduk, sampai meninggalnya. Dari Bhisma ini, Amba sempat mendapatkan seorang anak, Srikandi. Namun, setelah Bhisma ditangkap, Amba menikah dengan Adalhard Eilers, seorang Amerika yang menghabiskan sisa hidupnya di Indonesia.

Tokoh-tokoh utama novel ini memang individu-individu yang akhirnya keluar dari kerangka akar-akar tradisional awalnya, lantas membentuk sendiri kehidupan masing-masing setelah terbentur dan terseret-seret aneka kemelut zaman yang serba tak terduga arahnya. Mereka adalah orang-orang yang akhirnya tak rela membiarkan diri terpenjara dalam segala sekat identitas ideologis yang stereotip dan berani hidup dalam kesunyian reflektivitas kritis mereka sendiri, sambil sekaligus membiarkan hidup mereka dipanggang oleh sesuatu yang bernama cinta, dalam segala enigma, ambiguitas, dan misterinya. Pribadi-pribadi yang soliter dan marjinal, tetapi yang tahu betul apa yang mereka anggap berharga. Sosok mereka mengingatkan kita pada kaum eksistensialis, yang meyakini bahwa hidup adalah proyek pribadi: tegangan mendebarkan antara kebebasan dan keberanian menanggung konsekuensi.

Artikulasi tak lazim

Yang membuat novel Amba bukan sekadar epik sejarah ataupun roman biasa adalah gaya penuturannya, kedalaman pelukisan psikologi para karakternya, reflektivitasnya yang filosofis dan erudit, kecermatan pemerian latar, suasana dan duduk perkara, yang menunjukkan riset mendalam, serta struktur pengemasannya yang eksperimental.

Hal yang langsung menonjol adalah keterampilannya dalam mengeksplorasi kekuatan bahasa Indonesia. Keseluruhan tuturannya tidak saja puitik dalam arti berenda-renda, tetapi terutama puitik dalam arti mampu mengartikulasikan situasi-situasi batin konkret yang sebetulnya tak terartikulasikan, melukiskan adegan-adegan yang sesungguhnya tak terlukiskan, dan dengan cara itu setiap adegan sekaligus ditarik ke dimensi makna lebih dalam.

Ada keterampilan luar biasa dalam mengeksplorasi diksi dan memainkan kemungkinan-kemungkinan semantik di sana. Tengoklah frasa macam ini, misalnya: ”Samuel meletakkan tangannya pada lengan perempuan itu. Lengan yang seperti bukan lengan, melainkan sesuatu yang kering, sesuatu yang datang dari sebuah paceklik”.

Di antara halaman-halaman novel ini bertebaran serpih-serpih perenungan filosofis yang sesungguhnya pelik dan mendalam, tetapi dituturkan dengan ringan dan segar. Dalam sebuah dialog imajiner antara Bhisma dan anaknya yang tak ia kenal, misalnya, si anak berkata: ”Aku masuk dunia seni”…”Aku mencoba menjelajah celah yang retak antara kata dan benda”.

Dari sisi arsitektur-bentuknya, novel ini pun unik. Hubungan intertekstual antara kisah Mahabharata dan alur novel dieksplisitkan dengan meletakkan kutipan-kutipan tertentu dari kitab Parva pada awal setiap ”buku” (bab). Sementara alur cerita ditata dalam bentuk selang-seling antara narasi, tulisan surat-surat, monolog interior yang dicetak miring, dan sesekali kutipan-kutipan Serat Centhini.

Ada, memang, bagian-bagian tertentu yang terasa agak kedodoran (redundant), seperti bagian masa kecil Amba yang agak terlalu panjang, atau juga bagian-bagian monolog interior tertentu yang sering kali kabur maknanya, meskipun kadang terdengar indah bagai musik. Namun, ini sebenarnya tak seberapa mengganggu.

Sudah banyak memang novel yang bercerita tentang tragedi tahun 1965 dengan bermacam konsekuensi psikososialnya. Namun, tak berlebihan rasanya jika dikatakan bahwa dari sisi kematangan penguasaan bahan, erudisi, dan kedalaman visi kemanusiaan, serta kepiawaian olah bentuknya, Amba adalah novel bertaraf world class. Di Indonesia sendiri, kiranya ini adalah salah satu puncak baru dalam pencapaian sastra kita. Semoga versi bahasa Inggris dari novel ini tak harus menunggu terlalu lama untuk dapat disambut dunia.

Bambang Sugiharto Guru Besar Estetika; Mengajar di Unpar dan ITB, Bandung

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono