A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: file_get_contents(http://xml.kompas.com/data/banner_on_keyword/on_keyword.php) [function.file-get-contents]: failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found

Filename: controllers/read.php

Line Number: 346

Puisi-puisi A Muttaqin - KOMPAS.com
Kamis, 2 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 2 Oktober 2014 | 23:29 WIB
Puisi-puisi A Muttaqin
Minggu, 11 November 2012 | 23:24 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

http://www.layoutsparks.com
Ilustrasi

Repetisi

Di gang itu, sepasang kaki tumbuh. Kau lukis kaki itu, dengan garis-
garis tipis, seperti kerinduan yang tak tertepis.

Di gang itu, sepasang bibir bertemu. Kau lukis bibir itu. Dengan warna
langit senja. Juga sedikit sapuan oranye. Sebuah aksen yang aneh.
Seperti bunyi ”tik” pada gigi. Ketika cium bertaji.

Di gang itu, si maut menunggu. Kau lukis maut itu. Tepat, ketika si
maut melangut, dan luput mencium keningmu.

2012

Gajah yang gaduh, lekas menjauh.

Jangan halangi jalanku.
Aku cari-cari cermin untuk wajahku.
Mulai cermin abu
cermin batu
cermin hantu
sampai cermin air
yang mengalir licin dari lipatanku.
Tapi tak kutemukan wajahku.
Semut-semut yang mendekat telah kucegat.
Tapi tidak.
Semut tak dapat dicegat.
Tiap malam
semut-semut tetap menggerogoti tubuhku.
Hingga tubuhku berlubang dan tembus pandang.
Lalu seekor burung hantu berdiam di situ.
Membawa dua tikus hijau
juga seekor terwelu
yang sekarat dan melepas bulu-bulu
di selingkar tidur burung hantu itu
seperti sarang teluh
yang menghalau pandangku.
Tak ada yang kulihat
selain kabut dan kelambu.
Tapi mengapa si badan begitu lugu
dan percaya pada penglihatanku.
Padahal aku hanya mata
mata dungu
yang bahkan tak bisa
melihat wajah wujudku.

2012

Malam adalah jeruk ajaib. Dengan biji-biji dan daging kuning yang
mengembang ke kantung mimpi. Kukupas dengan jari. Dengan
gerimis di hati. Sebab pisau pastilah melukai dagingnya. Memburai
kecut air atau minyak purutnya.

Begitu juga kau. Kau juga jeruk. Yang menguningkan jantung dan
mimpi. Dengan biji dan daging rawan tersembunyi. Kukupas dengan
jari. Dengan kelembutan embun pagi.

Tapi kau malah menyarankan aku pakai pisau. Meminta aku mencucup
getah di lipatan rahasiamu. Mengoyak biji dan daging rawanmu.

Juga gelambir palsu yang menyesatkan doa-doa di ujung telunjukku.

Di malam jeruk itu.

2012

Aku pacari pantat, sebab pantat subur dan tak terlabur siasat.

Kami tidur bersama.
Mandi bersama.
Makan malam di sebuah restoran tua bekas bar Belanda.
Kami lalu masuk ruang karaoke.
Meminum kisah pahit, sedikit demi sedikit.
Juga sesekali menjilati es krim rasa sepi.
Tidak.
Sepi tak pernah mampir pada kerucut es krim mini.
Sepi tak bakal berani mendekat ke ranah ini, di mana pantat, segala
pantat dari berbagai kasta dan usia, datang dari penjuru bumi.
Sebelah mata anak sepi bahkan telah kutonyo, ketika ia menjeratku
dengan benang pirang, menunjukkan potret kecilku yang ia gambar
pada layang-layang remang.
Tidak.
Sepi tak akan mampu membawaku ke masa perdu, di mana bunga
dan getah rekah, seperti ilusi pada puisi pedih.
Sepi juga tak bakal mampu menipuku dengan jubah semu
lalu bersuci-suci menjual khutbah & petuah para nabi.
Maka dengan pura-pura yang parah, kupacari pantat ini.
Kumanjakan ia dengan lagu-lagu brutal dan joget paling liar.
Berkali-kali pantat memuji selera laguku.
Dan aku nikmati pantat berjoget, sambil menahan ledak tawaku.

2012

Seperti awal sebuah sandal. Padahal mereka dahulunya saudara
kembar. Satu lahir dengan aran kanan. Satunya lagi dipanggil kiri.

Aku tak tahu, siapa yang membuat mereka saling melengoskan
arah. Memilih pisah. Walau semula mereka makhluk paling akur.

Dan sabar. Tanpa gentar, mereka mengangkat kaki. Melindungi
putih telapak dari tai dan tembelek lantung yang tercecer di jalan.

Mereka juga tak pernah iri pada topi. Apalagi dengki pada peci
yang merasa paling bersih dan mengejek keduanya dari tinggi.

Tidak. Mereka tak mudah terganggu pada perkara remeh macam
itu. Keduanya cuma melebar. Menahan berat kaki. Atau sekadar

Menuruti sunah karet pada diri. Tak terbersit niat saling mengkhianati.
Bahkan ketika ada kaki memaksa mereka untuk saling mendahului.

2012

Aku tak tahu, kenapa bulan itu kerap berkedip seperti mata malap
mengintipku. Aku berjalan ke sebatang gang di mana kau tak ada.
Tampak tak ada. Hanya kucing suruhanmu yang terus menguntitku.
Aku bicara pada kucing itu. Tapi si kucing tak menyahut suaraku.
Lalu kutendang ia. Dan tahulah aku, bahwa ia kucing bisu. Aku
katakan pada kucing itu, kalau aku pernah belajar bahasa binatang.
Kucing itu mengangguk dua kali dan pergi. Setelah kutunjuk ke arah
sepi, di mana aku meletakkan gurami goreng dan nasi. Aku terus
berjalan. Melewati kerumunan dan pasar malam. Dari lapak ke lapak
aku hanya bertemu penjual mata. Aku ingat pembunuhan massal yang
pernah melibatkanmu. Kupacu langkah mejauhi pasar itu. Melewati
odong-odong yang matanya terus terbelalak mengawasiku. Lalu aku
berbelok ke warung soto. Aku lapar, tapi aku yakin, tiga ayam yang
dipaku di rombong soto itu juga kirimanmu. Ayam malang yang tak
henti-henti merintih: Gusti, kenapa Kau tinggalkan kami…

2012

A Muttaqin lahir di Gresik, tinggal di Surabaya. Buku puisinya adalah Pembuangan Phoenix (2011).

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono