Senin, 21 April 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 21 April 2014 | 14:04 WIB
Sejarawan: Eksistensi Kerajaan Pajajaran Tak Perlu Diragukan
Kamis, 1 November 2012 | 01:20 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

BANDUNG, KOMPAS.com — Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Jawa Barat Dr Mumuh Muhsin Zakaria menyatakan, eksistensi Kerajaan Sunda atau Pajajaran dan Sri Baduga Maharaja tidak perlu diragukan lagi.

"Yang harus didiskusikan bukan lagi apakah Kerajaan Sunda, Pajajaran, atau Sri Baduga itu ada tidak karena keberadaan sudah tidak perlu diragukan lagi, berdasarkan fakta yang jelas dan otentik," kata Mumuh Muhsin pada Bedah Naskah Kuno "Sri Baduga Dalam Kajian Sejarah, Filologi dan Sastra Lisan" di Hotel Baltika, Kota Bandung, Rabu (31/10/2012).

Menurut Mumuh Muhsin, Kerajaan Sunda atau Pajajaran adalah fakta sejarah. Demikian juga Sri Baduga Maharaja, yang adalah tokoh sejarah, bukan dongeng dan bukan mitos.

"Keberadaan keduanya didukung oleh banyak sumber, mulai dari sumber lisan, hingga sumber prasasti. Prabu Siliwangi adalah nama julukan untuk Sri Baduga Maharaja. Prabu Siliwangi tokoh sejarah yang melegenda," katanya.

Sementara itu, Taufik Ampera, dosen Fakultas Ilmu Budaya Unpad, menyatakan bahwa Prabu Siliwangi merupakan tokoh legendaris dan mitologi yang banyak dikisahkan dalam cerita lisan Sunda, seperti dongeng, cerita pantun, dan wangsit.

Prabu Siliwangi dalam sastra lisan merujuk pada tokoh seorang raja di Kerajaan Pajajaran, yang terkenal dengan kebesarannya, kepemimpinannya, kebijakan, kegagahan, kejayaan, kecerdikan, dan keadilannya.

"Mitos Prabu Siliwangi di Leuweung Sancang mulai redup seiring dengan perkembangan zaman, dan pudarnya keyakinan masyarakat terhadap mitos tersebut," katanya.

Adapun mitos Prabu Siliwangi yang berkembang di Gunung Salak, menurut Taufik Ampera, semakin kuat dengan ditunjang realitas fakta yang terjadi di sekitar Gunung Salak, seperti kecelakaan pesawat terbang dan pembangunan Pura Parahyangan Agung Jagatkarta Tamansari Gunung Salak.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono