A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: file_get_contents(http://xml.kompas.com/data/banner_on_keyword/on_keyword.php) [function.file-get-contents]: failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found

Filename: controllers/read.php

Line Number: 346

Ketika Kuda Lumping Kesurupan - KOMPAS.com
Senin, 24 November 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 24 November 2014 | 05:03 WIB
Ketika Kuda Lumping Kesurupan
Selasa, 9 Oktober 2012 | 08:17 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
KOMPAS.com/SLAMET PRIYATIN Kelompok kesenian kuda lumping saat tampil dalam festival kesenian rakyat di Alun-alun Kendal, Jawa Tengah, Kamis (12/7/2012).

Di tengah tabuhan gamelan pengiringnya, dua belas penari kuda lumping "Turonggo Bekso" Kecamatan Gamping, Daerah Istimewa Yogyakarta, membentuk konfigurasi mengerumuni pawangnya di arena pementasan tepian alur Kali Boyong, kawasan Gunung Merapi.

Bunga mawar warna merah dan putih ditaburkan bersamaan dengan satu kali lecutan cemeti cukup keras di tengah gerak konfigurasi tarian tradisional itu.

Sekejap kemudian, para penari kuda lumping yang pentas di kompleks "Oemah Petroek", Karangkletak, Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta itu pun menggelepar ke tanah.

Mereka kesurupan, beberapa kru kelompok kesenian kuda lumping itu menjaga satu per satu mereka, sedangkan para penabuh gamelan terus memainkan nomor-nomor pengiring tarian dengan lantunan tembang-tembangnya itu. Mereka yang kesurupan itu terkesan membentuk gerak tubuh menyerupai beberapa binatang.

Para penari yang telah dalam balutan kesurupan itu pun melanjutkan pementasan. Sesekali mereka dilayani oleh kru lainnya saat ingin meneguk air minum atau makan apa saja yang dipilihnya, dengan diambilkan dari berbagai sesaji di atas meja, di satu sudut pementasan beralas tanah dengan rerimbunan pepohonan setempat.

Pementasan itu bagian dari sarasehan "Kesurupan Kuda Lumping" yang diselenggarakan pengelola Bentara Budaya Yogyakarta bekerja sama dengan "Oemah Petroek", Kabupaten Sleman. Pembicara utama sarasehan itu adalah pengajar Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukkan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Sumaryono dan budayawan Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, Menoreh) Magelang, Jateng, Sutanto Mendut.

Hadir pada kesempatan itu, antara lain, Direktur Eksekutif Bentara Budaya Hariadi Saptono, pengelola "Oemah Petroek" yang juga budayawan G.P. Sindhunata, kalangan seniman, dan pemerhati budaya terutama berasal dari Yogyakarta dan beberapa lainnya dari Magelang seperti Joko Pekik, Nasirun, Pramono Pinunggul, Arahmaiani, dan Yuswantoro Adi.

Selain itu,  Ismanto, Supadi Haryanto, Riyadi, Damtoz Andreas, Dorothea Rosa Herliany, Romo V. Kirjito, kalangan mahasiswa ISI Yogyakarta, dan mahasiswa program pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Sindhunata mengatakan bahwa acara itu tidak lepas dari pernyataan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo beberapa waktu lalu tentang suatu pementasan kuda lumping di Kota Magelang yang dinilainya sebagai terjelek sedunia.

Pernyataan Gubernur Jateng itu menuai reaksi di beberapa daerah karena jenis kesenian tradisional itu tak hanya berkembang di Jateng. Bahkan disebut Sumaryono bahwa kesenian tradisional itu tumbuh dan berkembang di desa-desa, antara lain, di Yogyakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Selain itu, para transmigran berasal dari Jawa di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi juga mengembangkannya. Kesenian kuda kepang juga ada di Malaysia bagian selatan karena dibawa oleh orang-orang Jawa yang menetap di daerah itu.

Banyak sebutan secara berbeda-beda di setiap daerah untuk jenis tarian tradisional itu seperti kuda lumping, jaran kepang, jatilan, oglek, incling, ebek, jaranan dor, dan senthe rewe. Namun, inti kesenian itu, para penari berpasang-pasangan menggunakan kuda kepang dan pedang dengan gerak tarian menggambarkan suatu perang.

"Kalau protes sudah lewat tentunya, sekarang acara lebih reflektif. Terima kasih kepada Bibit Waluyo karena kita bisa membaca bahwa pemimpin kita mencintai budaya hanya di luar, namun di hati tidak ada. Jatilan tersinggung. Ini mewakili global yang total menyudutkan seni tradisi," kata Sindhunata.

Kesenian tradisional betapa pun jeleknya, kata dia, tetap hidup dalam masyarakat.

"Ndadi"

Para pemain kuda lumping yang sudah kesurupan atau biasa disebut "ndadi", sebagai saat paling menarik dalam pertunjukan kesenian tersebut.

Lazimnya orang menyebut "ndadi" karena para penari kuda lumping itu kemasukan roh. Dalam kesenian kuda lumping itu disebut Sumaryono ada peran pawang dengan aneka sesajinya. Pawang bertugas memasukkan dan mengeluarkan roh  serta mengatur dan mengendalikan adegan "ndadi".

"Adegan ’ndadi’ inilah yang menjadi puncak atau klimaks pertunjukan kesenian jatilan, karena membuat keelokan yang luar biasa," katanya.

Penari yang kesurupan, katanya, lebih atraktif dalam menari. Mereka antara lain bisa makan kaca dan mengupas kelapa dengan gigi. Meskipun belakangan, hal itu ada teknik tertentu.

Pramono saat berbagi komentar tentang kuda lumping menyebut bahwa tarian itu belum total disuguhkan jika gerakan para penarinya masih monoton karena belum kesurupan.

"Setelah kesurupan, gerakan menjadi dinamis karena penarinya menari keluar dari aturan yang membelenggu sehingga estetika lebih bagus, improvisasi lebih tinggi," katanya.

Belakangan, kata Sumaryono, adegan "ndadi" dalam pentas kuda lumping banyak dihilangkan, terutama pada forum festival atau lomba yang waktu penampilan dibatasi.

Namun, adegan"ndadi" tetap disuguhkan pada pementasan di desa-desa terkait dengan hajatan warga ataupun acara bersih desa.

Sutanto Mendut yang juga pengajar program pascasarjana ISI Yogyakarta itu menyebut sulit mendeskripsikan secara rasional bahwa kesurupan atau "ndadi" sebagai penari kuda lumping kemasukan roh.

"Kesurupan karena roh sulit dideskripsikan dengan rasio yang dipelajari secara keilmuan. Akan tetapi, deskripsi tentang penari yang kesurupan adalah kemanusiannya. Mereka yang seniman desa itu dengan kesurupannya adalah interkultural," katanya.

Pada kesempatan itu, dia menyatakan fenomena menarik terhadap berbagai peristiwa kesurupan yang menimpa para pelajar saat jam sekolah di berbagai daerah, sedangkan Sumaryono menyebut kesurupan juga telah berkembang sebagai metaforis.

Di Komunitas Lima Gunung, kata Sutanto, mereka yang menari kuda lumping hingga kesurupan itu setiap hari bekerja keras mengolah lahan pertaniannya. Namun, mereka juga membutuhkan kemenyan saat berkesenian.

Ia menyebut kesurupan dalam pementasan kuda lumping di desa sebagai tidak berbahaya, baik terhadap penari maupun masyarakat yang menyaksikannya.

"Kalau kesurupan identik dengan setan di kota dan hantu di desa, maka kesurupan di desa tidak membahayakan karena ’setan’ di desa multikultural. Penari yang sudah kesurupan saat pentas di desa di Gunung Sumbing, bisa diajak berfoto," katanya.

Lain lagi dengan pernyataan seorang tokoh Komunitas Lima Gunung, Riyadi, pada sarasehan "Kesurupan Kuda Lumping" itu, yang menyangkut kesenian masyarakat petani desanya di kawasan Gunung Merbabu.

Kesenian milik seniman petani setempat yang kontemporer desa itu tetap memerankan kehadiran pawang dengan sesaji seperti kembang mawar dan kemenyan dalam pementasannya.

"Untuk menyembuhkan penari dari kesurupan, cuman saya bisiki dengan kalimat ’Wartawan sudah tidak ada’. Lalu sembuh, semua gembira," katanya disambut gelak tawa mereka yang mengikuti sarasehan di Pendopo "Oemah Petroek" Karangkletak itu.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono