Jumat, 31 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 31 Oktober 2014 | 01:10 WIB
Iskan, Magnet dari Ngawi
Rabu, 3 Oktober 2012 | 23:17 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Uki Bayu Sedjati
Iskan saat tampil di panggung teater.

Apa yang bisa diperbuat oleh seorang pensiunan pegawai negeri? Asal tahu saja, bahwa makin tinggi jabatan maka semakin banyak kemungkinan kejiwaannya terganggu oleh post power syndrome alias sindroma masa berjaya.

Perilaku pensiunan bermacam-macam, ada yang bak pepatah makin tua makin berminyak, ada pula yang nelangsa mengalami tulang belulang makin keropos. Tentu berpulang kepada cara mensikapi hidup. Bagi mereka yang menjalani kehidupan dunia sebagai mahluk yang bersahaja, bukan memburu pangkat maupun harta, tak merasa kehilangan lantaran selalu ikhtiar agar bermanfaat bagi sesama.

Perasaan tambah menua tambah renta ternyata tak dialami oleh Mohammad Iskan, akrab dipanggil mbah Iskan. Semasa muda bergabung dengan Sanggar Bamboe, Yogya, terutama bergelut dalam senirupa, sastra dan teater menjadikannya mengalami duka dan suka dengan legawa. Ia mengaku tidak menjadi anggota Bengkel Teater Yogya-nya WS Rendra, tapi ”hampir di setiap latihan saya hadir, nongkrong di pinggiran saja. Saya catat pikiran mas Willy, cara latihan pernafasan, latihan gerak..,” ungkapnya mengenang. Ia akrab dan boleh dibilang anggota pertama Teater Mandiri yang dibentuk Putu Wijaya.

Menetap di Ngawi, kota kabupaten yang letaknya tak jauh dari perbatasan propinsi Jawa Tengah – kini, pada usia 71 tahun - tak membuat mbah Iskan berhenti berkarya. Di kota kelahirannya ini ia membuka sanggar seni, melatih kreativitas generasi muda, siswa setingkat SMA dan SMP. ”Kalo lagi musim lomba baca puisi, wah, rumah ini rame. Guru-guru kesenian mengutus siswanya untuk latihan di sini he he he.” Selain tetap melukis, ia juga menulis naskah monolog dan mementaskannya. Salah satunya berjudul ”Lorong.”

Tak Padam

Seorang tua mengenakan busana biasa, menyangking tas di pundak berjalan mencari pekerjaan. Dari wajahnya yang sudah keriput masih terpancar sisa-sisa keuletan masa muda. Buktinya, walau usianya lebih dari 70 tahun ia berkeinginan untuk tetap bekerja.

Semangat boleh dipuji, tapi siapa, perusahaan apa, yang mau menerima dan mempekerjakan lelaki tua? Tak kenal putus asa, ia berjalan kaki mendatangi kantor-kantor untuk melamar pekerjaan. Padahal, setiap kali wawancara selalu saja diakhiri dengan penolakan. Tapi, pak tua pantang surut melangkah. Sampai suat saat ia melihat di antara bangunan-bangunan ada lorong, yang entah kenapa seperti menjanjikan terpenuhinya harapan. Ia masuki lorong itu, yang ternyata di dalamnya bertemu dengan lorong lain, berbelok ke kanan bertemu lorong, ke kiri pun demikian. Begitu banyak lorong ia jalani. Suatu kali ia melihat ada pintu, yang terbuka lebar seolah menunggu kehadirannya. Segera ia masuk, ke dalam ruangan, yang di dinding lain ada pintunya pula. Ia masuki dan bertemu pintu lagi, begitu berulang kali. Sampai ia lelah, sampai ia merangkak tapi tanpa keluh, terus merangkak..., dan terjerembab.

Perjuangannya tak menghasilkan apa-apa selain lelah letih. Sampai ia dibangunkan oleh istri dan anaknya. Membuat ia sadar bahwa pada usia renta wajib mawas diri. Semangat boleh tak kunjung padam, namun kondisi fisik harus dipertimbangkan.

Tepuk tangan penonton menunjukkan bahwa penampilan mbah Iskan  beroleh pujian yang sangat memadai. Ia menyeka keringat sambil tersenyum lebar. Minimal ia telah menularkan semangat bahwa bertambahnya usia tak berbading lurus dengan kemampuan olah kreatif.

Dan penonton, yang malam itu sebagian generasi muda, menjadi catatan sendiri – karena mereka menyaksikan peristiwa, bahkan boleh disebut upacara teater di Ngawi. Di aula yang menampung sekitar 100 orang, duduk lesehan, pentasnya dilakukan dalam format arena. Antara penampil dan penonton hanya berjarak satu meter.

Local Wisdom

Itu sebab, ketika Kusprihyanto Namma, tampil memerankan seorang pembunuh bayaran, penonton merespons gerak-gerik lagak gayanya. Monolog yang ditampilkan digubah dari cerita pendek karyanya sendiri, berjudul: Tom. Memang, pak Kus – begitu murid-murid memanggilnya, adalah guru di Madrasah Aliyah Negeri – yang mengabdikan dirinya dalam kegiatan kesenian. Selain dikenal sebagai satu dari sekian tokoh yang bersemangat menghadirkan ”sastra pedalaman” – niat mulia untuk membangkitkan ”local wisdom” – lulusan Universitas Sebelas Maret Sala, ini sekitar 19 tahun lalu mendirikan Teater Magnit. Minimal setiap tahun ia dan anggota teaternya menggarap tampilkan tiga pertunjukan.

Penampilan mbah Iskan dan pak Kus malam itu, di akhir September, merupakan bagian dari pentas rutin Tetater Magnit. ”Saya tampil buat menemani mbah Iskan. Beliau bilang kalo aku pentas kamu juga mesti pentas..”

Dengan jaket kulit dan kacamata hitam,” Aku Tom, pembunuh bayaran yang sudah sukses menghabisi siapa saja, sesuai pesanan..” tampak meyakinkan. Lantas ia menceritakan satu-dua kejadian saat menjalankan tugas. Mulai dari penerimaan pesanan lewat telpon genggam, menguntit calon korban, sampai saat eksekusi. Detil. Ciri pembunuh berdarah dingin.

Pesanan berikut adalah membunuh seorang perempuan. Janda lagi. Secara cermat dan sigap diperagakan cara menyelinap, sampai masuk rumah, mendekati calon korbannya, dan menyiapkan pestol. Sebelum eksekusi dilakukan, uniknya antara calon pembunuh dan calon korban terjadi dialog. Pada sisi ini keterampilan Kusprihyanto Namma sebagai penulis cerpen tampak meyakinkan. Sebagaimana sastrawan Perancis Guy de Maupassant, ending cerita diolah sedemikian rupa sehingga di luar dugaan pembaca. Begitu juga penonton, yang seksama mengikuti adegan-demi-adegan.

Dua nomer monolog yang prospektif. Beda genre beda pula usia pemerannya. Ya, tak ada kota kecil, juga tak ada peran kecil, yang ada seniman dan kota kerdil – yang malas mengolah kreatifitas seni warganya. Benar.

Uki Bayu Sedjati

Editor :
Jodhi Yudono