Selasa, 25 November 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 25 November 2014 | 00:38 WIB
Elegi Masjid Raya Pekanbaru
Kamis, 20 September 2012 | 00:38 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

st302995.sitekno.com
Ilustrasi

Oleh Teguh Priyanto

Tak ada keagungan yang tersisa dari Masjid Raya Pekanbaru. Masjid yang dibangun pada 1762 oleh Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah, Raja keempat Kerajaan Siak Sri Indrapura itu, tinggal menyisakan enam tiang nan rapuh lagi kusam, mimbar khutbah berukir kaligrafi, dan sebuah sumur tua berair melimpah.

Pemerintah Kota Pekanbaru di masa kepemimpinan Walikota Herman Abdullah, empat tahun lalu membongkar mesjid tertua di ibukota Provinsi Riau itu, dan menggantinya dengan masjid modern berarsitektur Turki.

Sayangnya, hampir empat tahun sejak dipugar, bangunan pengganti masjid yang bertemali erat dengan sejarah terbentuknya kota Pekanbaru tak kunjung usai.

"Sudah masjid yang lama dibongkar, yang baru tak diselesaikan juga pembangunannya," kata Ketua Umum Dewan Pengurus Masjid Raya Pekanbaru H Hermen MAT, saat ditemui ANTARA di Pekanbaru, baru-baru ini.

Akibatnya umat muslim melayu Riau yang sedih karena telah kehilangan salah satu warisan paling berharga tinggalan leluhurnya, belum mendapatkan pelipur lara, sebuah masjid agung baru yang seharusnya lebih elok dan megah. Meskipun kemegahan bangunan baru itu, tentu tak dapat menggantikan hilangnya ikatan sejarah umat muslim melayu Riau dengan masjid itu, yang telah terpatri selama lebih dua ratus tahun.

Menurut Hermen, renovasi Masjid Raya Pekanbaru sejauh ini baru sekitar 50 persen. Ia tak tahu kapan bangunan itu akan diselesaikan, karena pada tahun-tahun terakhir ini pemerintah provinsi dan pemerintah kota lebih hirau pada pembangunan arena Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/2012 yang dikebut dengan "kecepatan penuh".

Penyelesaian masjid makin terlunta-lunta karena silang pendapat antara berbagai kelompok yang menyayangkan renovasi bangunan masjid yang dinilai tidak mengindahkan nilai sejarah, sehingga ikon kebesaran Melayu lenyap tak terjaga.

Renovasi Masjid Raya Pekanbaru dilakukan oleh Badan Revitalisasi Kawasan Masjid Raya Pekanbaru. Badan itu menganggarkan biaya revitalisasi masjid di Jalan Senapelan itu mencapai Rp 121 miliar, termasuk pembebasan lahan untuk meluaskan area masjid yang nantinya akan difungsikan sebagai islamic centre, museum, perpustakaan, pusat pertokoan, dan pelabuhan. Biaya revitalisasi sebesar itu ditanggung Pemerintah Provinsi Riau melalui APBD Riau.

Harusnya proyek itu selesai pada akhir 2010, namun hingga akhir 2012 ini pembangunan masjidnya saja baru 50 persen.

Herman yang baru menjabat Ketua Dewan Pengurus Masjid enam bulan lalu mengakui adanya silang pendapat antara arkeolog, badan revitalisasi masjid, Lembaga Adat Melayu, sejarawan dan beberapa kelompok ulama mengenai revitalisasi masjid yang tak mengindahkan nilai sejarah itu.

Menurut Hermen, saat ini ada wacana tiang-tiang sisa masjid sejarah akan dibongkar karena memutus shaf. Ini tentu memperpanjang silang pendapat antar berbagai pihak itu, dan berpotensi menghambat penyelesaian renovasi masjid.

"Namun bagi kami tak penting perdebatan itu. Kami sangat menginginkan masjid itu segera diselesaikan pembangunannya. Jangan dibiarkan mangkrak seperti ini, umat butuh tempat ibadah yang nyaman," katanya.

Kawasan wisata Melayu

Konsep revitalisasi Masjid Raya pekan Baru sebenarnya bertujuan untuk menciptakan kawasan wisata Melayu Islam. Rencananya di kawasan itu, tak hanya menghadirkan masjid yang indah, tapi juga menghadirkan beberapa fasilitas publik seperti menara setinggi 66,66 meter, dengan balkon menara setinggi 35 meter.

Pada menara itu nantinya akan dipasang eskalator agar masyarakat yang bisa melihat pemadangan kota Pekanbaru.

Beberapa fasilitas lain yang akan dibangun adalah pusat pertokoan yang mengubungkan Masjid Raya menuju Pasar Bawah, museum, perpustakaan dan pelabuhan yang nantinya akan menjadi gerbang masuk wisatawan dari Sungai Siak.

Semula pemerintah berjanji dalam program revitalisasi Masjid Raya Pekanbaru sedapat mungkin akan mempertahankan bangunan-bangunan yang memiliki sejarah.

Menurut Kepala Badan Revitalisasi Kawasan Masjid Raya Pekanbaru, Nasrun Efendi revitalisasi masjid sudah melalui tahap penelitian cukup panjang sekitar satu tahun lebih. Badan Revitalisasi sudah menyiapkan konsep itu sejak 2007, dan mensosialisasikan kepada tokoh-tokoh Riau melalui wadah lembaga adat, pemuka masjid, pemerintah kota, dan DPRD Provinsi.

Namun, kenyataannya setelah melihat proses pemugaran yang dilakukan Badan Revitalisasi Masjid Raya Pekanbaru, Lembaga Adat Melayu (LAM) menyatakan keterkejutannya, karena bangunan utama ternyata telah dihancurkan.

"Saya kaget bercampur sedih setelah mendengar mesjid tertua di Pekanbaru  telah dipugar. Kenapa harus dihancurkan bangunannya. Kalaupun ingin direvitalisasi silakan saja, tapi jangan menghilangkan ikon kebesaran Melayu. Janganlah menghilangkan sejarah," ujar Ketua LAM, Azaly Johan.

Menurut Azaly, selama ini LAM dan juga para tokoh sesepuh Melayu tidak dilibatkan dalam proyek tersebut. Kekhawatiran LAM akan hilangnya ikon sejarah kota itu pun telah terbukti.

Bahkan beberapa komunitas Melayu termasuk sanak famili keturanan kerajaan Siak Sri Indrapura, Sultan Syarif Kasim II merasa "kecolongan" dengan kehadiran proyek yang sudah menelan biaya pembebasan lahan sekitar Rp8,8 miliar itu.

Perihal pernyataan Badan Revitalisasi bahwa Masjid Raya Pekanbaru belum ditetapkan sebagai cagar budaya, Azaly menyatakan bahwa itu sama sekali tidak benar.

Berdasarkan Monumenten Ordonnantie Nomor 21/1934 (Staatsblad 515), Masjid tertua di Riau itu masuk kategori benda cagar budaya. Hal itu diperkuat dengan UU No 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya.

UU No.5/1992 menyatakan benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan merupakan benda cagar budaya.

Masjid Raya Pekanbaru didirikan 1762, jadi saat ini usianya telah mencapai 250 tahun. Di sekitar Masjid Raya Pekanbaru, sebuah sumur tua, yang airnya tidak pernah habis walau di musim kemarau. Sumur tua itu merupakan tempat mengambil air wudlu dan juga tempat mandi masyarakat. Saat ini sumur itu dikelilingi tembok sehingga sulit digunakan masyarakat.

"Rencananya kami akan mengemas air sumur itu, sehingga hasil penjualannya bisa digunakan untuk pemeliharaan masjid," kata Hermen.

Di samping kanan masjid terdapat pula makam Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah atau dikenal sebagai Tengku Alam, raja Siak ke-4, Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah atau dikenal sebagai Tengku Muhammad Ali, sultan Siak ke-5, dan keluarga istana lainnya.

Keberadaan situs-situs budaya itu semakin meneguhkan bahwa Masjid Raya Pekanbaru memiliki fungsi vital pada masa pemerintahan kerajaan Siak dahulu.

Kenyataan saat ini, bangunan itu telah dibongkar dan menimbulkan kesedihan bagi sebagian kalangan muslim melayu. Namun membiarkan pembangunannya mangkrak pasti akan membuat kalangan muslim yang lebih luas akan makin berduka.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono