Severity: Notice
Message: Undefined variable: url_twitter
Filename: views/read_view.php
Line Number: 93
Shutterstock
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Pelestarian kota-kota bersejarah memampukan masyarakat memahami sejarah dan membantu menciptakan kesadaran akan keberagaman yang membentuk toleransi.
Demikian diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Mohammad Nuh dalam Pertemuan Menteri Kebudayaan Asia dan Eropa (ASEM Culture Minister Meeting) ke-5 yang diadakan di Yogyakarta, 17-20 September 2012.
"Pelestarian kota bersejarah bukan hanya soal keindahan dan kemegahan. Hal yang terpenting adalah menanamkan pemahaman kondisi, ambisi, dan perencanaan yang menghasilkan peradaban yang agung," kata Nuh.
Nuh mengungkapkan, dunia pada dasarnya memiliki beragam peradaban. Peradaban lokal tidak selalu terus berkembang. Pada suatu masa tertentu, peradaban bisa sampai pada titik terendahnya, bahkan punah.
Dalam dunia yang terdiri atas beragam peradaban, ada tiga skenario yang bisa terjadi. Pertama adalah dominasi satu peradaban atas peradaban lain. Kedua, benturan antar-peradaban. Ketiga, terjadinya konvergensi kebudayaan.
"Hanya satu kemungkinan bagi dunia untuk menjadi tempat yang damai dan selaras, yaitu apabila kita mampu menghasilkan konvergensi peradaban," terang Nuh.
Menurut Nuh, konvergensi kebudayaan adalah suatu hal yang niscaya, asalkan ada rasa saling pengertian. Jika saling pengertian tercipta, maka benturan antarperadaban bisa dicegah.
Nuh mengungkapkan, ASEM merupakan ajang yang tepat untuk mempromosikan konvergensi kebudayaan.
"Asia dan Eropa punya populasi empat miliar. Masing-masing negara mewakili peradaban yang sangat tua, termasuk peradaban yang terkait dengan agama. Eropa didominasi Nasrani, sementara Asia didominasi Islam, Buddha, dan Hindu," kata Nuh.
Dalam upaya mengembangkan konvergensi kebudayaan, pelestarian kota bersejarah menemukan relevansinya. Kota dengan peninggalan bersejarah yang terawat memampukan manusianya belajar dari masa lampau serta memahami kebudayaan lain.
"Kalau masa lalunya dirawat, manusia bisa belajar dengan baik," kata Nuh.