Rabu, 23 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Juli 2014 | 14:48 WIB
Menyemai Nilai Budaya Lewat "Nobar"
Senin, 17 September 2012 | 18:02 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Oleh Zita Meirina

Bila selama ini pemerintah menanamkan pendidikan karakter dengan menyisipkan pesan-pesan moral yang dikemas melalui mata pelajaran di sekolah dan mata kuliah di kampus, maka sebuah upaya lain dilakukan Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya dengan menggelar ’PENTAS’.

Pekan Nasional Cinta Sejarah (PENTAS)  bertajuk  "Merawat Ingatan dan Hikmah Sejarah dalam Memperkokoh Keindonesiaan", antara lain  melalui acara nonton bareng (nobar) film-film nasional yang sarat dengan pesan moral untuk membangkitkan semangat kejujuran dan cinta Tanah Air.

"Menanamkan kecintaan pada Tanah air, membangun budaya jujur selama ini diberikan melalui mata pelajaran di sekolah namun kami berupaya mencari cara yang lebih efektif dan mengena dengan dunia anak muda," kata Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti.

Windu menjelaskan sebenarnya menanamkan pendidikan karakter itu lebih rumit dan lebih kompleks dari pada sekedar menambahkan  misalkan saja mata kuliah budi pekerja, mata kuliah kewarganegaraan dan sebagainya.

"Namun pembangunan karakter itu kita percaya bahwa tidak bisa hanya didekati melalui teksbook, tapi harus melalui internalisasi nilai atau melebur dalam diri," katanya.

Menurut Windu agar pembangunan karakter itu masuk ke dalam nurani, maka medianya juga harus media-media yang kreatif, seperti salah satunya melalui film.

"Salah satu media kreatif adalah film, yang kita kemas secara menarik dan keren sehingga mudah masuk dalam benak generasi muda terhadap pesan film. Apalagi bila tokoh-tokoh yang berperan dalam film adalah artis idola sehingga anak-anak muda dengan cepat terinspirasi," katanya.

Selama September-Oktober 2012, acara nonton bareng film nasional akan digelar di sejumlah kota di 12 propinsi di Indonesia. Beberapa film  Film yang akan ditayangkan dalam Persemaian Nilai Budaya itu antara lain Garuda di Dadaku, Lima Elang, Batas, Negeri 5 Menara.

Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi lokasi pertama kegiatan nonton bareng yang melibatkan siswa tingkat SD sampai tingkat SMA serta mahasiswa.

Selanjutnya, "roadshow", nonton bareng akan digelar di Jayapura, Papua; Kepulauan Aru, Maluku; Maros, Sulawesi Selatan; Banjarmasin, Kalimantan Selatan; Malang, Jawa Timur; Gunung Kidul, DI Yogyakarta; Kuningan, Jawa Barat; Lebak, Banten; Palembang, Sumatera Selatan; Padang, Sumatera Barat dan Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam.

Di setiap kota pemutaran film nasional tersebut dapat melibatkan sebanyak 1.200 siswa selama dua hari berturut-turut.

Usai menonton kemudian dilanjutkan dengana cara diskusi yang mengupas seputar film tersebut.

Artis Marcella Zaliyanti  salah satu pemeran film ¿Batas¿, yang diproduseri Ichwan Persada itu mengatakan nonton bareng film inspiratif dapat membantu siswa  mengenal budaya bangsa.

Kegiatan "nobar" bisa menginsipirasi tumbuhnya ¿filmmaker¿ di daerah, kata  artis yang at membintangi film "Lastri" dan  "7 Hati 7 Cinta 7 Wanita" ini.

"Saya sangat mendukung kegiatan yang digagas oleh Kemdikbud ini. Aapalagi akan diputar hingga ke daerah-daerah di pelosok Tanah Air, sehingga diharapkan tumbuh kecintaan akan  produksi film nasional oleh generasi muda."

Marcella mengakui saat ini masih sedikit film nasional yang berkualitas karena minimnya biaya produksi. "Dengan adanya program kemdikbud ini, maka akan membantu masyarakat daerah untuk menonton film berkualitas."

Apalagi Sasaran penonton adalah pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum. Dengan harapan akan terbangunnya  kesadaran  mahasiswa, pemuda, tokoh masyarakat dan organisasi lokal mengenai pentingnya menumbuhkembangankan nilai-nilai karakter bangsa, tambahnya.

Direktur Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud, Endjat Djaenuderadjat sebagai "tuan rumah" penyelenggaraan program "nobar" perdananya di Kupang mengatakan  setelah film ini diputar baik itu siswa maupun para guru diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan para  sineasnya.

"Ini semacam penanaman tentang karakter bangsa, di mana film-film yang diputar tersebut penuh dengan nilai-nilai kejujuran dan sebagainya dan ini merupakan suatu terobosan dalam rangka pembinaan kebudayaan pada generasi muda," katanya.

Film berjudul "Batas" menjadi salah satu film yang diputar pada acara PENTAS di Kupang dengan menghadirkan sebanyak  500 siswa dan guru hadir pada pemutaran hari pertama di Aula El Tari Kantor Gubernur Provinsi NTT.

Produser film Ichwan bersama aktor senior Piet Pagau hadir di Kupang mengawal film "Batas" mengaku tanggapan masyarakat Kupang atas program ini luar biasa.

Sebagai penggiat film, dirinya akan terus  mendukung program seperti ini untuk terus dilakukan. Dengan demikian menumbuhkan kecintaan berbagai elemen masyarakat pada negeri ini, dan pada akhirnya saya yakin akan berujung pada kecintaan mereka pada produk dalam negeri, khususnya film nasional.

Bioskop Rakyat

Sinergi antara pemerintah dan masyarakat perfilman untuk menghasilkan film-film inspiratif berkualitas di Indonesia ke depan akan terus ditingkatkan karena film adalah salah satu media yang dapat menjadi sarana penyampaian pesan dan penyemaian karakter.

"Film atau media audiovisual lainnya juga mampu menjadi media pendidikan yang efektif bagi anak ketika pembiasaan membaca masih rendah," kata Wamendikbud Windu Nuryanti.

Sayangnya, kata dia, jumlah film-film inspiratif, khususnya bagi anak-anak dan remaja masih sangat sedikit. Bahkan tidak jarang film yang punya nilai karakter bangsa tidak laku di pasaran.

Hal ini menjadi pemikiran bagi pemerintah. Di sinilah kebudayaan dalam skema pendidikan akan ikut mengintervensi agar film-film bagus bagi generasi muda itu tetap ada dan berkualitas, ujarnya.

"Jangan dibayangkan kalau menonton film itu selalu harus dalam bioskop yang memang dipersiapkan secara baik untuk sistem suara, layar, ruang kedap suara dan tempat duduk khusus. Kami ingin gedung yang menjadi pusat kebudayaan di daerah dapat diberdayakan dan disulap menjadi tempat pemutaran film dan diskusi," katanya.

Idealnya bioskop rakyat dapat diadakan di propinsi-propinsi yang belum memiliki sarana bioskop. "Kami akan membantu dengan menyediakan sarana penunjang terwujudnya bioskop rakyat terutama di daerah-daerah yang komuniats seninya aktif dan memahami betul peta perkembangan seni dan budaya di daerahnya."

Idealnya dibutuhkan dana Rp500 miliar pertahun untuk mendukung program persemaian karakter bangsa melalui pemutaran  film-film skema pendidikan yang bermutu dan menarik ditonton.

"Kami baru optimistis kalau anggarannya Rp500 miliar, sekarang ini pemerintah baru mampu mengalokasikan senilai Rp100 miliar per tahun, untuk program-program yang diperuntukkan pembangunan karakter melalui perfilman,"  kata Guru besar bidang pariwisata Universitas Gadjah Mada  (UGM)  ini.

Menurut Windu, untuk anggaran tahun ini kegiatannya ada yang menggunakan sinema keliling dan bioskop rakyat (Biora). Di ruang-ruang tertentu, seperti ruang serba guna, film bisa diputar, sekaligus sebagai tempat diskusi.

Windu menjelaskan program bertajuk Nonton Bareng Film Inspiratif idealnya setiap tahun perlu diadakan dengan nonton bareng kurang lebih di 100 kota. Sasarannya adalah anak-anak sekolah di daerah-daerah tertinggal. "Karena Indonesia memiliki 400 lebih kabupaten/kota, kalau rata-rata setiap tahun nonton bareng di 100 kota, maka selesainya sampai empat tahun," katanya.

Saat ini, anggaran baru cukup untuk 12 kota dan untuk tahun depan diperjuangkan bisa meningkat 50 kota, sehingga penyebaran virus pembangunan karakter bangsa berjalan.

Windu menjelaskan untuk pendidikan sudah jelas strukturnya tertata, karena melalui kurikulum, guru dan murid. Namun, kebudayaan itu lebih cair dan lentur, sehingga akan masuk ke dalam relung-relung kerangka yang sudah dibangun oleh pendidikan misalnya melalui film iInspiratif.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono