Jumat, 24 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 24 Mei 2013 | 21:59 WIB
Puisi-puisi Iswadi Pratama
Senin, 17 September 2012 | 16:12 WIB
Dibaca:
|
Share:
KOMPAS.COM/M Wismabrata ilustrasi

Lanskap

di rumpun perdu
mimpi sebutir batu
warna jernih pagi
datang kepada tepi
tak berkata,
tercerap cuaca

di bentang laut malam
bulan berenang
cahaya keperakan
kegelapan pecah
empasan gelombang
sayap-sayap api

lalu biru kembali
seperti pagi.

engkau jalan setapak di pinggiran tanjungkarang
meliuk di pinggang bukit, lempang di landai pantai
rumpang-lusuh di kampung kumuh

di minggu pagi,
orang-orang, sebagian kecil orang di kota ini
merayakan akhir pekan, melintasimu sambil menduga-duga

seberapa dekat ujungmu pada tanjung
seberapa hampir tubirmu pada pasir
seberapa hirap harapmu pada lanskap

tapi bagi para peronce perih
engkau tak lain rima di runcing lidah
syair yang gampang menggerung getir

umpama buku, sampul mereka kuning belaka
terlalu ricuh pada sandi sebab takut terduga
bila luka, merah mereka meriah rona

maka datang lagi aku ketika mereka lelah-jemu
di hari-hari sibuk, di terik tarikh
mengetam kerak ngilu di sekujurmu

engkau jalan setapak yang mengantarku
ke hutan di pinggiran tanjungkarang
hutan yang belum pernah mereka temukan

1 Agustus 2012

Apakah yang telah memautkan kita selain kata
Seperti darah ketika luka mengungkapnya
mengoyak tabir tubuh; celah bagi seberkas cahaya
Huruf demi huruf disepuh
api pemanggangan dinyalakan

Bagi penyair, setiap kata prahara belaka
pengembara jalang menjelajah
lebih jauh dan lebih hancur
sebab hanya dalam wujud remuk redamnya
menjadi patut diucapkan

Bandar Lampung, April 2012

aku pati pohon jati yang padu
tak lunak namun belum batu
coklat yang hampir gelap
terkucil di kebun ini

aku hampir dihapus humus
lalu dikemas para rangas
diberi rongga dan ruas

tapi entah mengapa
rerayap itu pergi
ke bawah pohon turi

lalu aku kosong

sesekali semut putih dan ular datang
cuma numpang bermalam
atau mampir dalam perjalanan

engkau kelembak
dulu bermukim di sini
ketika masih kepompong

tapi seperti anai-anai
engkau pergi setelah lengkap sayap
dan aku abai

aku telanjur mengasihimu duhai kupu-kupu
sebab kukira engkau selongsong semata
rupanya selubung itu hanya selimut
bagi kepakmu yang sedang beringsut

kepak yang seperti sepasang layar
membawa perahu menjauh
dari bocah di tepi telaga itu

tetapi lelaki kecil itu tahu
biduk akan kembali
dan ia menunggu

dan aku tak mengerti
bagaimana menanti
sayapmu indah di atas sana
meski waktumu singkat belaka

tak ada nektar padaku
selain bau getah kayu
dan busuk perdu

dan lihatlah,
pemilik kebun ini tengah merambah tanah
ia sangat berhasrat pada setiap gunduk
ingin seluruh permukaan tampak rata

demi buah buah
demi bunga bunga

dan engkau memang cemerlang di sana

Juli 2011

1.

makin putih engkau kini
pisau yang pernah berjaya
mencipta liang luka di tubuhku

kukira telah padam hasratmu
setelah punah darah
setelah belulang belaka padaku

betapa bersinarnya engkau ketika itu
betapa terbujurnya aku

engkau tangkas mengupas
fasih mengemas
nyeri hingga ke ulu hati

memang pernah aku cemas
rasa sakit tak mau tuntas
tapi tak sekali gentar aku
pada sangar hasratmu

terhadap meling-runcingmu
sungguh, tak kutundukkan mataku

berilah aku jeda sebentar
hendak kuterangkan kulitku
akan kupejalkan daging-dagingku
agar lebih mujur nasibmu

2.

Kami tahu,
ini bukan pertarungan
melainkan pembantaian

Kami hanya akan menetapkan suatu ukuran
tentang seberapa keji sebuah tikaman
seberapa perih sayatan

ia akan terseok seperti dulu
bersimbah luka melulu
tapi ia akan sembuh dan kembali dipersiapkan

Kami datang untuk selalu memastikan
masing-masing makin matang

3.
jangan gegabah menduganya
ia tak belajar sabar semata
tak cuma mahir bertahan atas luka
ia makin waspada dan tak terkira

setelah berulang kali kurajang ia
tak kudengar lagi raung regang
atau sekadar sedu
hanya hening menggema

kukira ia akan tak tersentuh kini
meski aku telah sehalus cahaya

Juli 2011

Iswadi Pratama lahir di Tanjungkarang, Lampung, 8 April 1971. Buku puisinya bertajuk Gema Secuil Batu (2007).

Editor :
Jodhi Yudono