Rabu, 3 September 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 3 September 2014 | 00:34 WIB
Jejak Sejarah Bangsa di Hotel Indonesia
Senin, 17 September 2012 | 13:08 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

KOMPAS/AGUS SUSANTO
Resepsionis melayani tamu disamping replika patung Tugu Selamat Datang di Hotel Indonesia, Jakarta, Rabu (12/9/2012). Hotel Indonesia dibuka oleh Presiden RI pertama Soekarno 50 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 5 Agustus 1962. Hotel Indonesia berkomitmen untuk melestarikan warisan negara, benda-benda yang memiliki nilai sejarah bagi perjalanan Hotel Indonesia masih disimpan dengan baik, mulai dari lukisan, patung hingga detail dekorasi.

Sebuah karya relief yang dikerjakan secara keroyokan dari tahun 1961 - 1964 masih berada di sana, di mulut jalan masuk hotel yang kini bernama Hotel Indonesia Kempinski yang terletak di pusat kota, tepatnya di Jl. MH Thamrin No. 1 Jakarta, Indonesia.

Tak ada yang berubah pada relief itu. Gambaran tentang masyarakat Bali masih terpahat di atas batu andesit seluas 68 meter persegi itu. Nama Harjadi Sumodidjojo juga masih terlihat jelas, bersama 52 nama lainnya yang tergabung di Sanggar Sela Binangun yang mengerjakan relief berjudul "Balinese Life" itu.

Sekilas memang seperti tak terjadi apa-apa dengan karya relief tersebut. Tapi jika hikmat mengamati keberadaan relief itu, rasanya ada yang mengganjal. Letaknya yang persis di mulut jalan masuk hotel, menjadikan karya relief ini "kerap diabaikan" oleh para tamu hotel, terlebih di jalan tersebut juga berderet mobil parkir, seperti yang terjadi pada saat kompas.com mengikuti tur hotel dalam rangka "50 Tahun Hotel Indonesia" pada Rabu (12/9/12) lalu.

Rasanya sayang jika karya seni itu tidak diperlakukan dengan baik. Misalnya, dengan melarang mobil parkir di sekitar tempat tersebut salah satunya. Seperti yang dikatakan Soewarno, pengajar Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang menjadi pendamping saat tur bersama wartawan siang itu, karya ini merupakan salah satu tonggak sejarah seni rupa Indonesia.

Harijadi Sumodidjojo yang menjadi 'komandan' perupa yang membuat relief ini, jelas bukan perupa sembarangan. Harijadi adalah perupa kesayangan Bung Karno yang pernah dikirim ke Meksiko pada 1965 untuk belajar pembuatan diaroma. Karya-karya monumentalnya berbentuk relief di zaman itu, bisa dinikmati di Bandara Kemayoran dan juga Bandara Adisucipto.

Mendatangi Hotel Indonesia (HI) kini, para tamu hotel memang tak sekedar menikmati kenyamanan dan kemewahan sebuah tempat menginap, tetapi juga seperti sedang membaca sebagian jejak sejarah bangsa yang terukir di beberapa sudut hotel yang berdiri di atas tanah seluas 25.082 meter persegi itu.

Lihatlah, di lobi Bali Room masih tampak lukisan karya Lee Man Fong, sebuah karya seni yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari riwayat hotel ini. Menurut Suwarno, lukisan Lee Man Fong dilukis menggunakan cat minyak di atas papan dan langsung ditempel di tembok. Temanya mencerminkan kekayaan Indonesia, karena menghadirkan warna warni flora dan fauna Indonesia.

Jiwa Bung Karno

Hotel Indonesia dan Bung Karno memang tak bisa dipisahkan. Presiden pertama Indonesia itulah yang telah memberi 'jiwa' pada hotel yang dirancang oleh arsitek asal Amerika Serikat, Abel Sorensen dan istrinya, Wendy. Bung Karno itulah yang telah membuat HI tidak saja menjadi hotel yang artistik dengan memasang atau membangun benda-benda seni, tetapi juga memiliki kemewahan-kemewahan laiknya hotel berbintang lima. Lift mungil yang ternyata menjadi lift pertama di Indonesia, adalah salah satu contoh kemewahan di zamannya yang masih terjaga hingga kini. Meski sudah direnovasi karpet dan handle-nya, lift ini tetap dipertahankan keasliannya, termasuk ukurannya yang hanya muat sekitar lima orang.

Di dinding seberang lift, terpampang foto dokumentasi yang berkait dengan hotel. Di sana ada foto tamu pertama hotel yakni Allen Artwart yang datang dengan becak yang disambut langsung oleh manager HI pertama, William Land. Ada juga foto Bung Karno ketika berpidato meresmikan hotel. Pada foto itu terpancar jelas kebanggaan sekaligus kegembiraan Bung karno. Padahal, sebelum hotel ini berdiri, proyek HI tak sepi dari kritik sebagian elemen masyarakat yang menuding HI sebagai proyek mercu suar. Namun Bung Karno terus melangkah. Bahkan mengobarkan slogan ‘A Dramatic Hotel Indonesia 1962 Symbol of Free Nations Working together’, bagi proyek pembangunan Hotel Indonesia itu. Dan… hotel termegah di Asia Tenggara itu pun diresmikan oleh Presiden Sukarno pada 5 Agustus 1962.

Perjalanan dilanjutkan ke lantai delapan. Di lantai ini, peserta tur diajak memasuki kamar nomer 826, sebuah kamar Diplomatic Suite Room yang lapang dan mewah. Dari kamar ini, kita bisa menyaksikan bunderan HI yang fenomenal itu, lantaran menjadi tempat favorit para demonstran yang menyuarakan aspirasinya. Di tengah bunderan itu berdiri tugu Selamat Datang yang menjulang dalam bingkai air mancur yang indah, mirip sebuah kue ulang tahun. Inilah salah satu sisa-sisa peninggalan Bung Karno, yang dibangun guna menyambut para tamu Asia yang berpartisipasi dalam peristiwa olahraga akbar Asian Games 1962. Patung "Selamat Datang"  di puncak tugu itu  menggambarkan dua orang pemuda-pemudi yang membawa bunga sebagai penyambutan tamu. Lokasi tugu itu persis di depan HI yang  pada waktu itu merupakan pintu gerbang masuk ibukota Jakarta dan juga merupakan pintu gerbang rangkaian kegiatan pertandingan yang diselenggarakan di Istora Senayan. Pada masa itu semua tamu asing yang datang di Jakarta masuk melalui bandara Internasional Kemayoran (yang sekarang menjadi arena PRJ) dan langsung menuju ke hotel Indonesia tempat penginapan bagi mereka. Maka, sehingga sebelum mereka memasuki hotel akan disambut patung Selamat Datang ini di depannya.

Dari lantai delapan, kami naik lift menuju lantai 16. Di lantai inilah, kehidupan kalangan jetset Jakarta berlangsung tiap malam. Sebuah tempat bernama Nirwana Supper Club. Di tempat inilah, para artis negeri ini seperti "dibaptiskan" menjadi artis profesional. Mereka adalah  Bill Saragih, Titiek Puspa, Bob Tutupoly, Rima Melati, Christine Hakim, Slamet Raharjo, dan masih banyak lagi. Bob Tutupoly merupakan salah satu artis legendaris Indonesia yang memiliki kenangan khusus terhadap hotel bertaraf internasional pertama ini. Menurutnya, Hotel Indonesia merupakan tempat menimba pengalaman bagi para seniman dan artis-artis Indonesia.

“Adalah sebuah kehormatan dan pengalaman yang sangat berkesan buat saya sebagai penyanyi dan entertainer yang diminta untuk menghibur para tamu-tamu terkemuka kira-kira pada tahun 1963/1964 sampai dengan tahun 1969 di Nirwana Supper Club, night club kebanggan Hotel Indonesia,” ujar Bob Tutupoly yang menggambarkan Hotel Indonesia dalam satu kata, yakni “perfection” karena melihat kebanggan para staff dan karyawannya saat itu yang membuat mereka bekerja sepenuh hati.

Senada dengan Bob, Titiek Puspa pun merasai hal serupa, betapa Hotel Indonesia telah terpatri di perjalanan kariernya sebagai seorang penyanyi. "Waktu itu, di awal-awal keberadaan HI, kalau saya mau menyanyi di sana biasanya saya naik becak dari rumah di daerah Menteng," kenang Titiek saat dijumpai di daerah Kuningan pekan lalu, usai berlatih untuk acara ulang tahun HI.

Salah satu kenangan terindah yang dimiliki oleh diva kelahiran Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan, 1 November 1937 ini, adalah saat dirinya merayakan ulang tahun ke-40. “Saya merasa saat itu adalah ulang tahun termegah, karena pada saat itu belum ada artis yang mengadakan pesta ulang tahun di hotel terbesar pertama di Indonesia. Waktu itu ada Bapak Ali Sadikin juga membuat hari itu sangat berkesan buat saya. Dari mulai tahun 60-an, saat baru dibuka hingga kini, Hotel Indonesia menjadi kebanggan buat saya dan mungkin bagi masyarakat Indonesia,” ujar Titiek yang mengaku ikut meramaikan acara pembukaan Hotel Indonesia 50 tahun lalu melalui suara emasnya dengan mengenakan baju kimono.

Sekarang tempat tersebut telah dialihfungsikan sebagai function room. Seperti di beberapa sudut ruang lainnya di HI, di salah satu dinding ruangan ini juga terdapat sebuah karya mosaik yang terbuat dari bebatuan warna warni yang dibentuk menjadi patung. Warisan ini merupakan salah satu yang dipertahankan. Jika kita turun kembali ke bawah, tepatnya di Paviliun Ramayana, di ruangan ini pun dindingnya dipenuhi mosaik dari potongan-potongan keramik. Mosaik karya G Sidharta yang dibuat tahun 1961 ini menggambarkan kesenian tradisional Indonesia karena tiap bagiannya ternyata mengisahkan cerita rakyat Indonesia.

Menurut Suwarno, dibutuhkan teknik dan keterampilan tinggi untuk menempel mozaik tersebut hingga membentuk karya seni yang diinginkan si seniman. Suwarno menambahkan, awalnya, ruangan ini menjadi pusat kesenian dan pertunjukan. Kemudian, fungsinya bergeser menjadi tempat pesta, lengkap dengan mini bar, tempat DJ, dan lampu disko.

Bukan hanya lukisan dan mosaik yang menjadi warisan sejarah seni di HI. Masih di Paviliun Ramayana, terdapat sebuah relief karya Soerono yang dibantu enam kawannya. Relief berjudul "Gadis-Gadis Bhinneka Tunggal Ika", menggambarkan perempuan yang mengenakan ragam pakaian adat Indonesia. Relief itu bersanding dengan keindahan ruang terbuka taman HI dengan "Gadis Mandi" karya CS Sulistyo buatan tahun 1962.

Ya, ya... Peranan Hotel Indonesia dalam sejarah karier seniman Indonesia boleh dibilang sangat penting. Para seniman dari mulai seni musik hingga seni peran, seni rupa, seni tari, dan lainnya, seperti telah mendapat pengakuan jika telah tampil dan menampilkan karyanya di HI.

Tentang Hotel Indonesia

Hotel Indonesia merupakan salah satu tonggak perhotelan di Indonesia. Sejarah HI melengkapi sejarah perhotelan di dunia yang konon telah ada sejak zaman Romawi, di mana kala itu pergerakan warga dari satu tempat ke tempat lain untuk berniaga atau tujuan lainnya sudah sedemikian tinggi intensitasnya. Itulah sebabnya, dibutuhkan penginepan agar mereka terlindung dari panas dan hujan serta ancaman terhadap jiwa raga jika mereka berada di ruang terbuka. Hotel  dengan stadar yang lebih baik pertama-tama dibuat di Inggris, kemudian Perancis, Swiss dan beberapa negara terkenal lainnya. Beberapa kalangan Amerika menganggap hotel yang benar-benar hotel dengan 170 kamar didirikan di New York tahun 1794 dengan nama City Hotel.

Sejarah perkembangan perhotelan di Indonesia belum banyak terungkap, juga belum banyak buku yang mengungkapkan masalah ini. Dari buku PARIWISATA INDONESIA DARI MASA KE MASA tercatat hotel-hotel yang sudah dibangun pada saat itu di antaranya: Hotel Des Indes, Hotel Der Nederlanden, Hotel Royal dan Hotel Rijswijk (Jakarta). Di Surabaya berdiri Hotel Sarkies dan Hotel Oranje. Di Semarang berdiri Hotel Du Pavillion. Malang, Palace Hotel. Solo, Slier Hotel. Yogyakarta, Grand Hotel ( sekarang Hotel Garuda ), Bandung, Hotel Savoy Homann, Hotel Preanger dan Pension Van Hangel ( kini Hotel Panghegar ). Bogor, Hotel Salak. Medan, Hotel de Boer dan Hotel Astoria. Makasar, Grand Hotel dan Staat Hotel. Kebanyakan hotel-hotel itu sampai sekarang masih ada, ada yang menjadi Herritage, ada yang sudah direnovasi menjadi lebih baik dan ada juga yang telah diredevelopment total sehingga tidak ada lagi bentuk aslinya, seperti Hotel Des Indes yang dalam perkembangannya pernah menjadi Hotel Duta Indonesia, kini pertokoan Duta Merlin.

Hotel Indonesia adalah hotel berbintang lima pertama yang dibangun di Jakarta, Indonesia. Hotel ini dibangun dengan semangat "menyepadankan" harga diri bangsa di mata bangsa-bangsa lain, dan juga untuk menyambut Asian Games IV tahun 1962. Hotel ini ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemda DKI dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 tanggal 29 Maret 1993.

Dalam perjalanannya Hotel Indonesia beberapa kali mengalami renovasi. Terakhir pada 2007 lalu setelah pengelolaan hotel bersejarah itu berpindah ke swasta di bawah pengelolaan jaringan Kempinski, yang berpengalaman mengelola hotel-hotel tua di Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia.

Kini, meskipun telah direnovasi sedemikian rupa, namun di hotel ini masih terekam jelas jejak sejarah bangsa. Foto-foto Bung Karno dengan Presiden John F Keneddy dan bintang film Amerika Marlyn Monroe, seperti menyiratkan betapa bangsa kita sepadan dengan bangsa lain.

Para tamu yang datang pastilah akan juga merasai betapa kuatnya pesan Bung Karno selaku pemberi "jiwa" hotel. Melalui karya-karya seni yang dipajang, Bung Karno ingin memperlihatkan karakter nasional bangsa Indonesia.

Lihatlah instalasi boneka tentara merah dan putih dijajarkan horisontal sehingga membentuk bendera Indonesia karya Wilman Hermana dengan judul ‘Flag of Our Fathers’ siap menyambut para tamu yang ingin bersantap di Signatures Restaurant. Ruangan-ruangan yang ada di Hotel Indonesia memang mempunyai nama sesuai dengan karya seni yang ada di dalamnya. Seperti misalnya ‘Karapan Sapi Madura’ menjadi hiasan di Madura Room, Reog Room dihias oleh lukisan ‘Reog Ponorogo’ atau ornamen asli dari Irian menghiasi Irian Room.

Waktu boleh terus melaju, tetapi sejarah tetap menjadi bagian terpenting dari ingatan kita. Seperti pada salah satu pidato Bung Karno, "Jas Merah (Jangan sekali-sekali melupakan sejarah), jika kita ingin menjadi bangsa yang kuat, tentulah tak boleh melupakan sejarah kita sendiri, yang salah satunya terekam di Hotel Indonesia yang kini bernama Hotel Indonesia Kempinski. Dirgahayu HI! (JY)

Editor :
Jodhi Yudono