Severity: Notice
Message: Undefined variable: url_twitter
Filename: views/read_view.php
Line Number: 93
ADELAIDE, KOMPAS.com - Karya-karya budaya seniman asal Yogyakarta Eko Nugroho yang dipamerkan di Galeri Seni South Australia di Adelaide menjadi topik bahasan utama malam pembukaan OzAsia Festival hari Jumat (14/9/2012) malam.
Tema-tema budaya politik yang ditampilkan Eko, dan juga oleh lembaga budaya kerakyatan Taring Budaya Yogyakarta disandingkan dengan tema revolusi kebudayaan asal China. Yang menjadi pembicara adalah penyiar berita televisi multibudaya Australia SBS, Lee Lin Chin yang mengkontraskan pendekatan seni yang ditampilkan di galeri seni utama di kota Adelaide tersebut.
OzAsia festival adalah festival yang menampilkan berbagai seni pertunjukkan Asia yang digelar di berbagai tempat di Adelaide selama dua pekan, 14-30 September. "Seni yang ditampilkan oleh artis dari China selama revolusi kebudayaan merupakan seni dimana sang artis diperintahkan membuat. Sedangkan di sisi lain, seni kontemporer yang ditampilkan Eko Nugroho merupakan ekspresi personal mengenai tidak berfungsinya masyarakat saat ini," kata Lee Lin Chin.
Menurut penyiar SBS asal Singapura namun lahir di Jakarta tersebut, Eko menggambarkan Indonesia sebagai negeri kaya yang miskin moral. "Eko menyerukan reformasi untuk mengatasi masalah ketidakadilan sosial. Dia menyerukan kebangkitan masyarakat lewat cara-cara tanpa kekerasan." kata Lee.
Lima karya seni Eko ditampilkan dengan tema antara lain "Berbeda-beda tapi tetap saja bermasalah". "Negeri kaya yang miskin moral dan "Rintihan Agar-agar". Pesan-pesan sosial juga ditampilkan dalam karya seni dari Taring Budaya, dengan tulisan-tulisan berbunyi "Hentikan Kekerasan"," Bersatulah dalam perbedaan", "Bangun Nusantara tanpa tetes darah", "Senjata bukan untuk demokrasi" dan "Rukun Agawe Santosa Senjata tidak berkuasa atas Manusia."
Menurut laporan koresponden Kompas di Adelaide, L. Sastra Wijaya, selain benda-benda budaya dar Eko dan Taring Budaya, malam pembukaan OzAsia ini juga syarat dengan warna Indonesia. Di bagian lain dari museum tersebut, dipentaskan pagelaran wayang kulit oleh Ki Joko Susilo dengan lakon Bima Bungkus ditemani oleh gamelan Sekar Laras dari Universitas Flinders.
Penari asal Singaraja Bali Putu Suta juga tampil membawakan beberapa tarian, dan guna di halaman museum tersebut, disajikan makanan Indonesia.