Jumat, 28 November 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 28 November 2014 | 08:13 WIB
Rayya, Cahaya di Atas Cahaya
Jumat, 14 September 2012 | 01:42 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Dok Uki Bayu Sejati
Titi Syuman dalm film "Rayya".

Pemeran Utama: Titi Syuman, Tio Pakusadewo
Skenario      : Emha Ainun Nadjib & Viva Westi
Sutradara      : Viva Westi
Proser Eksekutif: Bayu Priawan Djokosoetono
Produser      : Dewi Umaya Rochman & Sabrang MDP
Penata Kamera  : “Ipung“ Rahmat Syaiful

Seorang perempuan dewasa dan seorang lelaki dewasa – bukan suami istri – berada di satu kamar hotel. Masing-masing sedang menderita karena cinta terhadap pasangannya “dikhianati.”

Masyarakat pada umumnya boleh jadi berprasangka buruk, bahkan memberi penilaian negatif, bahwa di antara kedua insan itu bakal terjadi adegan pergumulan yang dilumuri libido seksualitas. Apalagi di luar kamar hujan deras.

Warga masyarakat, baik anak baru gede maupun angkatan babe gue di Indonesia, tidak boleh begitu saja disalahkan jika memiliki prasangka seperti itu, utamanya karena sedemikian banyak informasi dari beragam media: cetak, radio apalagi audio-visual, menyuguhkan perselingkuhan dengan gamblang kapan dan di mana saja. Gosip, sensasi, pembunuhan karakter menjadi hidangan yang diperjual-belikan, dipertontonkan, secara murah. Bahkan dapat di-down-load gratis.

Rayya dan Arya berdialog panjang di kamar hotel itu tanpa bersentuhan, bakal merontokkan prasangka buruk warga masyarakat. Kalimat-kalimat yang mereka ucapkan bernas. Demikian pun yang mereka berdua lakukan selama perjalanan dari Jakarta sampai Bali, dalam rangka pemotretan untuk keperluan penulisan autobiografi Rayya, artis multitalenta, diva, yang dengan jumawa bilang bahwa banyak lelaki yang bersedia mencium kakinya.

Proses kreatif

Emha Ainun Nadjib, penulis skenario film RAYYA, Cahaya Di Atas Cahaya, ini sebenarnya sedang menghidangkan potret-potret kehidupan masyarakat, yang jarang disentuh oleh media massa apalagi oleh pejabat pemerintah. Fakta aktualnya ada tapi lindap oleh besar dan banyaknya jargon pembangunan. Manusia hanya dipandang dan diakui sebagai sumber daya produksi, sehingga kehilangan hakekat diri pribadi. Pejabat pemerintah sibuk dan terbius oleh program-program yang dirancang dan dicanangkan atas nama rakyat, sementara rakyat hidup berjuang dengan kekuatannya sendiri, termasuk merawat martabat sebagai manusia.  Potret yang berserakan dibingkai relasi perempuan dan lelaki – yang satu sama lain saling belajar untuk menemukan jati diri.

Rayya (Titi Syuman) awalnya menyetujui penyusunan autobiografi maupun tim pendukung baik penulis, disain busana, juru foto, juga penerbit, yang sudah dibentuk. Dan siap kerja. Tanpa dinyana segalanya berantakan. Biang masalahnya: Bram – pilot pesawat terbang, memilih menikahi gadis lain – yang berarti memutuskan hubungan dengan Rayya. Sakit hati, dendam, berkecamuk menjadikan “sang diva” ingin bunuh diri. Juru foto profesional dilabrak dan diusir olehnya. Tentu saja tim kalangkabut mencari pengganti. Hadirlah Arya (Tio Pakusadewo), sosok fotografer yang menjuluki dirinya kampungan. Meski memiliki kemampuan handal menggunakan digital automatik kamera, ia lebih memilih memakai kamera yang masih menggunakan film celluloid. Di lain sisi ia juga bermasalah. Istrinya selingkuh dengan lelaki lain. Namun ia mampu mengolah marah sehingga tidak menjadi amarah.

Proses kreatif penggarapan film ini, terekam dalam behind the screen, penuh dengan romantika. Seorang Tio Pakusadewo nyaris menyerah menapaki tanjakan di gunung Ijen, namun ketika tahu ada kru yang gemuk berjuang keras terus naik meski susah payah, apalagi menyaksikan para pekerja penggali belerang, yang mengangkut dengan pikulan seberat 50 kilogram naik turun gunung, semangatnya bangkit. Titi Syuman harus berjuang menahan cuaca dingin sekitar 2 derajat, padahal ia mengenakan wardrop karya Musa Widyatmoko yang terbuat dari bahan tipis. Banyak tantangan dialami oleh kru artistik agar suting berlangsung lancar dan menghasilkan gambar, suara, suasana yang meyakinkan.  Sekitar 29 hari, semua dijalani dengan sukacita, karena tak ada beda perlakuan terhadap produser, pemain dan kru, yang jumlahnya hampir 100 orang. Misalnya, meski sudah booking kamar hotel, namun lantaran khawatir ketinggalan momen mentari terbit di ufuk Timur, terpaksa tidur di bus. Dan banyak lagi pengalaman yang mengesankan. Termasuk mengedit stockshot yang keseluruhannya ditaksir bisa membuat film durasi lima jam, dengan berbagai pertimbangan digarapsajikan menjadi dua jam.

Local wisdom

Perjalanan ”njalajah desa milang kori” bintang dan juru foto dalam film ini,  pun nyaris jumbuh, sama dan sebangun dengan skenario, yang sarat dengan dialog maupun momen-momen, yang menumbuhkan pemahaman lebih dalam ihwal makna kehidupan. Cak Nun, begitu Emha akrab dipanggil, dikenal sebagai budayawan yang pemikirannya multi dimensi, menuangkannya ke dalam skenario lengkap dengan nuansa sastra dan teater, sehingga terasa lain dari umumnya skenario. Viva Westi selaku sutradara, dibantu tim artistik, justru merasa tertantang menghidupkan dialog menjadi adegan yang diupayakan alamiah, baik ketika berbaur dengan warga masyarakat maupun ketika suting dengan latar pemandangan alam - yang eksotis.

Tentu saja bukan hal yang mudah. Apalagi kita tahu bahwa ada semacam anggapan bahwa masyarakat Indonesia tidak bisa mencerna berbagai hal yang :”berat” maksudnya sarat filosofi. Hal ini secara bijak dijawab oleh Sabrang Mawa Damar Panuluh, yang menyatakan bahwa anggapan seperti itu berarti menuding masyarakat Indonesia bodoh. Padahal yang terjadi sebaliknya. Berbagai kebijaksanaan tradisi, local wisdom,  justru menunjukkan bahwa nilai-nilai luhur masih dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Rayya, artis ternama yang hidup dalam gemerlap cahaya, glamour, mengalami shock ketika melihat ibu-ibu, beberapa di antaranya dibantu anak  usia sekolah dasar - bekerja memecah batu menjadi kerikil demi mempertahankan hidup. Pun para penari tradisi yang ngamen keliling kota. Juga terkesan oleh pengabdian “Bu De” (Christine Hakim) meski pendengarannya tak sempurna, namun ikhlas mendidik anak-anak untuk mencintai lingkungan. Apalagi bertemu ibu tua penjual kerak – nasi kering yang disangan dengan pasir. Harga dua bungkus plastik dua belas ribu, Rayya memberinya uang lima puluh ribu. Si ibu tak punya uang kembali, maka dengan enteng Rayya bilang “Lebihnya buat Ibu.” Ternyata, bukannya senang, si ibu mengembalikan uang tersebut dan membatalkan transaksi. “Saya ini berjualan, bukan mau mengemis..”

Budi pekerti adalah cahaya bathin, nurani, yang terangnya melebihi perilaku glamour. Cahaya di atas cahaya. Ini memang film yang menggugah, menyadarkan siapa pun untuk mensifati dan mensikapi kehidupan secara luwes– bahkan ora usum, tidak terjebak arus,  yang mewujud pada perilaku arif bijaksana.

(Uki Bayu Sedjati)

Editor :
Jodhi Yudono