Jumat, 25 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Juli 2014 | 22:56 WIB
Tak Mudah Jadi Penulis Biografi yang Tak Sempit
Penulis: Tri Agung Kristanto | Kamis, 13 September 2012 | 13:29 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
Kompas/Tri Agung Kristanto Biograf Ana Nadya Abrar (kiri) menjadi pembicara bersama Sejarawan Asvi Warman Adam dalam bincang-bincang tentang penulisan biografi yang diadakan Penerbit Buku Kompas di Gedung Kompas-Gramedia, Jakarta, Kamis (13/9/2012). Diskusi itu dipandu Riris K Toha Sarumpaet (tengah).

JAKARTA, KOMPAS.com — Penulisan biografi seorang tokoh semestinya bukan hanya untuk kepentingan tokoh itu, melainkan juga untuk kepentingan khalayak. Karena itu, memang tidak mudah menjadi penulis biografi (biograf) yang tidak jumud atau tidak sempit, beku, fanatik yang tidak proporsional, dan statis.

Pandangan itu disampaikan oleh dosen Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, yang juga biograf, Ana Nadya Abrar, dalam diskusi "Berbagi Pengalaman Menulis Biografi" di Gedung Kompas-Gramedia, Jakarta, Kamis (13/9/2012).

Perbincangan yang digelar Penerbit Buku Kompas (PBK) itu menampilkan pula sejarawan Asvi Warman Adam sebagai narasumber dan dipandu oleh penulis Riris K Toha Sarumpaet.

Abrar mengingatkan, ketika biograf hanya bekerja untuk kepentingan tokoh yang ditulisnya, biografi itu hanya menjadi komoditas. Dengan memasukkan kepentingan khalayak, biograf menjadikan karyanya mempunyai fungsi sosial, dan pada gilirannya bisa menghasilkan inspirasi bagi khalayak.

"Dalam menulis siapa sesungguhnya sang tokoh, biograf biasanya mengamalkan petuah, 'to probe the unknown and to reveal the unseen' (memastikan yang belum diketahui khalayak dan mengungkapkan yang belum terlihat). Karena itu, biograf juga harus punya data penelitian," papar Abrar.

Abrar menegaskan, pertanggungjawaban biograf yang pertama tentu saja terhadap kebenaran fakta.

Editor :
Nasru Alam Aziz