Kamis, 21 Agustus 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 21 Agustus 2014 | 17:10 WIB
"Test Pack", Kapan Punya Anak?
Selasa, 11 September 2012 | 19:37 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

istimewa

KOMPAS.com — Apa yang terjadi ketika sepasang kekasih memutuskan untuk menikah, setia pada satu sama lain, selamanya seumur hidup? Bagaimana jika anak tidak kunjung datang, tetapi orang ketiga dari masa lalu malah menyapa?

Tersebutlah Rahmat (Reza Rahadian) dan Tata (Acha Septriasa) sebagai pasangan suami istri kelas menengah yang sudah 7 tahun menikah, tetapi belum dikaruniai anak. Setelah melewati berbagai cara, seperti posisi bercinta, jamu kesuburan, dan sebagainya, hasil tetap nihil. Di tengah itu, juga ada Shinta (Renata Kusmanto), mantan kekasih Rahmat yang ternyata seorang supermodel Indonesia yang mendunia. Tidak banyak yang tahu bahwa Shinta baru bercerai dari suaminya, Heru (Dwi Sasono), karena Shinta didiagnosis tidak dapat memberikan anak.

Di sebuah klinik, Rahmat dan Shinta pun bertemu. Ada percik masa lalu yang sedikit kembali menyala. Markus (Uli Herdinansyah), manajer Shinta, berusaha memperingatkannya akan bahaya "permainan api" yang mulai membara di antara mereka. Namun, Shinta sepertinya tidak peduli. Sementara Rahmat, selain bergelut dengan perkawinannya yang terus bermasalah lantaran tidak kunjung dikaruniai anak, di saat bersamaan di tempat kerjanya, sedang menangani suami istri yang  ngotot ingin bercerai. Suami istri tersebut dimainkan dengan sangat baik oleh Meriam Belina dan Jaja Mihardja.

Selama tidak kurang 100 menit, Test Pack berusaha memainkan tema "kapan punya anak" yang memang bisa jadi sangat mengena di banyak hati pasangan muda di Indonesia dengan sangat ringan, walau sesekali berusaha menjadi drama yang memancing haru. Penulis skenario pasti bekerja lebih keras, ketika mengangkat novel Test Pack ini menjadi film. Pasalnya, bagaimana dengan persoalan adegan intim—yang jika di buku bisa jadi tidak terlalu bermasalah karena yang bermain adalah imajinasi pembaca—tetapi ini divisualkan ke layar lebar? Apalagi dengan ancaman gunting sensor dan kecaman kalangan tertentu yang belum tentu setuju dengan penggambaran hubungan intim di layar lebar? Meski demikian, dengan sangat cerdas, hal-hal menyangkut "usaha" Rahmat dan Tata dalam memperoleh karunia anak disajikan dalam rasa komedi yang sangat kental.

Alur cerita mengalir dengan lancar, walau sempat lambat, yang kemudian segera bergerak cepat lagi dan ditutup dengan manis. Dialog-dialog antar-karakter tidak menggurui, tetapi tetap mampu menjadi renungan-renungan bagi penonton. Reza Rahardian, aktor yang belakangan ini cukup laris, mempertontonkan permainan yang bisa dibilang biasa saja. Namun, karakternya sebagai profesional muda, pasangan yang tidak kunjung mendapat anak, dan terlibat kisah denganwanita lain, dimainkan dengan emosi yang tereksplorasi.

Di sisi lain, Acha cukup memberi warna. Di antara kemengototannya mendapatkan bayi, ia tetap mampu memainkan ekspresi yang ceria, sedih, dan sesekali marah. Peran lain, Markus, dimainkan Uli Herdinansyah dengan sangat fungsional. Sebagai manajer, sepertinya karakter Markus memang berfungsi untuk mengenalkan siapa Shinta dan menjadi rekan curhat Shinta dalam menghadapi permasalahannya. Namun memang, Reza, Acha, Dwi Sasono, dan Uli Herdinansyah harus belajar banyak dari Meriam Belina dan Jaja Mihadja. Sebagai pasangan Jawa-Betawi yang menjelang perceraian, mereka berhasil membuat penonton tersenyum dan terkagum-kagum dengan konsistensi dan detail akting yang mereka pertontonkan.

Test Pack adalah film komedi romantis yang ditangani oleh orang-orang dengan jaminan mutu. "Test Pack sangat dekat dengan kehidupan saya karena selama dua tahun saya sering mendapat pertanyaan 'kapan-punya-anak'. Test Pack juga mengenai kita, yang kadang mencintai seseorang karena keadaan sesaat. Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir apa jadinya, kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dahulu, atau mendadak miskin. Will you still love them, then?” demikian dikatakan Adhitya, yang juga menulis skenario film laris berjudul Jomblo.

Monty Tiwa sebagai sutradara memang bisa dikatakan telah banyak pengalaman. Tak heran jika dia mampu mempersembahkan tontonan yang pas, secara takaran komedi dan drama, sepanjang film. Terlepas dari urusan departemen artistik, Test Pack juga menjadi penting bukan bagian dari kebanyakan film drama yang cenderung mengangkat konflik dewasa, ketimbang tema remaja, apalagi tema mengenai keturunan yang tentunya sangat menyentuh. (Iwan Setiawan)

Editor :
Jodhi Yudono