Jumat, 19 September 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 19 September 2014 | 22:47 WIB
Budaya Indonesia
Dalang Sumardi: Menebar Wayang Keliling Australia
Penulis: L Sastra Wijaya | Senin, 10 September 2012 | 12:01 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
Istimewa Sebuah pertunjukan wayang oleh Sumardi di depan murid sekolah di Australia.

ADELAIDE, KOMPAS.com -- Akankah nantinya wayang kulit lebih populer dan lebih dikenal di Australia dibandingkan di Indonesia? Bisa jadi begitu, karena seorang dalang asal Sragen, Jawa Tengah, Sumardi (46) selama tujuh tahun terakhir berkeliling Australia memperkenalkan wayang kepada murid-murid sekolah.

Bulan September ini, Sumardi sedang berada di kawasan Western Australia menyajikan pertunjukan wayang dan workshop bagi anak-anak sekolah. "Sejak 2006, saya setiap tahun selama beberapa bulan berkeliling Australia mendatangi sekolah mempertunjukkan wayang kulit," kata Sumardi kepada koresponden Kompas di Australia, L Sastra Wijaya.

Sumardi dikontrak oleh sebuah agen budaya bernama PAN Cultural Infusion berkedudukan di Melbourne, dan penebaran wayang kulit ini bersifat komersial, bukan sebagai pertukaran budaya. "Semua jadwal saya sudah diatur oleh PAN, sehingga saya tinggal mendatangi sekolah-sekolah saja. Kalau tidak salah murid harus membayar satu orang 5 dollar, dan setiap sekolah harus memiliki sedikitnya 140 murid," tutur Sumardi, yang lulusan dari ISI Yogyakarta.

Untuk tahun 2012, perjalanan Sumardi dimulai dari bulan Juli di negara bagian Victoria (Melbourne dan sekitarnya), dilanjutkan ke South Australia (Adelaide dan sekitarnya) dan sekarang berada di Western Australia (Perth dan sekitarnya), sebelum kemudian mengunjungi New South Wales dan Queensland sampai akhir November.

"Kami tidak mengunjungi kota-kota besar saja, namun juga sampai ke pelosok-pelosok. Pekan ini saya berada di Karratha (hampir 1.500 km dari Perth). Ini kota kecil, kaya dengan tambang batubara dan gas, dan cuacanya panas seperti Indonesia, dan karena terpencil harga apapun mahal," ungkap Sumardi.

Perjalanan berkeliling Australia dilakukan Sumardi lewat darat karena banyaknya peralatan pertunjukkan yang harus dibawa. "Saya membawa perabot pentas sendiri, seperti wayang, layar selebar dua meter. Untuk iringan musiknya menggunakan CD. Setiap pentas, biasanya selama 40 menit, dan kemudian dilanjutkan dengan tanya-jawab," kata Sumardi.

Dalam pengalamannya, Sumardi merasa antusias anak-anak sekolah di Australia sangat besar. "Buktinya setiap tahu masih banyak sekolah yang mem-booking kami. Karena seringnya saya tampil di Australia murid-murid sekolah di Australia lebih mengenal saya dibandingkan Presiden Yudhoyono," kata Sumardi dalam nada bergurau. "Banyak majalah sekolah menulis tentang saya, gambar saya terpasang di papan pengumuman. Bahkan tadi saya belanja di supermarket Woolworths ada seorang murid yang menyapa saya, hi Sumardi, Indonesian puppetter."

Dalam pertunjukkannya Sumardi menggunakan bahasa Inggris, bahasa yang dipelajarinya sambil jalan. "Tahun 2006, saya tidak bisa berbahasa Inggris. Waktu itu, saya bertemu dengan seorang mahasiswa S-3 asal Indonesia di Monash University, Bambang Irawan. Sebelum pentas, saya buat teks cerita dalam bahasa Inggris, dan kemudian dikoreksi oleh Mas Bambang. Saya kemudian menhafalkan teks itu sambil pentas keliling. Alhamdullah dalam waktu dua minggu saya hafal teks tersebut," tutur Sumardi.

Editor :
Nasru Alam Aziz