A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: file_get_contents(http://xml.kompas.com/data/banner_on_keyword/on_keyword.php) [function.file-get-contents]: failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found

Filename: controllers/read.php

Line Number: 346

Ngejot di Ababi - KOMPAS.com
Minggu, 23 November 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 23 November 2014 | 10:17 WIB
Ngejot di Ababi
Selasa, 4 September 2012 | 22:36 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

traditionalsculture.blogspot.com

Oleh NI NYOMAN AYU SUCIARTINI

Galungan dan serentet tradisi uniknya mengundang rasa ingin tahu warga untuk melihat dan  mendengar sejarah lisan tentang budaya Bali. Hari suci Hindu yang datang setiap enam bulan sekali selalu menghadirkan senyum sumringah bagi masyarakat Bali maupun di luar Bali. Tidak jarang bertepatan dengan hari suci Galungan ini wisatawan domestik dan mancanegara berlomba mencari sudut terindah untuk memandang kekhidmatan iringan banten dan segerombol warga yang secara bersama-sama menuju pura.

Sebanyak 44 kali telah saya jumpai Galungan di Bali. Perubahan itu selalu ada menghias budaya Bali, termasuk dalam merayakan hari suci Galungan. Sarana pembuat penjor, salah satunya. Dahulu biasa digunakan janur dan hiasan ala kadarnya. Namun, di seputaran kota Denpasar dan Gianyar, penjor yang berdiri tegak menjulang begitu indahnya. Hiasan modern dengan pernak-pernik mengagumkan menjadi fokus mata yang memandang. Tidak berlebihan kiranya apabila pembuatan penjor ini selalu dinanti warga.

Ada satu sisi yang tidak berubah di hari Galungan yang saya amati di kota Karangasem, tepatnya desa Ababi. Sebuah tradisi bersahaja yang membuat warga desa hidup berdampingan dalam damai. Ya..tradisi ngejot (Dharma Santhi) di hari Galungan. Di Bali, ngejot artinya memberikan sesuatu (umumnya makanan) kepada orang lain ketika seseorang mempunyai hajatan atau pada saat hari raya tertentu. Tradisi ngejot ini adalah salah satu bukti nyata bahwa tolong menolong dan saling berbagi masih bernafas begitu panjang. Ngejot ketika hari raya seperti Galungan biasanya bersifat sukarela dan lebih menyesuaikan situasi dan kondisi. Kecendrungan lain yang tampak di desa ini adalah berlakunya tradisi ngejot bukan hanya untuk umat Hindu saja, melainkan untuk umat non-Hindu juga menerima jotan. Semua itu dapat bertahan hanya karena satu landasan yaitu ikhlas. Sangat indah perbedaan itu bukan?

Tradisi ngejot yang sudah dilakoni puluhan tahun oleh warga desa Ababi tidak boleh dilakukan sembarangan. Tradisi ngejot dilakukan dalam kondisi lebih formal namun tetap bersifat kekeluargaan, isi jotan sudah diatur sedemikian rupa, daftar orang yang menerima jotan pun ada, serta yang membawakan jotan juga berpakaian adat (perempuan menggunakan kebaya dan lelaki menggunakan udeng). Isi jotan pun biasanya unik, berupa sate, nasi (dengan takaran tertentu), lawar, buah dan lainnya.

Tradisi ini masih hidup di tengah persaingan pasar modern yang begitu dahsyat. Cara instan seperti mengirim parsel, bingkisan, atau lainnya tidak lantas menghilangkan tradisi leluhur desa. Ngejot memang sudah lumrah, namun saya yakin anak cucu zaman ini jarang atau bahkan tidak pernah melihat melihat tradisi ini. Sebuah tradisi yang sering dianggap kuno dan tidak efektif ternyata mampu membangkitkan rasa peduli juga mau berbagi. Berbeda dengan parsel atau bingkisan buah dan makanan, ngejot ini tidak boleh diwakilkan atau dikirim lewat pos. Orang yang ngejot harus datang bersilaturahmi kepada sanak saudara atau kerabat sembari berbincang tentang hidup dan maknanya.

Ketika warga desa ingin ngejot, saya juga melihat mereka membawa serta anak-anak mereka untuk menyaksikan secara langsung bagaimana tradisi ngejot itu dijaga begitu indahnya. Jangan sampai niat dan cara instan, nantinya menimbulkan keengganan generasi selanjutnya untuk meneruskan tradisi ngejot ini. Tak ada satu warga desapun yang menghitung berapa untung atau rugi dari aktivitas ngejot ini, karena mereka yakin setiap jejak berbagi yang mereka lakoni, surat tugasnya ditandatangi langsung oleh Yang Maha Kuasa (Ida Hyang Widhi Wasa). 

Ababi, 31 Agustus 2012

Editor :
Jodhi Yudono