Sabtu, 25 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 25 Mei 2013 | 07:15 WIB
Puisi-puisi AD. Rusmianto
Selasa, 4 September 2012 | 22:15 WIB
Dibaca:
|
Share:

google.com
Ilustrasi

Mengenang Hujan
: Pameta Filsabila
hujan itu
adalah ungkapan gerah
sepanjang malioboro yang gelisah
sebab ribuan kata dipalsukan imajinasi diam
pada lajur-lajur waktu
berjalan cepat sehari sebelumnya

hujan itu
adalah Vredeburg
ditinggal peradaban menuju senja
sementara di kepala pasar malam mulai menjalar
berkoar
tawar menawar

hujan itu
adalah teh manis pinggir jalan;
sebuah ruang perawan kesepian. mungkin
lantas mengunyah jarak
kilometer empat belas menuju puncak

hujan itu
adalah satu-satunya suara
berkejaran meniriskan usia
pada jalan lengang tanpa tiang

hujan itu
sama-sama mengaduh
serupa basah membuat teduh
Sleman, 12 - 13 Desember 2011
Sang Gama

untuk yang sengaja kutelantarkan
pada malam buram
setelah ribuan detak ditinggalkan lelap
aku dan kamu saling bercumbu
memaksa untuk terus mengecup setiap kata
terucap dari kulitmu
ya. kulitmu dengan wajah yang manis

bergulingan di atas kasur
telentang
sujud
melawan kantuk
nafas yang kau suguhkan dalam irama
dan makna itu terlalu berat aku membacanya

akh!
selalu ada cara
mengajak bersenggama
melewati pekabaran sebelum pejantan berteriak
umumkan terang

2012

Membaca Pusara

membaca lingkaran
hanya satu putaran
lantas merayap perlahan
dengan kaki-kaki waktu menuju ke hulu
akh!
betapa penjarakkan sempurna antara akuku dan Kauku

kembali pada bumi
yang pegang janji illahi
setelah kemboja menunduk sunyi
antar raga menyusuri sepi
 
adalah doa-doa berhambur
meruang pada kubur
 
“Bukan ini kado ulang tahun yang kuharapkan,” ucapmu

hidup adalah antrian
menunggu di loket kematian


2012

Sehabis Mengantar Jenazah
        ; Wandi
 
ada sunyi menyergap ragaku
menenggelamkan suara sekop
pada timbunan tanah
yang membuat kita gelisah
 
“Aku ingat ibu”
bathinku memutar kaleidoskop
ketika melewati neon 18 watt di atas gundukan
terbayang gulita di bawah sana
hanya pucuk kemboja
kembang tujuh rupa serta doa
pengantar menuju batas tak terhingga
 
pada langkah ke tujuh
menengok seakan mengucap selamat jalan
protes pada Tuhan pun segan
 
“Innasolati Wanusuki Wamahyaya Wamamati LillahiRabbil 'alamin...”
 
terimalah sujudku
doa-doa yang kulafalkan
tangan mengangkasa
serta tangis pada bumi dimana aku kembali
pun tak bisa mengelak dan menawar lagi

Speed Net, 21 Mei 2012

Dialog Jiwa Semusim

Adakah risau menyapaku
Di pucuk daun pintu yang terketuk

Adakah ruang
Pada lantun sunyi kejauhan jarak pandang

Sejenak aku berpikir
Andaisaja di sana rumah kita sejalan
Sepetak dan tak perlu susah menyebrang
Saling lempar kabar tanpa pesan singkat
Akan kita nikmati
Cangkir demi cangkir kopi hitam
Beradu tawa dan gelisah
“Ahh…aku sedang tidak baik malam ini,” ucapmu membunuh purnama

Pada ritual mega
Aku tadi melepas raga
Menari menerjemahkan sunyi
Berkejaran dan mimpi
Hingga akhirnya menyerah
Memenggal mimpi

Ri, maafkan jika ternyata
Mata ini tak sanggup melihat aslimu
Tapi biarlah beradu dengan bayanganmu di pelupuk mata
Tentangmu
Dan pula ingin kuukir puisi
Di tubuhmu dengan tinta bukan belati
Menancap di hati

Adalah puisi kutulis
Dari tinta sepi, dengan diksi miris
Hasil mematai dunia liris

Cinta tentunya teramat tinggi
Untuk musafir sepertiku
Yang hingar di padang pasir
Dan hampir buta soal perhentian musim
Padahal tak kuperlukan musim agar cinta itu tumbuh

“Jejak ini akan menjadi awal
dan bagaimana musim tak kauperlukan
sedang aku hanya hidup di musim tertentu”

Pena dan tinta menjadi buram
Serupa malam yang abu-abu
Di lengkung alis matamu

Cikole, 7-8 Juli 2012


Biodata :

AD. Rusmianto (Awi) bernama lengkap Agus Dwi Rusmianto, kelahiran Yogyakarta, Agustus 1983, adalah lelaki yang sekarang domisili di Tasikmalaya. Menulis mencipta sebuah dunia kata. Tulisannya masuk di antologi Soulmate ; 12 Penyair Tasikmalaya (MIT, 2011), Dear Love ( Hasfa Publisher, 2011). Bilakah Tuhan Jatuh Cinta (Hasfa Publisher, 2011).  Bunga Rampay Selingkuh Seringkuh (Hasfa Publisher, 2011), 5 besar Puisi Award Writing Revolution, Antologi Puisi Adalah Hidupku (Leutika Prio, 2012), Antologi Puisi Pilihan Merah Darah Putih Puisi (WR- Leutika Prio), Antologi Writing Dreams (WR-Leutika Prio), antologi Memburu Senyap (Penerbit Seruni), kumpulan Puisi Afasia (Leutika Prio, 2012). Antologi Terapi menulis bersama Jonru, Antologi Diverse 120 Indonesian Poetry (Dua bahasa) Tergabung di Komunitas Cermin Tasikmalaya. Selain menulis puisi, aktif di Citizen Journalism Forum.
email  : wie_rusmianto@yahoo.com 

Editor :
Jodhi Yudono