Severity: Notice
Message: Undefined variable: url_twitter
Filename: views/read_view.php
Line Number: 93
BLU’URAN
Yat, sungai itu telah kering bersama dengan daun-daun tembakau yang
menguning. Rumah-rumah berasap di antara kehangatan sahabat kerabatmu
membelah ketupat .Suara-suara itu menjadi denging, memecah kesunyian
lembah dan kegersangan bukit .Siapa tak sakit? Televisi pecah di sore
hari, perempuan dan anak-anak berjalan tergesa menuju arah senja.
Sungai-sungai mengering dan batu dan kerikil berkilau ditikam matahari
kemarau. Suara sepatu kembali berderap dan orang-orang dengan pakaian
yang rapi di tangannya aneka perekam kembali berdatangan kemudian
berhambur dalam perayaan suara di dalam televisi.
Yat, kau masih ingat masa kanak-kanak bermain dadu di hari raya dengan
taruhan uang tak seberapa usai shalat di masjid tetanggadesa.
Malamnya, kita saksikan Sandor Madura dengan cerita drama perkelahian
laki-laki memperebutkan seorang putri. Botol beer berserak di bawah
terop, sebagian lagi meracau mengumpat kemiskinan yang liat dan lekat.
Sebagian yang lain terlelap dalam mimpi malam yang pekat seraya
menghilangkan kesumpekan dan tagihan hutang yang akan datang esok
pagi.
Yat, di lembah itu kita sempat bolos sekolah dan ngaji di langgar,
hanya sekedar menyaksikan sabung ayam bertaji di belukar dusun laodan.
Tak inginkah kau, sekedar mengingat masa yang telah lewat? Dua jago
saling menyambar dan menikamkan taji terikat di pangkal jalu. Siapa
yang mati dahulu, maka akan jadi sajian pertama bagi para penjudi yang
belum sarapan pagi. Berbaur rasa takut, hati kita berdebar mlihat
ayam saling menyambar.
Yat, sudahkah kau dengar hiruk-pikuk di kampung utara, mereka rayakan
luka entah untuk siapa. Taji ayam jantan kembali menyambar sambil
menyebut-nyebut nama Tuhan Yang Maha Besar.
KARANGGAYAM
Mas, gimana kabarnya? Sapamu di kejauhan. Aku bayangkan sikap kamu
ketika berbicara. memegang handphone menempel di telinga dan rambut
panjangmu berjatuhan di raut muka. Kau tanyakan berita yang pecah pagi
itu. Berita kampung rusuh di daerah yang jarang tersentuh. Kampung
yang dibesarkan oleh kemandirian, didewasakan oleh belitan
kemiskinan yang mencengkeram sehingga tak takut lagi menghadapi apa
yang terjadi.
Kampungmu mas? Ya, kampungku. Kampung yang sunyi ditinggal para
lelaki, sebab lelaki adalah pengembara dan perempuan-perempuan adalah
para pekerja yang mempertahankan dan mempertaruhkan harkat rumah
tangga. Kau lihat kan, perempuian-perempuan itu tak menangis, sebab
airmatanya telah diminumnya saban hari saat semua tak ada yang peduli.
KARANGGAYAM OMBEN
Seberapa jauh dari kampungmu mas? Tak jauh dan tak lebih tiga
kilometer. Tapi berita itu telah membuatku semakin jauh menempuh di
antara jalan raya yang sempit dan rasa yang terhimpit. Perjalanan
semakin jauh dan panas sebab tanah terpanggang di atas bara sekam yang
naas.
CARETANA TAJUL BAN ROIS
Saudara sekandung
Lupakah kau pernah tinggal di ruang rahim yang hijau
Lalu tumbuh di ladang luas dengan buah pikiran yang berbeda
Bungkuslah untuk oleh-oleh dan tanda mata buat Tuhan semata
BIODATA:
Hidayat Raharja, lahir dan dibesarkan di desa omben- sampang. Selain menulis puisi dan esai saat ini berkhidmat sebagai guru biologi di SMA Negeri 1 Sumenep.