Kamis, 20 Juni 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 20 Juni 2013 | 01:45 WIB
Sajak-sajak Hidayat Raharja
Kamis, 30 Agustus 2012 | 20:51 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Ilustrasi: Perkebunan tembakau

BLU’URAN

Yat, sungai itu telah kering bersama dengan daun-daun tembakau yang
menguning. Rumah-rumah berasap di antara kehangatan  sahabat kerabatmu
membelah ketupat .Suara-suara itu menjadi denging,  memecah kesunyian
lembah dan kegersangan bukit .Siapa tak sakit? Televisi pecah di sore
hari, perempuan dan anak-anak berjalan tergesa menuju arah senja.
Sungai-sungai mengering dan batu dan kerikil berkilau ditikam matahari
kemarau. Suara sepatu kembali berderap dan orang-orang dengan pakaian
yang rapi di tangannya aneka perekam kembali berdatangan kemudian
berhambur dalam perayaan  suara di dalam televisi.

Yat, kau masih ingat masa kanak-kanak bermain dadu di hari raya dengan
taruhan uang tak seberapa usai shalat di masjid tetanggadesa.
Malamnya,  kita saksikan Sandor Madura dengan cerita drama perkelahian
laki-laki memperebutkan seorang putri. Botol beer berserak di bawah
terop, sebagian lagi meracau mengumpat kemiskinan yang liat dan lekat.
Sebagian yang lain terlelap dalam mimpi malam yang pekat seraya
menghilangkan kesumpekan dan tagihan hutang yang akan datang esok
pagi.

Yat, di lembah itu kita sempat bolos sekolah dan ngaji di langgar,
hanya sekedar menyaksikan sabung ayam bertaji di belukar dusun laodan.
Tak inginkah kau, sekedar mengingat masa yang telah lewat? Dua jago
saling menyambar dan menikamkan taji terikat di  pangkal jalu. Siapa
yang mati dahulu, maka akan jadi sajian pertama bagi para penjudi yang
belum sarapan pagi.  Berbaur rasa takut,  hati kita berdebar mlihat
ayam saling menyambar.

Yat, sudahkah kau dengar hiruk-pikuk di kampung utara, mereka rayakan
luka entah untuk siapa. Taji ayam jantan kembali menyambar  sambil
menyebut-nyebut nama Tuhan Yang Maha Besar.

KARANGGAYAM

Mas, gimana kabarnya?  Sapamu di kejauhan. Aku bayangkan sikap kamu
ketika berbicara.  memegang handphone  menempel di telinga dan rambut
panjangmu berjatuhan di raut muka. Kau tanyakan berita yang pecah pagi
itu. Berita kampung  rusuh di daerah yang jarang tersentuh. Kampung
yang dibesarkan oleh  kemandirian,  didewasakan oleh belitan
kemiskinan yang mencengkeram sehingga  tak takut lagi menghadapi  apa
yang terjadi.

Kampungmu mas?  Ya, kampungku. Kampung yang  sunyi ditinggal para
lelaki, sebab lelaki adalah pengembara dan perempuan-perempuan adalah
para pekerja yang mempertahankan  dan mempertaruhkan harkat rumah
tangga.  Kau lihat kan, perempuian-perempuan itu tak menangis, sebab
airmatanya telah diminumnya saban hari saat semua tak ada yang peduli.

KARANGGAYAM OMBEN

Seberapa jauh dari kampungmu mas? Tak jauh dan  tak lebih tiga
kilometer.  Tapi berita itu telah membuatku semakin jauh menempuh di
antara jalan raya yang sempit dan rasa yang terhimpit. Perjalanan
semakin jauh dan panas sebab tanah terpanggang di atas bara sekam yang
naas.

CARETANA TAJUL BAN ROIS

Saudara sekandung
Lupakah kau pernah tinggal di ruang rahim yang hijau
Lalu tumbuh di ladang luas dengan  buah pikiran yang berbeda
Bungkuslah untuk oleh-oleh dan tanda mata buat Tuhan semata

BIODATA:
Hidayat Raharja, lahir dan dibesarkan di desa omben- sampang. Selain menulis puisi dan esai saat ini berkhidmat sebagai guru biologi di SMA Negeri 1 Sumenep.

Editor :
Jodhi Yudono