Rabu, 23 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Juli 2014 | 04:11 WIB
Menanti Limpahan Wisatawan dari Negeri Jiran
Rabu, 29 Agustus 2012 | 15:15 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
Raditya Mahendra Yasa/KOMPAS Ilustrasi: Warga Tionghoa menyiapkan lontong Cap Go Meh

Oleh Teguh Imam Wibowo

Amir Andrianto (30), warga Pontianak, Kalimantan Barat, baru pertama kali menjejakkan kakinya di negeri jiran, Malaysia, pertengahan Juli lalu, untuk menyaksikan sebuah pertunjukan musik budaya tingkat internasional di Kuching, Sarawak.

Pertama kali ke luar negeri, dan kebetulan negara yang dikunjungi selangkah lebih maju dibanding Indonesia, Amir tidak memungkiri berbagai kelebihan yang disajikan. "Kebersihan, keteraturan dan keindahan. Tiga kata yang paling tepat kalau ditanya pendapat tentang Kuching, Sarawak," kata Amir, karyawan sebuah perusahaan di Pontianak itu.

Namun, lanjut dia, sejujurnya kalau dibandingkan dengan Indonesia, khususnya Kalimantan Barat, Malaysia tidak lebih unggul dalam hal keindahan alam. "Mereka mampu menata wilayah dengan baik. Sesuatu yang biasa juga dikemas secara menarik sehingga enak untuk menjualnya," kata dia.

Ia mencontohkan salah satu ikon Kota Kuching, yakni "Patung Kuching" yang ada di pusat kota hanyalah patung biasa yang tidak terlalu istimewa. Kota Kuching atau Sarawak secara umum, harus diakui menjadi salah satu tujuan wisata menarik bagi wisatawan termasuk dari Indonesia. Setiap tahun, sekitar 1,5 juta hingga dua juta wisatawan asing yang berkunjung ke Sarawak.

Secara tekstur daerah, tidak banyak perbedaan dengan Indonesia khususnya Kalbar yang berbatasan langsung secara darat maupun lautan. Di wilayah perbatasan, yang teksturnya berbukit, Sarawak mampu membangun infrastruktur dan fasilitas penunjang lainnya yang memadai.

Di Batang Ai’, Sarawak, yang berbatasan dengan Kabupaten Kapuas Hulu, ada hotel mewah yang dikelola jaringan internasional. Mereka menampilkan keindahan alam, di mana salah satu yang dijual adalah kondisi hutan tropis di wilayah Kalbar namun wisatawan tetap di Sarawak.

Ketika di punggung bukit sebelah selatan (wilayah Kalbar) di daerah perbatasan penduduk masih harus berjalan kaki berjam-jam untuk menempuh jarak antarkampung, di punggung bukit sebelah utara, Sarawak membangun sebuah resort mewah lengkap dengan lapangan golf kualitas internasional.

Dua Pintu

Kalbar punya dua pintu utama keluar masuk wisatawan mancanegara yakni di Pos Lintas Batas Darat (PLBD) Entikong, Kabupaten Sanggau, dan Bandar Udara Supadio Pontianak.

Badan Pusat Statistik mencatat adanya kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara ke Kalbar selama Mei 2012 mengalami kenaikan sebesar 9,72 persen atau sebanyak 2.449 orang.

Wisatawan mancanegara yang melalui Entikong sepanjang Mei 2012, naik sebesar 31,30 persen dibanding April, yakni dari 1.479 orang menjadi 1.942 orang, sementara melalui Bandara Supadio Pontianak turun sebesar 32,67 persen, dari 753 orang menjadi 507 orang.

Namun sebelumnya, BPS Kalbar mencatat, kunjungan Wisman ke provinsi itu sepanjang April 2012 turun sebesar 2,70 persen dari sebelumnya 2.294 orang menjadi 2.232 orang.

Kemudian, kunjungan Wisman ke Kalbar sepanjang Maret 2012 juga mengalami penurunan sebesar 6,79 persen dari sebelumnya (Februari) sebanyak 2.461 orang menjadi 2.294 orang.

Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Kalbar lebih banyak karena kegiatan budaya tradisional seperti Cap Go Meh di Kota Singkawang. Saat Cap Go Meh, banyak warga keturunan asal Kota Singkawang atau Kalbar yang menetap di luar negeri ingin kembali menyaksikan beragam atraksi sambil bersilaturahim.

"Limpahan" Wisman Jiran

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat optimistis target pencapaian kunjungan 30 ribu wisatawan mancanegara dapat terwujud. "Tahun lalu, kita perkirakan sudah mencapai angka 28 ribu wisatawan mancanegara (wisman)," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Kalbar, Yusri Zainuddin.

Ia melanjutkan, target 30 ribu wisman itu ditetapkan oleh Pemerintah Pusat untuk Kalbar. "Wisatawan yang datang dari dua pintu masuk utama, yakni Pos Lintas Batas Darat Entikong, Kabupaten Sanggau, dan Bandara Supadio Pontianak," ujar Yusri Zainuddin.

Pemerintah menyiapkan fasilitas "visa on arrival" (VoA) untuk mempermudah wisatawan asing berkunjung ke Kalbar. Ia mengakui, Kalbar masih tertinggal dibanding Sarawak, Malaysia Timur, dalam menarik minat wisatawan.

Padahal, lanjut dia, kekayaan alam Kalbar tidak kalah dibanding Sarawak, banyak yang jauh lebih indah. Namun, lokasi dari tempat wisata alam yang menjadi tujuan wisatawan ke Kalbar letaknya jauh dan belum didukung akses yang mudah dan cepat.

Ia mencontohkan kalau wisatawan ingin ke Danau Sentarum butuh waktu sekitar 16 jam. "Jadi, sudah tiga hari hilang untuk di perjalanan saja. Bagi wisatawan yang terikat kerja, ini membuang waktu karena mereka harus menyesuaikan dengan waktu libur mereka," kata Yusri Zainuddin.

Ia membandingkan dengan Sarawak, di mana akses lebih mudah dan cepat. "Kalau wisatawan dari Kuching ke Santubong, kawasan wisata di sana, cukup 30 menit saja, bisa dapat wisata laut, pegunungan, dan sudah ditata rapi," ujarnya.

Ia tidak heran dengan kondisi itu Sarawak mampu menarik minat 1,5 juta hingga 2 juta wisatawan asing setiap tahun. "Kita dapat limpahan lima atau 10 persen saja, sudah luar biasa," ucapnya, menegaskan.

Kerja Sama

Tak dapat dipungkiri, salah satu cara untuk mendapat "limpahan" wisatawan mancanegara dari Sarawak adalah dengan menjalin kerja sama erat dengan negeri jiran tersebut.

Salah satunya melalui media Sosial Ekonomi Malaysia Indonesia (Sosek Malindo) yang berlangsung beberapa waktu lalu di Pontianak. Bidang pariwisata menjadi pembicaraan yang hangat dalam pertemuan Sosek Malindo ke-28 tersebut.

Hasilnya, kedua belah pihak sepakat adanya peningkatan kerja sama pariwisata di antaranya berupa pemberian potongan harga penerbangan dan hotel di kedua negara.

"Ini menjadi salah satu hasil pra sidang ke-28 Sosek Malindo untuk tingkat daerah Kalimantan Barat dan Negeri Sarawak bidang pariwisata dan kebudayaan," kata Yusri Zainuddin yang juga Ketua Rapat Tim Teknis.

Tim dari Sarawak dipimpin Pengerusi Tim Kebudayaan dan Pelancong Peringkat Negeri Sarawak, Datuk IK Pohan Anak Joyik. Ia melanjutkan, rapat bidang pelancongan/pariwisata antarkedua daerah itu membahas berbagai upaya dalam meningkatkan kerja sama pariwisata.

Sejumlah isu yang dibahas antara lain "Joint Tourism Development and Promotion", Pusat Informasi dan "Joint Notice Board",  "Joint Exit Survey", Pemberitahuan Kegiatan Pariwisata/Pelancongan.

Selain itu, kerja sama kawasan eko pelancongan/ecotourism, museum, kebudayaan dan kesenian, sejarah dan nilai budaya, dan kerja sama perlindungan barang antik/benda cagar budaya.

Ia melanjutkan, untuk "Joint Tourism Development and Promotion", yang disepakati untuk dibahas pada Sidang Sosek Malindo antara lain merancang bersama paket wisata antara pihak, pertukaran informasi tempat-tempat wisata di tempat-tempat strategis di kedua negara.

Kemudian, koordinasi travel agen antara kedua negara ketika memandu wisatawan negara asal di negara tujuan, serta menetapkan prosedur standar pengoperasian kendaraan angkutan pariwisata lintas batas negara.

Sedangkan untuk pusat informasi dan "joint notice board", kedua belah pihak telah menyediakan pusat informasi wisata dan memaksimalkan pemanfaatannya, termasuk memuat informasi wisata di masing-masing laman.

Eko Wisata dan Pertukaran Informasi

Poin penting yang juga disepakati untuk joint exit survey disetujui agar melanjutkan di border Entikong dan Tebedu serta hanya melibatkan CIQS di mana hasil survei akan dilakukan pertukaran antara kedua negara.

Kalbar dan Serawak juga menyepakati agar setiap kota/kabupaten di kedua daerah akan memberitahukan semua undangan yang berkaitan dengan bidang kebudayaan dan pariwisata.

"Khusus kerja sama kawasan eko wisata, salah satu poin yang disepakati adalah kerja sama kawasan yang berbatasan antara kedua wilayah yaitu Taman Nasional Batang Ai, Sarawak dengan Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum," kata dia.

Kedua belah pihak sepakat untuk mendorong semua upaya yang berkaitan dengan kerja sama eko wisata tersebut. "Salah satunya adalah mendukung kedua pemerintah untuk segera membuka border di Nanga Badau dan Lubok Antu," ungkap dia.

Selain itu, disepakati juga agar travel agen dapat menyusun paket eko wisata dimaksud. Kedua belah pihak juga bermaksud menyusun rancangan bersama perkembangan eko wisata melalui penelitian dan pengembangan.

Sedangkan di bidang kebudayaan, kesepakatan antara lain mencakup pertukaran informasi hasil penelitian koleksi, buletin, dan katalog yang dimiliki oleh Museum Provinsi Kalbar dan Muzium Sarawak.

"Juga melakukan pertukaran atau pinjaman koleksi atau replika untuk kepentingan pameran, mengikuti pameran-pameran yang diselenggarakan museum kedua belah pihak, dan saling mengundang pelaksanaan even budaya yang diselenggarakan kedua belah pihak," ujar Yusri.

Acara di Kalbar yang menjadi bahan bahasan di sidang tim teknis tersebut antara lain Festival Budaya Bumi Khatulistiwa 2013, Gawai Dayak, Peringatan Titik Kulminasi di Pontianak, Pesta Adat Gawai Adat Dayak di Sanggau, GOWES 153 KM (Tour D’Singkawang 2013) akan dilaksanakan pada tanggal 22-25 Februari 2013, serta pelaksanaan International Borneo Sumpit Tournament (IBOST) tanggal 5-7 Oktober 2012.

Selain itu, disarankan agar Upacara Nyobeng di Kabupaten Bengkayang setiap tanggal 15-16 Juni menjadi salah satu even yang disepakati untuk dipromosikan. Sementara kegiatan di Sarawak antara lain Borneo Cultural Festival (BFC) di Sibu, World Harvest Festival (WHF) yang merupakan kegiatan tahunan di Kampung Budaya Sarawak, serta Pelaksanaan Sarawak Regatta di Waterfront  Sarawak tanggal 14-16 September.

Kedua belah pihak juga sepakat untuk kerja sama perlindungan barang antik/benda cagar budaya berupa mencegah dan membantu dalam menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan benda cagar budaya yang masuk secara ilegal di kedua negara.

Benda-benda cagar budaya yang dimiliki oleh masyarakat akan disosialisasikan agar diberitahukan kepada pihak yang berwenang sesuai peraturan yang berlaku di kedua negara.

"Tim juga mengusulkan kepada Tim Teknis Pencegahan Penyelundupan untuk mencegah keluar masuk barang antik/benda cagar budaya secara ilegal sesuai aturan masing-masing negara," kata Yusri.

Kalbar dan Sarawak juga akan lebih mempromosikan mengenai Sosek Malindo melalui kendaraan umum maupun pribadi. Yusri berharap, dengan berbagai rancangan tersebut Kalbar akan mendapat keuntungan dari segi kunjungan wisatawan mancanegara.

 

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono