Oleh Fazar Muhardi
Sorak gembira ratusan bocah dan remaja hingga dewasa di Sungai Kampar, Riau, Minggu (26/8) siang, menandai tradisi "Hari Raya Enam" di Desa Parit Baru telah mencapai puncaknya.
Mereka yang merupakan keturuanan warga asli desa itu terlihat begitu antusias merayakan hari keenam Lebaran Idul Fitri 1433 Hijriyah di desa terpencil sudut kota itu.
Desa Parit Baru merupakan sebuah desa yang berada di tengah perbatasan antara Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru, Riau.
Untuk mencapai desa berpenduduk tidak lebih dari 1.500 jiwa itu, warga pendatang harus melalui medan yang cukup gersang hingga membuat para pengendara tidak nyaman untuk melintasinya.
Jalan berlubang dan hanya memiliki lebar kurang dari lima meter itu begitu berlumpur ketika hujan mengguyur kawasan terpencil itu.
Parahnya, sebagian kawasan menuju desa tersebut belum teraliri oleh listrik milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) sehingga masyarakat di sana harus rela bergelap-gelapan ketika malam tiba.
"Prettt...", jepretan kamera salah seorang wartawan mengintai ribuan warga yang berenang ria di Sungai Kampar.
Sayangnya, kamera tersebut tak mampu lagi menyimpan suasana yang semarak penuh dengan kegembiraan di paras wajah-wajah warga Desa Parit Baru, Kampar itu. Memori penyimpan data pada kamera itu "error" akibat kepenuhan data.
Bocah-bocah itu begitu riang mandi bersama teman sebaya dan para remaja dan kalangan dewasa, meski hingga ke tengah Sungai Kampar yang merupakan sungai terlebar di "Negeri Kaya Minyak", Riau.
Tak Hanya Mandi
Busro, selaku Ketua Panitia pada acara Hari Raya Enam di Desa Baru mengatakan, perayaan acara itu tidak hanya diisi dengan mandi massal oleh ribuan warga.
"Sebelumnya di sini juga telah banyak acara sebagai wujud kegembiraan warga atas segala yang dinikmati semasa hidup hingga mampu melalui sebulan puasa ditambah dengan enam hari setelah 1 Syawal," katanya.
Acara lainnya itu (selain mandi massal), demikian Busro, di antaranya pemberian santunan terhadap sejumlah anak yatim yang tinggal di sekitar desa.
Untuk santunan anak yatim itu, kata dia, telah dilaksanakan pagi tadi. Sementara acara lainnya, juga ada permainan anak-anak, mulai dari pacu goni, tarik tambang dan lain-lain.
Kemudian, katanya, ada juga kegiatan sosial yakni pengobatan gratis untuk kalangan tidak mampu yang disponsori oleh Rumah Sakit Syafira Pekanbaru.
Selanjutnya, kata dia, sebagai puncak dari seluruh rangkaian acara dalam menyambut Hari Raya Enam kali ini, yakni panitia mengadakan perlombaan pacu sampan dengan panjang jalur mencapai 700 meter.
"Acara ini sudah menjadi agenda rutin tahunan yang selalu dilaksanakan pada Hari Raya Enam. Kegiatan ini juga telah membudaya sehingga hambar rasanya tanpa kegiatan ini," katanya.
Tradisi Mendaging
Ulul Azmi, Kepala Desa Parit Baru mengatakan, perayaan Hari Raya Enam merupakan tradisi turun menurun yang telah mendarah daging di kalangan warga desa terisolir itu.
"Di sini (Kecamatan Tambang) ada sebanyak 17 desa. Namun hanya beberapa desa saja yang selalu melaksanakan kegiatan ini secara rutin," katanya.
Selain Desa Parit Baru, kata Ulul, juda ada desa tetangga yang melaksanakan kegiatan serupa.
"Dalam penyelenggaraan acara ini, selalu saja ramai pengunjung. Bahkan ada juga pengunjung dari luar daerah," katanya.
Bagi kebanyakan warga, kata dia, Hari Raya Enam Idul Fitri merupakan kegiatan yang membudidaya sehingga terasa nikmat dan menjadi acara yang wajib.
Ulul yang ditemui disela acara itu mengatakan, kegiatan perayaan Hari Raya Enam tersebut merupakan kegiatan rutin tahunan yang biasanya diisi dengan berbagai kegiatan dan perlombaan.
"Untuk mandi masal di Sungai Kampar ini, memang selalu dilakukan kebanyakan warga guna melampiaskan kegembiraannya," kata dia.
Ulul menjelaskan, kegiatan yang mentradisi itu selalu dilakukan sejak turun temurun dan berpuluh-puluh tahun silam. "Sejak berpuluh tahun silam, nenek moyak warga Kampar selalu melakukan kegiatan ini," katanya.
Dia mengakui, selain di Desa Parit Baru, kegiatan serupa juga dilaksanakan beberapa desa lainnya di Kabupaten Kampar.
Hal itu, ujar Ulul, mengingat kebanyakan warga memang telah terbiasa dengan tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang warga Kampar.
Warga Kampar, menurut dia, memiliki kepribadian yang sama, namun terbilang unik jika dibandingkan dengan warga lainnya di seluruh kabupaten/kota se-Provinsi Riau.
"Kami juga terbiasa melakukan yang sunah-sunah menurut ajaran Islam. Termasuk berpuasa selama enam hari setelah 1 Syawal atau hari pertama Lebaran," katanya.
Kebanyakan warga Kampar, khususnya warga Desa Parit Baru, kata Ulul, selalu merasa malu jika tidak berpuasa di tanggal 2 Syawal hingga 7 Syawal.
"Kami baru akan merayakan kemenangan Idul Fitri pada Hari Raya Enam seperti hari ini," katanya.