Jumat, 24 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 24 Oktober 2014 | 18:13 WIB
Dokumen
Indonesia Kembali Mengusulkan "Babad Dipanagara"
Penulis: Ester Lince Napitupulu | Selasa, 21 Agustus 2012 | 18:38 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
Kompas.com/Lusia Kus Anna Peserta World Heritage Education EF dan UNESCO ikut turun ke sawah untuk memanen padi organik di desa Jati Luwu, Tabanan, Bali.

JAKARTA, KOMPAS.com — Meski pernah ditolak masuk dalam Daftar Ingatan Dunia (Memory of the World) Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pada 2011, Indonesia kembali mengusulkan Babad Dipanegara pada tahun ini. Indonesia telah melengkapi dokumen yang dibutuhkan dan dampak perjuangan Pangeran Diponegoro bagi Indonesia dan dunia. 

Ketua Harian Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO Arief Rachman di Jakarta, Selasa (21/8/2012), mengatakan, Indonesia berupaya memperjuangkan supaya Babad Dipanegara bisa masuk nominasi Daftar Ingatan Dunia tahun 2012 ini. "Biasa kok, kalau mengurusnya bolak-balik. Kita berusaha untuk memperjuangkan arsip sejarah yang dimiliki bangsa ini bisa jadi bagian daftar Ingatan Dunia," kata Arief. 

Wardiman Djojonegoro, Ketua Kelompok Kerja Babad Dipanagara UNESCO Indonesia, mengatakan, Babad Dipanagara saat ini menunggu nominasi Daftar Ingatan Dunia kedua pada tahun 2012. Kegagalan yang pertama, antara lain, tidak ada naskah asli di Indonesia karena sudah rusak.  

Untuk pengajuan kedua ini, Indonesia melengkapi dengan mengajukan naskah salinan Babad Dipanegara dari Badan Kebudayaan Belanda. "Kami meminta kepada UNESCO supaya salinan ini tetap bisa dianggap sebagai naskah asli," kata Wardiman.

Babad Dipanegara adalah naskah kuno yang berisi kisah hidup Pangeran Dipanagara (Diponegoro) yang hidup pada tahun 1785-1855. Naskah itu ditulis sendiri oleh Dipanegara ketika ia diasingkan Belanda ke Sulawesi Utara pada tahun 1831.

Wardiman mengatakan, Babad Dipanegara kemungkinan merupakan biografi pertama pada masa kesusastraan Jawa modern pada masanya. Naskah ini pernah diajukan tahun lalu, tetapi oleh UNESCO masih dikembalikan untuk dilengkapi.

Program Daftar Ingatan Dunia (Memory of the World Register) UNESCO memiliki visi menjaga dan melindungi warisan naskah dunia serta membuat warisan tersebut dapat diakses setiap orang tanpa halangan.

Program ini untuk membantu menjaga dan melindungi dengan teknik terbaik, menciptakan akses universal pada warisan dokumen, serta meningkatkan kesadaran universal tentang kehadiran dan pentingnya warisan berbentuk dokumen.  UNESCO telah memasukkan Nagarakertagama (2008) dan La Galigo (2011) dari Indonesia sebagai Daftar Ingatan Dunia.

 

Editor :
Agnes Swetta Pandia