Aryo Wisanggeni G
Aris Prabawa dan Budi Santoso, dua perupa yang menapasi dan mengecapi kerja kreatif komunitas Taring Padi, menggelar pameran bersama di Taman Ismail Marzuki Jakarta, 2-11 Agustus. Aroma Taring Padi mereka kental dihadirkan pada karya mereka yang terus mengusung berbagai soal politik dan isu sosial kita. Mereka memang keras kepala.
”Keras kepala adalah frase yang intim menghubungkan Aris ’Manyul’ Prabawa dan Budi Santoso,” tulis kurator Alexander Supartono dalam pengantar katalog pameran Aris dan Budi yang bertajuk Lihat Disana.
Ada yang lebih keras dari kekeras-kepalaan mereka, yaitu karya-karya mereka yang menghadirkan pahitnya realita kehidupan sosial dan politik kita. Dua karya terbaru Budi Santoso, ”Monumen Indonesia Kini 1” dan ”Monumen Indonesia Kini 2” misalnya, pedas.
Siapa yang pernah memperhatikan patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng Jakarta pastilah ingat perupa Edhi Sunarso menyimbolkan ”bebasnya Irian Barat” dengan seorang lelaki berdiri meregang, begitu kuat tangan dan kaki si lelaki itu merentang, hingga putuslah rantai pengikat tangan dan kakinya.
Budi membuat ”pelesetan” patung Edhi dengan patung perunggu berukuran 32 x 10 x 50 cm. Wujud patung si lelaki, juga dua pilar penyangga patung perunggu berjudul ”Monumen Indonesia Kini 2”, itu persis patung aslinya. Bedanya, rantai pengikat tangan dan kaki si lelaki dalam ”Monumen Indonesia Kini 2” utuh, tak putus dan tetap membelenggu.
Karyanya yang lain, ”Monumen Indonesia Kini 1”, pelesetan atas patung monumen Dirgantara di Pancoran, Jakarta, juga karya Edhi Sunarso. Budi membuat ”tiruan” berupa patung perunggu 8 x 17 x 55 sentimeter. Jika tangan patung Monumen Dirgantara karya Edhi gagah menggapai langit, patung ”Monumen Indonesia Kini 1” karya Budi duduk lemas memeluk lutut di atas pilar melengkung. Tentu saja, dua karya Budi itu bukan sedang mengolok-olok Edhi Sunarso.
Coretan gambar-gambar bolpoin Aris memunculkan berbagai sisi militerisme, sesuatu yang sejak lama direspons Aris dengan karya-karyanya. Gambar-gambar seperti ”Aman Pak” (2011), ”Baktiku Padamu” (2011), atau ”Dwi Fungsi” mengulik isu-isu yang menjadi klasik karena tak pernah diselesaikan.
Aris bahkan menggugat mentalitas inferior masyarakat sipil yang telanjur mendewa-dewakan militer dan militerisme lewat karyanya ”Ketergantungan” (2011). Garis arsiran tebal dan tipis yang begitu halus membentuk sesosok anjing kekar berseragam yang rebah bersantai. Si anjing berkacamata hitam ngelesot nyaman, membiarkan empat manusia menyusu kepadanya. Nyatanya, masyarakat sipil kita memang masih mudah terpesona dengan segala apa yang berbau ”bedil”, ”seragam”, ”bintang”, dan ”keperwiraan”.
”Militerisme selalu menarik bagi saya karena menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat sipil. Di mana pun, militer selalu menimbulkan persoalan bagi demokrasi, dengan berbagai bentuk dan tataran persoalan,” ujar Aris tentang konsistensinya merespons berbagai hal tentang militerisme.
Alexander Supartono dalam katalog Lihat Disana menyebut Aris dan Budi sebagai ”dua dari yang sedikit” para pekerja seni yang setia menjadikan realisme sosial dan politik sebagai tema karya mereka. Menurut Supartono, ”Tidak banyak individu yang pernah dan masih aktif di Taring Padi, yang awalnya berbasis seni rupa, yang berhasil memapankan diri dalam kancah seni rupa formal. Dari yang sedikit itu, lebih sedikit lagi yang terus mengembangkan tradisi visual dan tematis Taring Padi,” tulis Supartono.
Lembaga Budaya Kerakyatan Taring Padi, komunitas seni yang menaut Aris Manyul dan Budi, didirikan pada 21 Desember 1998 di halaman Kantor Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta. Komunitas seni itu mencita-citakan demokrat kerakyatan yang sejahtera secara sosial dan ekologis, serta mandiri dalam berkebudayaan.
Pilihan mengusung realisme sosial dan politik membuat tema para aktivisnya menghadirkan karya yang hampir selalu setema meski cita rasa estetika bisa jadi tak sama. Pilihan itu pula yang mengantarkan para perupanya, termasuk Aris dan Budi, selalu merespons situasi sosial masyarakat di sekitar mereka.
Budi yang tinggal di Yogyakarta bersentuhan dengan masyarakat Kulon Progo yang sedang berjuang mempertahankan hak atas tanah mereka yang akan dijadikan pertambangan pasir besi. ”Dari mereka, saya melahirkan berbagai karya tentang mereka. Warga bahkan bertanya, ’Yogyakarta kota seniman, mana seniman yang lain?’” ujar Budi.
Budi dan Aris tertawa saja dengan sebutan ”keras kepala” dari Supartono. ”Ini adalah pilihan jalan berkarya kami, pilihan keberpihakan kami. Saya tidak pernah alergi berpameran di galeri mewah, tetapi jangan harap galeri bisa mengatur bagaimana saya berkarya. Kami tidak pernah membuat karya manis, dan tidak akan pernah,” ujar Budi.