Severity: Notice
Message: Undefined variable: url_twitter
Filename: views/read_view.php
Line Number: 93
Oleh Monalisa
Para agen Neptunus telah bersiap-siap saat radar menangkap sinyal; film "Perahu Kertas" akan meluncur. Dan mereka menantikan kisah perjalanan rekan mereka, Kugy si agen Neptunus.
Pembaca "Perahu Kertas" pun lantas bertanya-tanya, jatuh kepada siapa peran Kugy dan Keenan dalam novel yang ditulis Dewi Lestari atau Dee tahun 1996 itu.
Nama dua artis muda yang pernah beradu akting dalam film "Malaikat Tanpa Sayap", Maudy Ayunda dan Adipati Dolken, kemudian muncul.
Tapi penyuka "Perahu Kertas" masih harap-harap cemas, apakah film itu mampu mewujudkan khayalan mereka saat membaca novel meski penggarapnya, Hanung Bramantyo, adalah sutradara film-film laris seperti "Jomblo", "Perempuan Berkalung Sorban" dan "Ayat-Ayat Cinta."
Sang pengarang tampaknya ingin mewujudkan harapan penyuka novelnya. Dia turun tangan langsung, menulis sendiri skenario untuk film itu.
Hanung yang sudah beberapa kali menggarap film dari novel dan merasakan bagaimana filmnya selalu dibandingkan dengan kisah dalam novel asli lantas memberikan ruang luas bagi Dee untuk menuangkan kreativitasnya.
Dia menyebut diri sebagai medium bagi Dee dan menyimpan sebagian egonya sebagai sutradara.
Hasilnya: sebuah film dengan sinematografi indah yang mengalir bersama dialog yang mampu melarutkan penonton.
Kemampuan Maudy dan Adipati yang semula dianggap terlalu manis untuk memerankan karakter Kugy yang eksentrik dan berantakan serta Keenan yang dingin dan tertutup pun di luar dugaan.
Maudy membuktikan dirinya pantas memerankan sosok Kugy, menghidupkan karakter itu dengan cara dia. Adipati juga terlihat mendalami perannya, menampilkan sosok Keenan secara natural.
Walau porsi perannya tidak banyak, penampilan aktor Reza Rahadian sebagai bos perusahaan iklan yang manis dalam film itu juga berhasil mencuri perhatian penonton.
Pemeran Fauzan Smith yang sepanjang film mengocok perut penonton dengan lontaran kata-kata dalam bahasa Betawi "medok" juga tampil mengesankan.
Dalam film yang mulai diputar di bioskop tanggal 16 Agustus 2012 itu, semua pemain tampaknya berusaha membawakan peran mereka dengan baik untuk menghidupkan cerita.
Penampilan mereka sekaligus menunjukkan kepekaan Zaskia Adya Mecca dalam memilih pemeran untuk menyajikan dunia "Perahu Kertas."
Takdir bicara
Seperti novelnya yang setebal 400-an halaman, film yang antara lain berlatar lagu-lagu ciptaan Dee, Daniel Hartono/Andi Rianto, The Triangle dan Adrian Martadinata itu bercerita tentang Kugy (Maudy).
Kugy memulai hidup barunya sebagai mahasiswa di Bandung, jauh dari keluarga dan kekasihnya di Jakarta, dengan kalimat:
"Hai Neptunus, apakabar di laut biru? Perahu kertas yang kali ini akan membawakanmu kisah tentang perjalanan hatiku..."
"...dari bandung perahu kertas ku nanti akan meluncur...," ucapnya.
Kugy yang menggilai dongeng punya gaya eksentrik, tingkahnya juga unik. Ia selalu menyebut diri sebagai agen Neptunus dan sering menaruh kedua jarinya di kepala, memasang antena untuk menangkap "radar Neptunus".
"Radar Neptunus" pula yang mempertemukan dia dengan Keenan (Adipati) di stasiun kereta Bandung.
Keenan yang baru lulus dari sebuah sekolah menengah di Amsterdam, Belanda, tidak punya cita-cita lain selain melukis. Tapi dia harus mengabaikan cita-citanya karena sang ayah memaksa dia belajar ekonomi.
Bersama dengan sahabat Kugy, Noni (Sylvia Fully R), serta pacar Noni yang bernama Eko (Fauzan Smith), yang juga sepupu Keenan, mereka berempat membentuk geng yang kompak, pura-pura ninja.
"Kamu kayaknya cocok jadi agen Neptunus," kata Kugy kepada Keenan.
Kecocokan antara Kugy dan Keenan tak terhindarkan. Keenan tidak melihat Kugy aneh, dia justru larut dalam dunia dongeng Kugy dan menuangkan dongeng-dongeng Kugy ke dalam lukisan.
Kugy dan Keenan diam-diam saling jatuh cinta namun tak bisa saling mengutarakan perasaan. Mereka akhirnya menempuh jalan sendiri-sendiri, lalu saling menjauh karena tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Geng yang semula kompak kemudian terpecah. Kugy tenggelam dengan kegiatannya sebagai guru di Sakola Alit. Sedang Keenan nekat meninggalkan rumah untuk kembali meraih cita-cita menjadi pelukis.
Keenan memutuskan pergi ke rumah sekaligus galeri Pak Wayan (Tyo Pakusadewo) di Bali dan menemukan kembali semangatnya untuk melukis karena dorongan Luhde (Elyzia Mulachela), keponakan Pak Wayan.
Kugy juga mulai berkarir di biro iklan "AdVocaDo" dan akhirnya menjalin kasih dengan bosnya, Remi (Reza Rahadian).
Meski terpisah keduanya berharap suatu saat takdir mempertemukan mereka kembali.
"Hai 'Nus, manusia satu itu muncul lagi. Apakabar ya dia? Tunggu perahu kertasku ya.. cerita ini belum usai...," demikian tulisan Kugy.
Perahu kertas Kugy belum berhenti berlayar dan dia percaya, sebagaimana semua aliran... suatu saat dia akan ke laut.