Severity: Notice
Message: Undefined variable: url_twitter
Filename: views/read_view.php
Line Number: 93
Jemari tangan Taufik Windu Asmoro (30) menelusuri deretan titik-titik timbul pada permukaan kertas. Dari mulutnya terdengar lirih lantunan ayat suci Al Quran, Jumat (3/8). Hal serupa dilakukan Mulyanto (38) yang duduk di sampingnya.
Delapan tahun lalu, Taufik tidak pernah membayangkan dirinya bisa membaca Al Quran. Dulu ia hanya sekadar mendengarkan suara orang bertadarus. Saat itu, harga Al Quran dalam huruf braille untuk para tunanetra masih sangat mahal. Satu juz Al Quran harganya Rp 50.000. Total ada 30 juz. ”Sejak ada sumbangan Al Quran dari sebuah yayasan di Bandung, hampir setiap siswa penyandang tunanetra di Solo kini punya Al Quran braille,” kata Taufik.
Para tunanetra, menurut Taufik, rata-rata terlambat mempelajari Al Quran, yakni ketika usia sudah mencapai belasan bahkan di atas 20 tahun. Ini karena keterbatasan penyebaran informasi sehingga orangtua para tunanetra tidak tahu ke mana harus membawa anaknya belajar kitab suci.
”Dulu, jangankan untuk belajar Al Quran, untuk sekolah formal saja orangtua tidak tahu harus kemana. Kini, pengetahuan mereka sudah meningkat. Sudah lebih banyak tunanetra yang bersekolah meski masih ada orangtua yang malu sehingga memilih menyembunyikan anaknya yang tunanetra,” kata Taufik.
Taufik dan Mulyanto adalah dua di antara lima pengajar Al Quran braille di Yayasan Al Ikhwan di Kampung Mangkuyudan, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, Jawa Tengah. Yayasan yang didirikan tahun 1983 ini bertujuan memberantas buta huruf Arab braille.
Keduanya adalah penyandang lemah penglihatan (low vision). Taufik terkena demam tinggi hingga kejang-kejang saat masih bayi yang merenggut penglihatannya. Mulyanto kehilangan penglihatan di usia 5 tahun. Saat tengah bermain dengan teman-temannya di sungai, segenggam pasir mengenai matanya dan perlahan membuatnya kehilangan kemampuan melihat. ”Saya baru belajar Al Quran umur 14 tahun karena baru masuk SLB pada umur segitu. Sejak kehilangan penglihatan, saya malah tidak dimasukkan sekolah. Baru setelah agak besar saya ke yayasan yang mengajarkan huruf braille dan keterampilan,” ungkap Mulyanto.
Sekitar 15-20 siswa yang belajar Al Quran huruf braille di Yayasan Al Ikhwan berusia 15 tahun hingga 20 tahun. Mereka dibagi dalam kelompok-kelompok sesuai pencapaiannya. Pengajar akan memberi materi mengenai huruf hijaiyyah dalam huruf braille serta aturan membaca (tajwid). Setiap siswa membaca Al Quran di hadapan pengajar untuk dilihat apakah sudah membaca dengan benar.
Syarat belajar membaca Al Quran braille adalah menguasai pembacaan huruf latin braille terlebih dulu. Pendidikan Al Quran braille diberikan setiap bulan mulai minggu pertama hingga ketiga. Minggu keempat digunakan untuk pengajian orangtua.
Selepas maghrib juga digelar sema’an atau mendengarkan pembacaan Al Quran oleh hafidz atau penghafal Al Quran. Pendengar mencocokkannya dengan Al Quran braille. Peserta taman pendidikan Al Quran adalah siswa Sekolah Luar Biasa Yayasan Kesejahteraan Anak-anak Buta Surakarta.
Pada awalnya Al Quran braille diterakan di atas plastik sehingga menjadi awet. Namun, saat telapak tangan pembacanya berkeringat, ia akan kesulitan membaca. ”Kami harus membedaki tangan agar bisa membaca huruf di atas plastik,” kata Taufik.
Al Quran braille yang diterakan di atas kertas bolak-balik juga memiliki kekurangan, yakni tekstur timbulnya bisa hilang jika terlalu sering ditumpuk dengan buku atau barang lain. Pada bagian belakang terdapat terjemahan ayat dalam bahasa Indonesia.
Untuk membiayai kegiatan ini, termasuk aktivitas pemberdayaan lainnya bagi tunanetra, pegiat yayasan melakukan berbagai kegiatan, seperti membuka jasa pijat, toko kelontong, dan air beroksigen.
Yayasan yang mendapat wakaf dua hektar lahan di Mojogedang, Karanganyar, ini tengah membangun perumahan bagi tunanetra. Di perkampungan yang rencananya dikhususkan bagi para tunanetra ini, mereka akan diberi keterampilan bidang peternakan, pertanian, dan bidang lainnya.(SRI REJEKI)