JAKARTA, KOMPAS.com--Majalah Economist edisi online awal bulan ini, menawarkan judul menggelitik begini, "Apakah partai politik tengah berada di ujung jalan?"
Hanya butuh Rp225 ribu untuk menjadi anggota Partai Sosialis Prancis, sementara iuran tahunan Partai Konservatif Inggris hanja Rp360 ribu. Tapi, dengan iuran semurah itu pun orang Eropa dan Amerika tetap berpaling dari parpol.
Keanggotaan parpol di Eropa terus menyusut sejak 1980-an dan yang terbesar terjadi mulai dekade pertama abad ini.
Hingga 2008, keanggotaan parpol di Jerman jatuh 20 persen, Swedia 27 persen, sedangkan Inggris 36%.
Memang tak semua negara mengalami depopularisasi. Di Austria malah naik, bahkan di Italia orang-orang melirik lagi parpol, berkat tarikan parpol baru seperti Liga Utara.
Di Amerika, jumlah orang non partai yang menyebut diri "independen" terus naik, sebaliknya mereka yang aktif di parpol menyusut.
Tahun lalu, jumlah orang independen ini mencapai 40 persen dari total populasi. Mei lalu bahkan merangsek menjadi 44 persen.
Meragukan politisi
Ada banyak alasan yang membuat orang ogah menjadi orang partai.
"Dalam dunia yang terglobalisasi dan rumit, kian banyak pemilik hak suara yang meragukan kemampuan politisi dalam menyelesaikan masalah. Ketika individualisme terus menguat, maka kerumuman politik menjadi melemah," tulis Economist.
Media dan teknologi turut mempercepat pelemahan itu. 40 tahun lalu parpol masih bisa mengandalkan media, tapi kini internet membuat politik semakin berwarna.
Melaui internet, banyak pemilih yang merasa telah menemukan tempat melalui mana suaranya didengar lebih ketimbang mengandalkan wadah parpol.
Jadinya, mengutip Russell Dalton dari Universitas California di Irvine, porpol pun bagai barang kuno.
Sebaliknya blog membuat orang mendapatkan forum yang lebih menarik ketimbang rapat politik. Internet juga menekan biaya perkenalan politik.
Perkembangan baru lainnya adalah lahirnyaa jenis pemilih baru yang disebut Dalton sebagai “apartisan”.
"Apartisan" berbeda dari massa mengambang atau swing voter.
"Mereka muda, terdidik, dan memilih sama aktifnya dengan kaum partisan. Mereka juga bisa kanan, bisa kiri. Mereka tak tertarik parpol menjelaskan -program parpol ke mereka. Sebaliknya, mereka berusaha mendorong parpol untuk mengadopsi pandangan mereka mengenai hal-hal yang menjadi kepedulian mereka," tulis The Economist.
Apartisan kini merasuki masyarakat politik AS, ditandai oleh merebaknya fenomena "tea party."
Tetap mencengkeram
Pun juga dengan Eropa. Di Jerman saja jumlah apartisan mencapai seperlima pemilik hak suara.
Tapi cengkeraman parpol-parpol masih tetap kuat. Buktinya, Americans Elect yang mencari calon presiden altenatif di luar usungan dua parpol dominan di AS, ambruk.
Pun di Eropa. Parpol-parpol baru memang sukses pada beberapa pemilu terakhir, namun mereka gagal berkuasa.
Sebaliknya, di sejumlah tempat, parpol lama malah kembali berjaya melalui apa yang disebut Ingrid van Biezen dari Universitas Leiden, Belanda, sebagai repolitisasi parpol.
Contohnya Yunani di mana Syriza yang sebelumnya masuk aliansi kiri keluar menjadi parpol yang antipengetatan anggaran.
Cerai pemilih dari parpolnya tampak akan terus berlanjut, sementara para pemimpin politik tak mempedulikannya.
Mengutip Paul Whiteley dari Universitas Essex, kini kian banyak saja orang yang menjauh dari parpol.
Ilustrasinya begini. Pada 1950-an masih banyak orang Inggris yang tahu siapa-siapa saja anggota parpol, tapi kini mereka hampir tidak peduli itu.
Van Biezen menilai, ketika parpol meredup maka kehadiran politisi selebritis dan dinasti-dinasti politik menjadi tak terhindarkan lagi. Lalu, fragmentasi politik seperti ini membuat pemerintahan lebih sulit dibentuk.
Sejarah telah dikotori lembaga-lembaga dominan yang kentara menggerogoti. Dan proses ini kian dekat. Jika ini terjadi maka lanskap politik Barat akan tiba-tiba menjadi sangat asing.
*disadur dari The Economist (4/8)