Rabu, 19 Juni 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 19 Juni 2013 | 19:46 WIB
Puisi-puisi Lailatul Kiptiyah
Senin, 6 Agustus 2012 | 21:14 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Klinik Foto Kompas
Ilustrasi

Terang Bulan dan Kembang Kesepian

ada sepi dan luka yang kuingin terbaca:

olehmu- bulan yang menyimpan seri kelanggengan
di mataku- mata kelopak kembang ungu
yang mekar liar di antara gemertap batu

oh, betapa di sini aku berpilin dengan akar ulin
tergeriapkan sepi nun dingin
menakjubi segugus bintang terandai angin
menjatuhkan cahaya ke tingkaptingkap labirin

di mataku- malam terlihat seperti pemakaman tua
hampa- tersingkir dari kitab zikir dan doa
kecuali kau, yang  pada rumahrumah dengan cahaya paling lemah
takdirmu merambah, membagi kerinduan merah

maka dari itu kusebut kau ksatria langit berwajah cahaya
penggenap harapku di waktu tersulit menempuh baka  

oh, di malam yang membuatku tak henti tengadah
biarlah kuresapi kesepian ini
jadilah oh  jadilah
keheningan terindah

dan semoga kau- bulan pewujud seri kesucian
tidak berlanjut menaruh sangka padaku:
bahwa akulah  si kembang yang tumbuh dari akar-akar karma
kuncup yang rekah dari berkecup-kecup dosa
 
janganlah oh janganlah
kau turut menoreh luka
di kelopak sakitku yang telah leleh di tinggal aroma

maka sebelum kau mengemas cahaya
memintas batas akhir gulita
ajarlah aku oh ajarlah:

biarlah embun tak lagi sedia membasuh petal putikku yang layu nun kering
biarlah lebah dan kupukupu jadi sekutu berpaling
 
asalkan akulah yang nantinya memenangi kesepian ini
menyenangi lukaluka ini
menjadikannya takdir yang indah
memaknainya sebagai hakekat tabah

2011

Mata Senja

dan hingga kini
aku tak bisa melupa
seperti itu tatapmu
melepasku kelana

seperti mata senja
di ujung terjauh pantai
seperti lambaian rindu
yang tak mampu kugapai

begitulah, hingga ke lubuklubuk kegetiran
kucari  keberadaanmu
dan di setiap akhir penanggalan
kukitari kembali jalan menujumu

namun kau seperti hilang:
lesap- bagai desir pasir diserap gelombang
senyap- bagai bulir hujan dihisap akarakar kembang

hingga datang segerumbul
kunangkunang menyembul
dari telaga yang hening
memegungkan air, membasuh keruh kening

kembali di akhir penanggalan
kutelusuri jejakmu
sungguh, untuk menemu wujudmu
harus membuatku berputarputar
menakar seberapa luas daratan sabar

melewati tumbuh benih matahari
melucuti peluh perih sekujur diri
agar meluruh duri dengki, daundaun benci
ke musim yang lebih tenang, ke duka yang lebih lapang

begitulah, dan bukankah memang begitu hendaknya
kita mengajar diri

seperti kini,

menghikmat matamu
mengingatkanku kepada waktu
yang telah hilang
satusatu
yang takkan kembali
menjawab panggilan sesalku

serupa bulubulu yang lepas
dari sayapsayap terkibas
sayap yang kau dekap dalam doa perih
siap menjelma megamega putih
kerudung bagi langit biru jernih

maka ajarlah aku cara melara, mengembarai sabda
serupa ketabahanmu yang sempurna:
cahaya bagi hitam luka

Jakarta, Oktober-Desember 2011

Tembang Ilalang

akhirnya sampailah aku di senja itu
menemuimu
menggemakan tembang
rinduku padang ilalang

dan di penghujung November itu
pusaran angin meriuh
dari arah lembah yang jauh
mengantar hujan yang tiba-tiba derai
sejumput hinggap pada pipiku

menggelincirkan sedan
oh, seanggun embun
mengecup batang-batangmu yang merimbun

lalu sampailah aku di pagi kini
biarkan kutitipkan lagi tembang
padamu ilalang
dalam kabut, dalam kenang

2011-2012

Biodata:

Lailatul Kiptiyah, lahir dan besar di Blitar. Menulis puisi, cerpen, dan menikmati karya sastra. Saat ini bekerja di Jakarta.
 

 

Editor :
Jodhi Yudono