Rabu, 19 Juni 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 19 Juni 2013 | 21:29 WIB
Maramowe Anak Cucu Opokoro
Minggu, 5 Agustus 2012 | 12:42 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO Anakritus (kiri) dan Yohannes berdiskusi disela-sela memahat patung ukiran dalam "Pekan Ragam Budaya Papua: Orang Kamoro" di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (1/8/2012). Pameran yang menampilkan keunikan estetika seni kriya Kamoro ini akan berlangsung hingga Minggu (5/8/2012).

Oleh Aryo Wisanggeni G

Patung pahatan kayu dan berbagai alat hidup suku Kamoro, Papua, dipamerkan dalam ”Pekan Budaya Papua: Kamoro” di Bentara Budaya Jakarta, 31 Juli-5 Agustus 2012. Masa lalu orang Kamoro dihadirkan untuk mengenang sekaligus menghidupi seni ukir mereka yang kian ditinggalkan. 

Gelondongan kayu sepanjang 1,5 meter itu bertalu-talu oleh hantaman kapak Anakpitus Teko (34). Bentukan kasar Wamawe, bentuk figuratif dari pahatan kayu khas Kamoro, mulai jelas. Bobokan kapak membentuk tangan, lengan, paha, dan betis patung itu. Dari sela-sela lengan dan paha patung itu, tangan Anakpitus memainkan kapak, merapikan sisi dalam gelondongan berdiameter 0,4 meter.

Bunyi kapak menghantam dinding dalam gelondongan kayu itu bersahutan dengan bunyi eme, gendang tifa khas Komoro, yang dimainkan Joseph Ukapoka dan Sabinus Kaokayahe. Polycharpus Atahapoka dan Herman Kiripi yang duduk melingkari Wamawe garapan Anakpitus menggumamkan syair berbahasa Kamoro, nyanyian yang kerap berujung pekikan keras membuang napas.

Tarian mereka menambah sensasi bunyi lain, gemeresik taori, daun sagu kering yang menjadi busana para Maramowe, para pengukir Kamoro. ”Nyanyian itu untuk menghadirkan arwah para leluhur agar hadir dalam prosesi memahat. Nyanyian membuat para pemahat tidak bosan atau mengantuk,” kata Herman di sela nyanyiannya.

Dunia bawah

Ukiran Kamoro yang pada masa lalu memiliki fungsi ritual dibalut beraneka versi mitologi tentang relasi ukiran kayu serta orang Kamoro, dan salah satu versi mitologi itu dikisahkan Thimotius Samin (62), si kepala rombongan.

Thimotius menuturkan, Opokoro terpukau melihat rumah adat dunia bawah yang berhias Mbitoro, sebuah kayu ukiran setinggi 5 meter atau lebih yang diikatkan di tiang rumah adat para orang dunia bawah. Akhirnya, Opokoro harus kembali ke alam wadak karena sejumlah saudara lelakinya menyelam ke dunia lain setelah melihat noken Opokoro tertinggal di pohon di tengah sungai.

”Mimar, sang Muanuru dunia bawah, mengizinkan Opokoro dan saudaranya kembali ke alam dunia atas. Opokoro, sang Muanuru dunia atas, kembali ke alam manusia membawa berbagai ritual dan perayaan serta keahlian mengukir kayu Muanuru dunia bawah. Opokoro menggelar pesta ritual di rumah adat Kamoro, mendirikan Mbitoro, patung sakral di rumah adat,” ujar Thimotius.

Sejak saat itu, setiap rumah adat selalu dilengkapi Mbitoro, yang diukir oleh para maramowe, pewaris keahlian mengukir Opokoro. ”Tanpa Mbitoro, sebuah rumah bukanlah sebuah rumah adat. Mengukir, bagi kami, seperti mencatat segala hal tentang kehidupan kami. Dalam setiap Mbitoro terukir seluruh isi alam kehidupan orang Kamoro. Poros hidup orang Kamoro, seperti sungai, sampan, dan sagu, semua ada dalam Mbitoro,” ujar Thimotius.

Kerinduan

Pekan budaya Komoro yang diselenggarakan Papua Center Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia menghadirkan apa yang disebut Thimotius sebagai ”mencatat dengan ukiran”. Pameran menyuguhkan sejumlah perkakas tradisional, baik perkakas rumah tangga maupun perlengkapan ritual, dari kayu berukir indah.

Mulai dari wemawe (ukiran figuratif), pokai (tongkat upacara suci), eme (gendang), hingga mbitoro, torupa (dayung), dan anyaman mbikao (topeng upacara pemanggilan arwah) benar-benar menyuguhkan kepiawaian para pewaris Opokoro. Sejumlah kajian antropologis kerap membandingkan suku Kamoro dengan suku Asmat, dua suku berbeda yang sama-sama ahli mengukir kayu. Berbagai ukiran yang dipamerkan menegaskan para maramowe memiliki karakter ukiran yang sama sekali berbeda dari anak-cucu Fumeripits, para pengukir suku Asmat.

Antropolog Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Muridan Satrio Widjojo, menyebutkan, beragam versi mitologi ukiran orang Kamoro selalu merujuk pada alam gaib ”dunia bawah”, seperti mitologi yang dituturkan Thimotius.

”Segala ukiran orang Kamoro pun melambangkan kerinduan orang Kamoro akan alam gaib ’dunia bawah’. ’Dunia bawah’ selalu dianggap sebagai sumber segala kekuatan, kemakmuran, dan kesuburan bagi orang Kamoro. Semua pengetahuan dan kemajuan bersumber dari dunia bawah,” kata Muridan.

Kerindungan akan ”dunia bawah” dalam patung ukiran Kamoro, Muridan melanjutkan, sebenarnya merupakan kerinduan orang Kamoro terhadap kemakmuran, kesejahteraan, dan kesuburan.

Dibandingkan dengan suku-suku lain di Papua, Kamoro merupakan salah satu suku yang paling terguncang perubahan akibat kehadiran modernisasi di Papua. Bagaimana tidak, masyarakat peramu Kamoro bersentuhan dengan aktivitas pertambangan emas terbuka terbesar di dunia. Ampas batuan sisa penambangan emas mendangkalkan sungai-sungai poros kehidupan orang Kamoro sehingga membuat sampan kandas.

Tambang emas membawa banyak kucuran uang bagi suku Kamoro, salah satu dari tujuh suku penerima Dana Kemitraan Freeport bagi Pengembangan Masyarakat yang nilainya sebesar 1 persen dari pendapatan PT Freeport Indonesia. Kucuran Dana Kemitraan alias Dana Satu Persen itu justru menggelisahkan Thimotius.

Pekan Ragam Budaya Papua mengantarkan pemahaman baru tentang Papua bahwa betapa kaya ragam budaya Papua dan kegelisahan apakah kita akan mendapatinya dalam satu generasi mendatang.

 

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono